Movement Based Learning

Sejak punya anak, saya makin tertarik dengan seminar atau kelas yang berhubungan dengan anak.  Saya ikuti parenting seminar di Gereja.  Ikut juga seminar braingym di sekolah anak.   Masih nyimak juga artikel-artikel tentang anak yang bertebaran di internet.  Ga semua diikuti sih, kira-kira yang seru aja.

Suatu hari saya mendapatkan ajakan via Wa untuk mengikuti kelas Movement Based Learning (MBL).  Kelas berdurasi 8 jam tersebut menarik saya sejak lama, padahal waktu itu sebenarnya belum kebayang isi kelasnya seperti apa.  Saya tertarik karena mendengar preview dari instrukturnya, Ibu Winawati, bagaimana gerakan-gerakan sederhana bisa membantu menstimulai perkembangan otak anak.

Jadilah hari Jumat, 19 Februari saya meluangkan waktu seharian untuk mengikuti kelas ini.  Di kelas MBL saya belajar gimana fungsi otak dan apa hubungannya terhadap masa tumbuh kembang anak.  Masa tumbuh kembang ini meliputi masa bayi – balita dan seterusnya, matang secara fisik dan emosi.  Siapa sih yang ga pengen anaknya pintar dan matang secara emosional?  Jangan sampe uda gede anak bawaannya galau melulu lah ya hehehe.  Mending dibikin sibuk aja supaya pikirannya ga macem-macem (lah ini sih maksud emaknya aja supaya anaknya ga ngerecokin emaknya huahahaha).  Lalu dijelasin bahwa ada 3 dimensi penting, yaitu dimensi fokus, pemusatan (centering) dan lateralitas, dan gimana pentingnya stimulasi terhadap 3 dimensi tersebut sehingga semakin banyak neuron yang terhubung dalam otak anak.  Keren kan bahasanya hahaha… #kayakngertiajagw

Kelas MBL ini pada dasarnya berpedoman pada buku Kegiatan Menyusun Balok: Membangun Fondasi Tumbuh Kembang Anak yang ditulis oleh Cecilia Koester.  Awalnya kelas ini ditujukan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.  Namun kelas ini pun bisa digunakan secara umum.  Jika untuk anak berkebutuhan khusus saja tergolong sangat baik, tentu ga masalah untuk anak biasa ya.  Buku tersebut memberikan panduan tentang beberapa pola gerakan dasar yang bermanfaat pada masa tumbuh kembang.  Penerapan yang teratur dari gerakan-gerakan tersebut bisa mempermudah dalam mencapai ketrampilan dasar misalnya berjalan, berbicara atau kemampuan fokus/daya konsentrasi.  Bayangin… coba saya tau kelas ini pas hamil hehehe, kan bisa langsung diterapkan sejak kelahiran anak pertama kan?? #alesan

Karena sebelumnya saya pernah ikut seminar BrainGym di sekolah, beberapa penjelasan di kelas tersebut tidak terasa asing.  Misalnya bentuk angka 8 tidur (infinity) yang banyak diterapkan sebagai pola gerakan.  Kelas MBL dimulai dengan mencoba membuat infinity dengan telapak tangan di permukaan yang kasar.  Kegiatan yang sederhana, namun ternyata mampu berkontribusi dalam menjernihkan pikiran.  Jadi buat mereka yang sedang berkutat dengan kegiatan tulis menulis panjang, misalnya tugas paper/thesis, bisa dicoba trik ini.  Simple tapi berguna banget. Eh, kalo lagi galau, bisa ga ya??

Dari 3 dimensi yang dijelaskan tersebut, jika kita sudah memahami dengan baik, maka bisa ketauan keadaan seorang anak, kira-kira dalam dimensi yang mana ia masih perlu perbaikan.  Dimensi fokus adalah dimensi kecerdasan mengarahkan perhatian.  Di sinilah hal partisipasi terjadi.  Jadi, jika seorang anak masih malu berpartisipasi dalam suatu kegiatan, stimulasi di titik ini perlu dicoba.  Lalu dimensi kedua, dimensi pemusatan (Centering) adalah dimensi kecerdasan mengelola emosi.  Seorang anak yang sering emosi tanpa alasan, tantrum ga jelas, perlu diberikan stimulasi lebih konsisten di bagian ini.  Lalu dimensi ketiga, yaitu dimensi lateralitas, adalah dimensi kecerdasan mengolah informasi.  Jadi anak-anak yang sudah lebih besar biasanya sudah di tahap ini, karena sudah mulai menyimpan informasi lebih banyak di kepala.

