My Aceh Trip, 9-12 Maret 2005

ACEH TRIP, 9-12 Maret 2005

Foto2 dapat dilihat di:
http://asia.pg.photos.yahoo.com/ph/sinta_lucia/album?.dir=3add&.src=ph&store=&prodid=&.done=http%3a//asia.pg.photos.yahoo.com/ph//my_photos

Dear all,

Gw mendapatkan kesempatan berkunjung ke Aceh 9-12 Maret lalu. Buat yang pengen pengen tau gimana ceritanya, just enjoy my review below… It’s quite long actually, so please take your time and have your fave drinks with you ^_^

Senin sore, saat gw ngasi tutoring seperti biasa ke Chris and Scott, Pak Lew menawari gw untuk pergi ke Aceh untuk menjadi translator John Harwin, Principal Junior School SPH. Mendengar tawaran ke Aceh, hati gw melonjak girang, apalagi inget-inget waktu Januari lalu gw pun mendapatkan tawaran serupa ketika 24 dokter dari US dateng untuk volunteering di Aceh selama seminggu – tapi gw ga bisa bergabung karena ijin dari ortu ga keluar.

Selasa pagi, gw confirm ke Pak Lew kalo gw jadi join (My heartfelt thanks goes to Pak Lew for this unfogettable opportunity), berhubung ortu no comment which I intepret as their approval ^_^ (when I sms my mom about this, her reply was: “mau jadi cut nyak ching ya?”. Selasa siang tiket gw diconfirm dan sorenya briefing singkat.

Flight gw take off Rabu, yang menurut jadwal 6.20 am tapi kok rasanya jam 7 lewat baru terbang. Heran.  Anyway, sampe di Medan pun lebih cepet dari jadwal. Setelah transit 45 menit di Medan, pesawat lanjut terbang ke Aceh. Gw ga merasa kayak terbang di Indo, soalnya di pesawat banyak banget bule, jadi kayak terbang ke manaaa.. gituu hehehe…

Gw ga ada misi lain kecuali jadi translatornya John Harwin. Sedangkan John Harwin sendiri punya tujuan khusus ke Aceh, yaitu untuk mencari tau kebutuhan pendidikan apa khususnya pasca-tsunami. Berhubung misinya berbau pendidikan, tempat-tempat yang kita datengin selama di Aceh pun juga seputar pendidikan.

Btw, waktu mau turun pesawat, ada bule Amrik (bukan sok tau, soalnya waktu transit sempet kenalan) yang nyeletuk di belakang gw, “Follow your husband..” sambil nunjuk John.. Gw spontan bengong dan menatap tu cowo dengan wajah sewot.. Emang kurang jelas ya kalo muka bayi gw lebih cocok jadi cucu John daripada jadi istri??!!! 

Gw sampe Aceh 11.30 am dan setelah lunch, gw bersama tim mengunjungi salah satu kamp pengungsi di Lok Nga. Gw dan John ditemenin Blanche dan Lesley. Blanche adalah seorang perempuan berusia sekitar 40an (but I didn’t know she’s 40 as she looks so lively and young!!) dan Lesley adalah seorang Inggris yang akan tinggal di Aceh selama 2 bulan sebagai relawan untuk mengajar Bahasa Inggris. Ada sekitar 1000 orang pengungsi di tempat ini yang tersebar di tenda-tenda. Gw juga melihat ada tenda UN dan UNICEF di sana. Sebelum gw meninggalkan kamp, tim gw bertemu seorang tentara muda Perancis dari Medecins Sans Frontieres (MSF) France yang sedang mengawasi pemindahan air dari tangki ke penampungan.  Seperti pria Prancis pada umumnya, the French-man has a very polite and such a manner way to greet people ^_^ walo English-nya pas-pasan, tapi dia ramah sekali ^_^ Dia menawari kita untuk mampir ke tendanya untuk ngobrol lebih banyak lagi. Sayang, waktu kita ga banyak dan masih ada beberapa tempat yang harus dikunjungi, jadi kita pamit dulu..

Ga jauh dari kamp, gw visit SDN 2 Lok Nga. Dari sekolah itu, 4 guru meninggal dan jumlah murid yang tadinya sekitar 300 orang, setelah tsunami hanya tersisa 95 orang… Gw bertemu dengan Bp. Sulaiman, guru kelas 6. Untuk memperbaiki sebuah kelas, at least diperlukan sekitar 7 juta (kursi, bangku, meja, cat kelas dll) dan kalo se-sekolah itu ada 6 kelas, it means 6 x 7 jt = 42jt…

Setelah dari SDN 2, gw visit Tingkeum. Di sana Lesley dan Blanche telah mengajar sebuah permainan tepuk tangan dan pada hari itu ketrampilan tepuk tangan anak-anak akan diuji. Lesley telah menyiapkan hadiah bagi mereka 2 pasang yang bisa menunjukkan ketrampilan tepuk tangan dengan baik.

