Sangdoo, Let’s Go to School (2003)


Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Judul yang aneh untuk sebuah film.

Film ini…

Mmh… gimana ya ngomongnya? 3 bintang itu untuk overall, 2 bintang untuk beberapa adegan yang terdiri atas percakapan yang kelewat panjang, sehingga membuat jalan cerita terlalu bertele-tele juga 2 bintang untuk aktor-aktris pendukung. Ups, 4 bintang untuk pemeran Bori, si anak kecil. Oiya, 2 bintang juga untuk ending yang ga jelas.

Daaan… untuk akting Bi (Rain — salah satu aktor muda Korea yang sekaligus juga adalah penyanyi), tokoh utama di film ini, saya ga ragu untuk kasi 5 bintang plus plus ^_^

Bi (Rain) bermain dengan sangat prima dan JAAUUHH lebih bagus dibanding film “Full House” yang juga dibintanginya. Hal ini bisa dilihat dari kompleksnya karakter peran Sang-doo yang harus dimainkannya, dan Bi dapat memerankannya dengan sangat baik.

Lagu-lagu OST film ini juga enak (terutama ini–> http://www.youtube.com/watch?v=deEpt28ZRSc) dan beberapa potongan adegan bisa disimak di sini –> http://www.youtube.com/results?search_type=search_videos&search_query=Sangdoo

Mm… Saya tidak ingat kapan terakhir menangis sewaktu nonton film. Tapi film ini sukses membuat air mata saya berderai-derai di beberapa adegan **ehm, apa gw lagi pms ya jadi sentimentil berat??**

Kalau punya anak yang sakit keras, gimana rasanya?

Saya belum punya anak jadi belum tau persis gimana perasaan orang tua ketika anaknya sakit. Lewat akting Rain, saya bisa melihat dan merasakan hancurnya hati orang tua ketika harus mencukur rambut anaknya demi mencegah anaknya stres melihat rambut rontok akibat kemoterapi. Dalam salah satu adegan, Sang-doo harus mencukur kepala Bori, putrinya yang sakit parah sehingga menyebabkan rambut rontok dalam jumlah mengerikan. Selama rambut Bori dicukur, Sang-doo meminta Bori menyanyi dan selama adegan tersebut berlangsung, air mata saya menetes bersama aliran air mata Sang-doo…

*sigh…

Film ini bukan film luar biasa, bukan film keren bermuatan intelektual yang membuat para penonton terinspirasi untuk melakukan eksperimen demi mengubah dunia. Apalagi film Korea, kebanyakan tema yang diangkat adalah kehidupan sehari-hari, malah sebagian terlalu menye-menye dan bikin sebel nontonnya.

Entah kenapa, film ini meninggalkan kesan mendalam buat saya.

Saya terinspirasi oleh Sang-doo.

Terinspirasi dengan caranya mencintai. Mencintai seseorang sampai subjek yang dicintai tidak sanggup berkata-kata. Mencintai Eun-Hwan. Melakukan lebih dari yang seharusnya. Mencintai Bori (yang ternyata bukan anak kandungnya), dan memilih berkata, “How can I abandon my child for a woman?” — sekalipun Sang-doo pernah berkata, Eun-Hwan dan Bori adalah 2 orang terpenting dalam hidupnya.

***klo sampe ada beneran orang kayak gitu… adooww.. meriang deh gw!!

Masalah dalam film ini sedemikian kompleks. Hmm… darimana mulai ceritanya yah?? Gini aja, klo ada yang berminat, sinopsis lengkap bisa diintip di sini –> http://www.spcnet.tv/reviews/review.php?rID=939 Tapi jangan serius-serius amat yah liatnya, soalnya ada bocoran jalan ceritanya. Kan ga seru klo uda tau semua. Duh maap ya, saya belum mahir membuat review. Bukannya nge-review dengan objektif malah ceritain kesan-pesan pribadi setelah nonton hehehe…

Shenzhen, 28 Agustus 2006 — *ambil tisu lagi…