Untuk menstimulasi 3 dimensi otak tersebut, ada 8 cara/teknik sederhana yang direkomendasikan.  Mulai dari Spinal Walking, Navel Radiation, memanjangkan otot kaki, mengaktifkan batang tubuh, tepuk telinga, mengetuk tulang tengkorak dan mengaktifkan mata.  Kalo baca bukunya doang sih dijamin ga seru.  Baru terasa seru ketika waktunya mencoba ke sesama peserta.  Karena praktek, saya bisa tau kalo salah, lalu bisa diperbaiki yang benernya gimana.  Hasilnya juga bisa langsung terasa.  Saya makin ga sabar untuk mencobanya pada anak-anak di rumah nanti!

Anyway, saya mulai rutin seminggu ini menerapkan memanjangkan otot kaki ke anak-anak tiap malam.  Si mbak di rumah juga sudah saya ajarin gimana melakukannya sehingga mereka bisa melakukannya ketika saya tidak ada di rumah.  Kita lihat ya hasilnya gimana.  Semoga kegiatan-kegiatan ini membantu anak sehingga pas waktu masuk SD, anaknya lebih pinter dan emaknya bisa less-stressed hahahaha #maksudtersembunyi

Btw saya baru dapat kabar, akan ada kelas Braingym lagi nanti pada akhir Maret.  Jika ada yang berminat ikutan, japri ya, nanti saya kasitau informasinya.

Segini dulu, mulai ngantuk nih…

 

Jatinegara, 23 Februari 2016 –

 

Loneliness. Do you?

Kalau dulu membaca cerita orang yang kesepian, saya sering heran, kenapa bisa kesepian?  Bukannya di sekitar kita selalu banyak orang?  Bukankah ada teman?

Tapi memasuki jaman di mana justru sosmed bertebaran, ngobrol tinggal ketik, di situlah saya justru lebih sering merasa kesepian.  Lalu mengerti, oh pantes ya banyak orang bisa depresi akibat kesepian.  Perasaannya ga enak banget, sungguh menyiksa.

Sosmed yang mustinya bisa jadi penghubung antara teman, sejujurnya terkadang bikin saya merasa sedih.  Karena di balik keceriaan yang tampil dalam foto itu, saya tau, saya tidak ada di sana, saya cuma bisa melihat foto tapi tidak merasakan keceriaan itu.

Pagi ini waktu baca-baca artikel, saya membaca 1 artikel soal kesepian.  I read, read and read.  I want to put them in mind, so when I feel lonely, I know what to do and how to be strong to overcome it. I keep reading and suddenly all the good things flashed into my mind.

I am grateful for Nathan and Jenna.  For when I am lonely, they remind me that being a mother is a wonderful experience, a noble task, an honor to love, to nurture and to be their living example.  As there is no perfect child, there is no perfect parent.

When I was battling with a memory from the past, a friend told me about 3 questions which I need to ask myself every time it bothered.  The 3 questions are:

  1. Could you let go?
  2. Would you let go?
  3. When?

She told me that those 3 questions will help me to recover until one day it is no longer bothering me anymore.   And yes, I repeat those 3 questions when loneliness bothers.  Could you let go?  Yes.  Would you let go?  Of course.  When?  RIGHT NOW🙂

I feel so much better then ^_^

If any of you are interested in reading what I read this morning, you can find it here and here on how to battle loneliness and  here.

Have a blessed week!

 

 

Jatinegara, 24 November 2015 – It is OK to be alone.  Just like the sun is alone and he is keep shining every morning  — anonymous

#TOTM November: ketika anak batuk

Hari Minggu, 15 November 2015 dilewati dengan “berkunjung” ke 2 IGD.