Di saat anak-anak bermain tepuk tangan bersama pasangannya, gw menyadari sesuatu. Anak-anak Aceh secara natural memiliki alis yang tebal dan indah. Mungkin karena panas yang menyengat, kulit mereka umumnya berwarna gelap. But I really admire their eyebrow, so thick and beautiful!! Anak-anak bermain tepuk tangan dan mata mereka bercahaya..  Dan mata anak-anak Aceh umumnya besar dan hitam… Dan ketika mereka bermain gembira, mata hitam yang besar itu bercahaya..

Hari kedua, Kamis pagi, John dan gw uda dijanjiin ketemu ama Diknas Banda Aceh. Jadi pagi itu, John, Samuel (Ground Manager-nya WH), Dennis dan gw meeting dengan Diknas Banda Aceh. Tujuan dari meeting ini adalah untuk mengetahui kebutuhan pendidikan pasca-tsunami dan apa yang bisa dibantu oleh SPH. Dennis Denow pun tertarik ikut meeting untuk mencari tau hal yang sama sehingga bisa mengkoordinasikan kebutuhan itu dengan tim NGO-nya di Amrik.

Bp. Ramli, Ka Diknas, menjelaskan bahwa total ada 3.446 orang jumlah guru negeri di Aceh dan tsunami menyebabkan 1006 orang guru hilang (tewas/hilang). Dari total murid yang hilang, paling banyak terkena adalah murid SD. Dari total sekitar 72.000-an, sekarang tinggal 45.000-an.

Gw speechless dengernya…

Dari Diknas, gw dan tim nemenin Samuel Soh meeting reguler kesehatan untuk semua NGO dan organisasi internasional lainnya di Aceh di Dinkes. Di meeting ini gw ngeliat banyak wajah-wajah asing dari berbagai organisasi internasional. Dari model UN, WHO dll, sampe organisasi yang gw ga pernah denger namanya, semua ada. Total ada 116 organisasi yang terlibat di Health Sector yang terdaftar di Aceh. Topik meeting kesehatan ini beragam, dari hospital sampe surveillance, reproductive health, psychosocial and mental health, medical supply, nutrition sampe informasi kesehatan umum. WHO memberikan update report keadaan Aceh terakhir dan gejala-gejala penyakit yang mungkin mewabah sehingga bisa cepet diantisipasi.

Walopun cuma dengerin sampe bosen (yah namanya juga cuma nemenin), ini adalah pengalaman menarik buat gw.  Hadir di tengah meeting yang dihadiri berbagai bangsa. Wah, keren hehehe… (wondering when I’ll be one them someday…)

Salah satu anggota team, Nani, pulang Jakarta sore ini. Uda beberapa hari ini dia ga enak badan. Panas, linu-linu dan tenggorokannya sakit. Dengan cuaca Aceh yang seperti ini, ga heran banyak yang sakit. Aceh sangat panas, udaranya sangat kering dan berdebu. Gw mengingatkan diri gw untuk minum air banyak-banyak supaya ga dehidrasi. Klo sampe dehidrasi, suhu badan bisa ikutan naik. Saking panasnya, coklat yang ditaro di tas pun meleleh. Gw taro coklat di kulkas, yang walaupun ga terlalu dingin, lumayan bisa membuat coklat kembali agak keras.

Setelah lunch, tim gw mampir ke Kerung Raya, Desa Neuheun. Ada sekitar 150 barak sedang dibangun sebagai tempat penampungan pengganti tenda. Yang bikin gw kaget luar biasa, satu barak itu harganya sekitar 200-300jt!!!  Gilaaa… gw sampe shock dengernya. Bayangin aja, barak cuma modal kayu gitu doang seharga satu rumah model Ubud di Karawaci!! Edaaannn… Pas gw denger 300 juta itu, otak gw langsung meng-kalkulasi dan bareng Dennis menghitung pake PDA. Paginya di Diknas Bp. Ramli bilang ada 402 kelas yang perlu dibangun lagi karena hancur akibat tsunami. Kalo aja satu kelas itu perlu biaya 15 juta, maka total 402 kelas perlu sekitar 6 milyar. Kalo 1 barak dijual ke NGO seharga at least 200jt (soalnya ada yang 300jt boowww!!), maka total 150 barak itu adalah 30 milyar!!! Dan kalo manajemennya bener, maka hasil penjualan barak itu bisa lebih dari cukup untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Aceh sekaligus mengirim guru dari luar Aceh dan mendidik guru lokal!! Speechless deh gw…

