Ketika pulang kampung…

Setiap longwiken tiba, ada 2 tempat yang ingin saya tuju untuk mendapatkan kesegaran dan inspirasi baru (taelaaa… sok seniman banget sih saya…), yaitu Bandung dan Lampung.  Berhubung minggu kemaren ada KAA dan gosipnya Bandung bakalan macet berat (padahal justru katanya enggak….), dan saya lagi ngebet  pulkam, maka Lampung menjadi satu-satunya tempat yang saya ingin lewati sepanjang longwiken kemaren.


Ga ada yang terlalu istimewa di Lampung.  Ga seperti Bali yang memiliki pantai Kuta ato Ubud yang eksotis, ato seperti Bandung dengan jajaran FO-nya, ato seperti Jakarta yang banyak mal megahnya, Lampung adalah kota kecil yang sederhana, tenang dan tidak memiliki banyak daya tarik.  Denyut perekonomiannya pun tidak sekencang kota-kota lainnya tapi entah kenapa tetep banyak orang kaya hehehe… (terbukti dengan bertambahnya mobil-mobil baru berseliweran di jalan-jalan…) Yah Lampung itu mungkin mirip seperti Jambi atao kota-kota lainnya di jajaran Sumatera Selatan.


Tapi walo sepi, buat saya tetep aja mengundang.  Salah satu alasan: makanannya ^_^ Minimalnya, ada 2 makanan must-have yang tidak-boleh-tidak harus dinikmati selama saya di sana.


Pertama, locupan.  Wah, pasti banyak yang bertanya: jenis makanan apa itu?  Gimana jelasinnya ya?  Ginii… locupan itu saya kategorikan dalam kelompok mie-miean (kan klo belajar biologi tuh ada kelompok kacang-kacangan, rumput-rumputan dsb…) soalnya, locupan ini dijual di tempat yang sama di mana mie pun tersedia.  Tapi saya ga rela locupan disebut mie.  Locupan berdiameter sekitar 0,5 mm (terlalu gendut untuk ukuran mie biasa), berwarna putih (karena terbuat dari tepung beras — daripada mie, locupan lebih aman untuk penderita sakit maag) dan panjang-panjang (seperti mie, tapi ga sepanjang mie).  Disajikan dalam mangkok (spt mie juga kan), dengan taburan ayam/babi cincang kecap (bener-bener kayak mie kan…) — TAPI POKONYA BUKAN MIE!!


Ada 2 tempat sohor di Lampung untuk menikmati semangkuk locupan.  Yaitu di Ahau dan Asang.  Kebetulan sama-sama berawalan “A” dan kebetulan juga memang memiliki hubungan keluarga di antara keduanya.  Tempat favorit saya adalah di Locupan Asang, Jl. Katamso, Lampung.  Biasanya saya akan menikmatinya bersama semangkuk pangsit kuah.  Hmm… Sedap!  Dan tentu saja semangkuk locupan tidak cukup, yah minimal 1.5 mangkuk hehehe… Bahkan waktu pulang Imlek lalu, saya sanggup makan locupan 3 hari berturut-turut dengan porsi konstan: 1.5 mangkok plus pangsit ^_^


Denger-denger, ada juga locupan di Jakarta.  Kabarnya di Bakmi gang Kelinci pun ada, tapi saya belum pernah mencobanya.  Ga yakin apakah se-otentik aslinya di Lampung hehehe… (maksa banget) 


Kedua, barulah MIE.  Ada beberapa tempat penjual mie yang bikin kangen dan selalu saya sempatkan mampir.  Minimal 2 must-try-places dalam daftar saya selama pulkam.  Pertama di Mie Lampung yang di perempatan jl. Ikan Hiu dan jl. Ikan Tongkol (note: jalan-jalan di Lampung khususnya di daerah Teluk Betung dipenuhi dengan nama ikan: ikan Hiu, ikan Tongkol, ikan Tenggiri, ikan Nila, ikan Sebelah, ikan Bawal, ikan Paus dst). 


Ada cerita unik di balik toko mie ini.  Dulunya bernama Mie Dragon, entah mengapa suami-istri pemiliknya berpisah dan masing-masing membuka toko mie.  Yang asli (sudah sedari saya kecil, inilah yang di perempatan itu) tetap di tempat semula, sedangkan toko mie suaminya terletak beberapa ruko dari sana, tidak jauh dari ruko sang istri.  Saya belum sempat coba mie buatan sang suami, tapi kabarnya sih tidak jauh berbeda, dan… memang sama ramainya ^_^


Mie Lampung ini seperti mie pada umumnya, tipis dan halus, disajikan bersama taburan ayam cincang yang sangat generous.  Soal rasa… hm… mantap! 


Mie kedua yang bikin kangen adalah mie APEN yang terletak di jl. Cumi-cumi, deket Hotel Kenanga, Teluk Betung.  Mie yang pertama kali saya coba ketika saya kelas 5 SD (nah itu kira-kira tahun 1990 kali ya), masih mantap sampai sekarang.  Agak sulit menjelaskan teksturnya secara signifikan, tetapi soal rasa, …. fiuuhh!! endang-bambang deeeh… ^_^ Dari buka pagi sekitar pk. 6, kedai mie tersebut telah ramai hingga tutupnya kira-kira pk. 10 (berbeda dengan locupan Asang yang buka hingga sore).  Biasanya saya akan bertemu dengan banyak opa-oma yang mampir sarapan mie setelah lelah berjalan pagi ^_^  Mie Apen disajikan di mangkuk dengan daging cincang dan bila ingin, dapat disediakan pula darah yang telah direbus (doh, gimana ya jelasinnya??  Itu darah yang direbus, dibentuk kotak-kotak kecil… kira-kira tau lah ya…. maaf, saya tidak suka, jadi maafkan penjelasannya yang minim).


Selain kedua mie di atas, ada juga Mie Inti dan Mie Simpur dan deretan mie-mie lainnya.  Tapi selain kedua tempat itu, tempat-tempat lain tidak menarik bagi lidah saya.  Waktu awal-awal mencoba mie di Jakarta, saya sempat merasa aneh, karena walopun tampilannya yang tidak jauh berbeda, soal rasa tetap tidak dapat tergantikan.


Ada 1 tempat yang belum sempat dikunjungi waktu saya pulkam.  Kedai Somay bang Mamat.  Nih abang somay emang cihuy.  Udah jualan sejak saya SD, dulu doi nongkrong di depan kantor nyokap.  Jadi saya rajin jajan di gerobak si abang.  Kemarin waktu saya pulang, saya mendapati beliau sudah buka kedai dan bahkan kata adik saya, kerap ditemui di berbagai acara pernikahan berhubung stall somaynya laris manis…  Ketika adik saya mengeluh lantaran sulit mencari beliau, dengan santainya beliau mengeluarkan kartu nama dan memberikan no hp… Dan ternyata, beliau masih mengingat saya walaupun kami sudah tidak bertemu selama 10 tahun ini dan jika adik saya makan di warungnya, bang Mamat selalu menanyakan kabar saya.  Duuuh, kangen deh ama somaynya. 


Somay bang Mamat itu mirip seperti somay pada umumnya.  Dari ikan dan disertai bumbu kacang yang sedaaappphh…  Rasa somaynya enak, ikannya terasa, tidak amis, dan cukup kenyal.  Wah mantap deh pokonyaa… ^_^


Begitulah Lampung… walopun sepi, namun selalu membuat hati rindu lantaran locupan yang tidak ada duanya itu…


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s