Jadi ceritanya, Jenna sudah pilek beberapa hari, lalu mulai batuk di Sabtu siang.  Masih keliatannya oke-oke aja, ikut kelas gym dan balet dengan ceria.  Belakangan ini saya emang bolak balik oles RC di dada, so far works fine.

Minggu siang batuk Jenna mulai makin parah.  Terkekeh-kekeh seperti kakek tua yang keselek minum dan asap rokok (gimana itu ya?).  Saya masih santai.  Oles 1 tetes Frankincense on the way home sepulang dari Gereja.  Setibanya di rumah, saya oles RC dan diffuse Eucalyptus Radiata, she slept well.  Bangun tidur, saya raba tubuhnya kok hangat, ternyata 38.5.  Saya oles Pepermint 1 drop di kaki, dalam 1 jam suhu tubuhnya turun ke 37.5.  Sejam berikutnya, normal di 36.5.  Tapi… sorenya kok makin parah.  Saya jadi ga pede, apa yang salah ya.  Biar hati tenang, saya bawa deh ke IGD deket rumah.  Sesampainya di IGD, dokter jaga bilang gpp, cuma diresepin Mucopect.

Baru sampe rumah, baru 1 suap makan malam, Jenna muntah dan mengeluh sakit perut.  Pegang perut sambil nangis-nangis.  Duh, saya jadi ragu, did I miss anything?  Saya observasi selama 1 jam, Jenna tertidur.  Terbangun lagi sambil menangis dan mengeluh sakit perut.

Biar hati tenang (secara mak nya uda ga sanggup ni kalo sampe begadang), mari deh ke IGD lagi.  Pilih yang jauhan dikit, secara ga enak hati kalo balik lagi ke IGD sebelumnya hihihi…

Dicek, ga ada apa-apa, laper nih kata dokter. —- YAELA??  hahahaha…

Sepertinya sakit tenggorokan maka malas menelan.  Gitu kata dokter.  Diresepin antibiotik ringan (Azomax) dan Rhinos Junior untuk pileknya.

Dari RS sampai rumah, Jenna tertidur pulas.  Saya oles Cough Blend di dada dan punggung.  Jenna tidur sampai pagi, bangun 2x untuk minum susu.  *laper niyee*

Dan paginya, Jenna bangun segar, ceria seperti semalam ga ada apa-apa…  *maknya urut-urut dada aja, bersyukur karena ga ada apa-apa, menatap obat yang kemaren dibeli sambil mikir, yah buat apa beli obat ya??*

Btw… Cough Blend ini oke banget, bisa dicoba untuk anak batuk.  Isinya: 15 tetes Raven, 15 tetes RC, 5 tetes Lemon, dan 10 tetes Peace Calming.  Taruh dalam 1 botol kosong.  Oles 1-2 tetes aja jika perlu.  Karena ada Raven, pelu dilute dengan minyak nabati ya.  Takut panas di kulit anak.

Moral of the story: jadi mak memang harus pede aja yah…

Jatinegara, 16 November 2015

Dari Pilates ke Yoga

Jika tulisan saya sebelumnya saya cerita soal keputusan saya ikut Pilates, tulisan kali ini mau cerita what yoga has done in my life.  Dulu sebelum menikah, saya rutin yoga di rumah, pake dvd Rainbow Mars.  Pengennya ikut kelas yoga beneran tapi waktu itu belum ketemu lokasi yang pas.  Pernah ikut kelas yoga di klub fitnes tapi entah kenapa rasanya ga cocok, gerakannya terasa pelaaaannn banget sampe saya ngantuk.q124w

Gara-gara sesi kelas Pilates saya berakhir, saya terpikir untuk ikutan kelas lain yang jaraknya lebih dekat dengan rumah.  Dari info teman, saya mendapatkan lokasi studio yoga yang ternyata lumayan dekat, 15-20 menit aja sampe.  Senang kan ^__^  Lalu saya mendaftar dan mulai ikut kelas Yoga rutin sejak Agustus tahun lalu.  Awalnya cuma 1x seminggu, tapi setelah beberapa bulan, saya tambah jadi total 2x seminggu, kalo pas sempet ya jadi 3x.  Yoga studio yang saya ikuti sifatnya rumahan, dan dikategorikan Power Yoga.  Kurang lebih artinya, gerakan yoga yang terlihat perlahan tapi sebenarnya dilakukan dengan power (tenaga).