Sorenya, gw jalan-jalan ngiterin kampung ama Dennis Denow, si Zen Master hehehe. Soalnya ni orang unik pisan. Celetukannya yang sering nyeleneh biasa dilontarkan dengan ekspresi super serius. Pemandangan jalan-jalan ini menjadi lebih unik karena Dennis sering disorakin “halo mister.. halo mister..” dan Dennis pun menyempatkan diri jajan gorengan bakwan dan pisang hehehe…

Walopun acara padat, gw dan temen2 sempet2nya nyobain mie Aceh di RM. Razali ^_^ Ada mie rebus dan mie goreng. Mustinya mie goreng di mana-mana ga jauh berbeda ya, jadi gw pesen mie rebus. Ada 3 rasa: mau pake udang, daging sapi ato kepiting. Gw memilih topping daging sapi aja buat amannya. Gak lama kemudian, mie rebus topping sapi gw dateng. Penampakannya ‘seru’, merah menggoda dengan kuah agak kental. Gw uda wanti-wanti minta yang ga terlalu pedes. Repot juga kalo di rantau sakit perut, ntar malah terdampar di base-camp hehehe… Gw cicipi sedikit kuahnya… Lumayan, rasanya mirip-mirip mie celor di Palembang. Salut buat John dan Lesley yang bisa tahan ama rasanya yang lumayan pedes hehehe… Entah karena emang laper ato enak, John sanggup ngabisin sepiring mie rebus Aceh yang buat gw aja rasanya lumayan ngegigit ^_^

Hari Jumat, hari
ketiga gw di Aceh. Walopun tanggalan merah karena public holiday (Nyepi), kegiatan di basecamp berjalan seperti biasa. Paginya, sebelum ke Desa Batee Linteung, tim gw menyempatkan mampir ke tukang kayu karena Blanche mau bayar meja-kursi sebanyak 20 set untuk SDN 2 Lok Nga. Blanche berhasil mengumpulkan donasi dari Netherlands dan temen-temennya dan uang itu digunakan untuk “membuat” 1 kelas di Lok Nga (20 set meja kursi dan 1 buah lemari buku). Semua pesenan itu akan diantar besok harinya, Sabtu pk 9 langsung di Lok Nga. Pak Jamal, pemilik pertukangan itu memberikan diskon dan free of charge transportasi dari workshop ke Lok Nga ^_^ we were so happy…

Dari situ gw dan tim langsung menuju Desa Batee Linteung di Simpang Tiga, Peukan Bileu (duh, maaf ya klo ada salah spelling, bahasa Melayu nya susah oooyy…) Di sana kami menyempatkan diri mampir melihat SD Simpang Tiga dan SMPN 1 Simpang Tiga yang ga terkena tsunami sehingga keadaannya totally baik-baik aja. Sementara tim kesehatan bekerja melayani rakyat setempat, kami mampir ke warung kopi dan menikmati secangkir kopi sambil ngobrol dengan warga.

Saat kami melihat-lihat perkampungan, Blanche bertemu dengan seorang Ibu yang ternyata adalah guru di sebuah YPAC dan Blanche berjanji akan mampir siang itu. Jadi setelah dari Batee Linteung, kami mampir di YPAC SLB – CD, Banda Aceh. (**note: YPAC SLB: Yayasan Pembinaan Anak Cacat Sekolah Luar Biasa. CD itu adalah tingkat yang diasuh: Tuna Rungu Wicara, dan Tuna Rungu Grahita) Ibu Merry, ibu yang ditemui Blanche di jalanan itu, menyambut kami semua dengan hangat dan menjelaskan keadaan yang terjadi di YPAC. Ada 31 orang siswa YPAC yang kehilangan tempat tinggal karena tsunami. Gw dan tim juga dikasiliat hasil karya para siswa dan gw terkagum-kagum ngeliat payungnya… luar biasaaa… Setiap manik terjahit dengan rapi dan indah.

Dari YPAC, gw mampir liat SMPN 2. Berhubung waktunya sholat Jumat, suasana sangat sepi dan hampir tidak bertemu siapa-siapa. Menurut salah seorang penjaga yang kami temui di sana, dari 1600 siswa, setelah tsunami tersisa 800 orang… Di salah satu foto terlihat batas air tsunami yang masuk dalam sekolah…

Setelah lunch, gw ikut temenin Lesley ngajar English di Camp Refugee Cot Gue. Ada sekitar 200 pengungsi di kamp ini. Lesley mengajar bahasa Inggris khusus pemuda dan anak-anak bermain parasut bersama Nancy dan Ted. Gw sempet ketemu seorang Ibu dan baby-nya yang berusia 7 bulan, lagi bobo di gendongan gantung. Ayahnya meninggal karena tsunami..