Bener banget, Yang saya suka dari kelas Yoga ini, biar judulnya perlahan tapi keringetan deras mengalir.  Pelan tapi saya bisa merasakan otot-otot badan bergerak dan “kena sasaran”.

Contoh gerakan dasar Yoga seperti ini:

Yoga 2

Note.  Gambar di ambil dari sini

Gerakan Surya Namaskar A dan B adalah gerakan dasar yang pasti dilakukan setiap sesi pertemuan yoga.  Keliatannya gampang dan sederhana, kenyataannya bisa mengeluarkan keringat juga.  Dan ketika dilakukan dengan benar, otot tangan dan kaki ikut terlatih dengan baik.

Lalu, mengapa yoga?

Buat saya, yoga menjadi kebutuhan dengan alasan-alasan berikut:

1.   Yoga membuat saya menjadi lebih pelan.  Di tengah kegiatan sehari-hari di Jakarta yang serba cepat dan sepertinya tergesa-gesa, beryoga membuat saya belajar menikmati menit demi menit secara perlahan.  Sambil menikmati waktu, saya menikmati pergerakan otot yang terjadi dalam tubuh saya.

2. Yogam elatih konsentrasi dan fokus.  Ketika beryoga sambil mikirin macem-macem, rasanya sulit sekali menikmati gerakan yoga.  Jadi terasa kurang maksimal gitu.

3. Yoga menggerakan dan melatih otot-otot tersembunyi dalam tubuh saya.  Hasilnya, selain badan jadi lebih lentur dan fleksibel, otot pun kuat.  Makin berumur, punya badan lentur itu memberikan banyak keuntungan.  Ga cuma jadi lebih fit, tapi ga cepet pegel!  Kebiasan rutin yoga, bolos yoga malah bikin badan sakit loh.

4.  Rutin yoga membuat otot kaki jadi lebih kuat, dan lemak bagian paha dalam yang selama ini sulit terjangkau, terkikis dengan sendirinya.  Saya baru nyadar, orang yang rajin yoga biasanya punya kaki yang ramping dan keren.  Paling keliatan kalo pake legging, peratiin deh😀

5.  Bonus berikutnya selain otot yang terlatih (dalam kasus saya, terasa banget otot punggung bagian bawah), yoga melatih saya memiliki postur tubuh yang baik.  Apa yang telah saya pelajari di pilates, saya lanjutkan dalam yoga.

6. Yoga membuat saya tidur lebih enak.  Ini efek menyenangkan sehabis olah raga ya, bobo jadi lebih puleesss….

Pada akhirnya, berat badan yang stabil  adalah bonus tambahan dan bukan tujuan utama saya beryoga.  Ga nyangka kan, gerakannya terlihat sepele dan pelan, tapi bisa diandalkan untuk memberikan manfaat-manfaat tersebut di atas.

Sebagai referensi, terlampir pose-pose yoga sesuai level kemampuan:

yoga 3

Selama saya beryoga, saya ga ambisius untuk bisa menguasai pose-pose yang sulit.  Saya lebih memilih menguasai gerakan dasar dengan benar.  Nanti aja sejalan waktu, ketika badan saya siap, saya pasti bisa melakukan gerakan-gerakan yang sulit.

Buat yang belum pernah coba yoga, silakan browsing lokasi yoga terdekat dan nikmati waktu beryoga.  Lakukan dengan benar dan jangan dikejar waktu, pasti akan mendapat manfaat yang maksimal.

Namaste!

Jatinegara, 7 Juli 2015

Cooking demo oleh juri Masterchef Matteo, konseptor Kafe Pisa, Toscana, Luna Negra dll.

Orangnya kocak bgt 😄😄 ini demo masak tapi kayak nonton sitkom hihi…

Menu hari ini: risotto – at IES Church

View on Path