Di tengah-tengah bermain, seorang anak perempuan, Suryana menangis karena ada temen yang jail. Gw datengin Suryana dan ngajak ngomong. Suryana tetep menangis tetapi terlihat dari ekpresi wajahnya ia mencoba mencerna apa yang gw bilang. Well, gw ga ngomongin apa-apa sih, sekedar memberi inspirasi hahahaha… (terlalu napsu jadi inspirator kali gw ya.. sampe anak kecil juga gw embat hahaha)

Intermezzo….
selain Blanche dan Lesley, ada sepasang suami istri relawan dari US. Nancy 58 th dan Ted 71 th. Baru menikah 4 bulang yang lalu. Hmm.. Cinta di usia senja. Hidup mereka habis untuk misi sosial. Nancy adalah part-timer nurse, pernah bertugas di Ghana dan tempat-tempat luar biasa lainnya. Juli nanti mereka mau tugas misi lain di Ukraina.

Malemnya, gw cobain nasi goreng Aceh di Simpang Surabaya with John, Blanche, Imran, Momo and Bp. Ginting. Kenapa pake nama Surabaya? Imran yang asli Aceh pun ga tau hehhee… Nasgor Aceh ga jauh berbeda dengan nasgor umumnya yang biasa gw temui di kota-kota lainnya, kecuali penyajiannya yang unik. Kalo biasanya makan nasgor, setelah pesen baru digoreng. Nah klo di Aceh, nasgor nya uda jadi, ditaro di tempat nasi gede model
tempat es balon gitu, trus di etalase ada berbagai lauk kayak di warung Padang. Kita bebas mau pilih lauk apa dan ada taburan ikan asin goreng tipis di atas nasi. Gw memilih pake daging kerbau yang disemur (gw baru tau daging kerbau enak juga disemur..)

Setelah itu, berhubung penasaran ama kopi Aceh, kita semua mampir di Terapung Kafe, cobain kopi Aceh, Ulee Kareng yang terkenal itu… Guess what??!! Each cup costs Rp. 1.500 only!! Comparing to Starbuck…??!! hmm..

Malam itu gw bobo agak larut karena seru mendengarkan cerita kehidupan Sam. Bagaimana setelah 14 tahun tinggal di Amrik, tiba-tiba pulang dan nongol di Aceh!! Very interesting. Sam adalah seorang keturunan Chinese-Medan yang sangat berjiwa sosial. Dengan pengalamannya bergabung di Greenpeace, tim SAR, dan relawan 11 September, Sam merupakan orang yang tepat untuk bertindak sebagai Ground Manager WH. Sam hadir di Aceh sejak 29 Desember dan Aceh adalah misi sosialnya yang pertama setelah ia menikah. I admire his big heart and learn a lot from his life-experience.

Sabtu siang sebelum pesawat take off, John and I took time to visit and take pictures of several memorable places. Momo ngajak kita liat kapal tanker PLN yang dengan santainya nongkrong di tengah kota. Momo said, the ship was used to be 5 km from the seashore but the tsunami tide brought the ship there.

As proverbs say, seeing is believing. That expression is absolutely true as no words are able to express what had happened and what I’ve seen.  It’s my first experience to Aceh but I will never forget the people, the destruction and the pain. I will never forget the volunteers who travelled to the far side of the world. Moreover, I will never forget the moment I stopped by the mass grave on my way to the airport. There was a lady who stopped by and although she just sat behind her steering-wheel, her tears were clearly can be seen from where I stood by… She just stopped there not more than 5 minutes, but the way she cried really captured my heart to understand how deep her pain and grief were…

On the flight home, all those people I met in Aceh were glancing around my mind. I admire them. Blanche with her joyfulness, Lesley with her gentle and caring heart, Nancy and Ted with their caring way to show people are worthy, all the doctors and nurses, counsellors, everyone there, and Sam of course… (Sam, my words are not enough to appreciate your hardwork…) I feel so tiny before them, those who has come to Aceh. None of their family were there, but they were willing to travel from far away to be in Aceh.

For those great people, I thank you so much. I strongly believe that it is not money that makes them great. Nor fame or their charisma, but their lovely heart, their golden character and their faithful service. You all has made life more beautiful… God bless you abundantly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s