Prime


Rating: ★★★
Category: Restaurants
Cuisine: Steak
Location: Ritz Carlton, Jakarta

3 hari setelah Ritz Carlton dibuka, saya mendapat kesempatan berkunjung dan menikmati salah satu resto di sana. Pas awal datang, saya terkagum-kagum melihat megah dan glamornya hotel yang satu ini. Waktu melihat iklan openingnya di KOMPAS, saya sempet penasaran, kayak apa sih hotel mewah yang namanya Ritz Carlton. Soalnya yang di Bali kan juga glamor sekali… tapi masalahnya di Jakarta ga ada view semenakjubkan Bali, jadi penasaran juga, kemewahan seperti apa yang ditawarkan Ritz di Jakarta.

Ketika masuk hotel, hidung saya seketika mencium bau cat yang masih ‘medok’. Lobby begitu luas dan sepi sekali (maklum baru), jadi saya sempet membayangkan saking luas dan sepinya, tu lobi bisa dipake maen bola hehehe…

Setiap masuk hotel mewah, saya selalu menyempatkan diri untuk masuk dan melihat-lihat ke dalam restroom. Saya menikmati toilet-toilet bersih dan indah di dalam hotel (soalnya di rumah ga ada yang seperti itu hehehe). Begitu di Ritz, saya sempatkan juga melihat seperti apa toilet hotel berbintang kejora itu (saking mewahnya, bintang lima sih lewat hehehe). Seperti layaknya hotel mewah, toilet bersih dan wangi hehehe…

Oke, kembali ke topik semula. Ada beberapa resto dan 1 cafe di Ritz. Airlangga –> Resto Buffet (model Syailendra-nya JW Marriot), Prime the steakhouse, Portovenere (Italian Resto), Mistere (apa ya? Lupa oi. Diskotik yaa??), dan Lobby Lounge.

Berhubung perut saya sedang ga siap untuk diajak “tarung” dengan menu buffet, maka saya memilih makan steak di Prime. Begitu buka buku menu dan menyaksikan daftar harganya, mata saya spontan membesar. Wah, klo bukan karena diajak, I don’t think that I have any ideas to eat here!!

Di awal hidangan, saya diserve Roti dan butter yang tulisannya “Beurre D’Isigny – Appelation D’Origine Controlee” nah apa tuuuhh artinyaaa… ^_^ Banyak sekali istilah-istilah yang saya ga mengerti. Untuk menu utama, karena jelas-jelas Resto Prime adalah steak, jadi saya memilih tenderloin steak (iiihh…. standar banget yaaahhh…) ukuran 150gr dan truffle potato mash sebagai side dish-nya. Selain ukuran 150gr, juga bisa dipilih ukuran lebih besar yakni 280 gr. Untuk menemani steak, instead of wine, saya memilih Wild Cherry Tea (hihihi, food-pairing yang aneh ya? Soalnya saya ga doyan wine…***musti belajar dulu ama Yohan)

Saya mencoba Butternut Squash Soup with Chanterelle Mushroom dan with truffle oil. Well… Supnya biasa banget. Creamy gitu aja, ga ada rasa eksotis yang tertinggal di lidah. Menurut saya, selama ini sup paling berkesan yang pernah saya coba adalah pumpkin soup-nya William Wongso di William Cafe jl. Surabaya, Menteng. Sup itu diberikan sebagai compliment selama menunggu maincourse disajikan. Rasa supnya sedaaapphh sekali, creamy tapi ga terlalu creamy, pokonya pas di lidah… sluuurpp!! ^_^ (bunda luna punya gak resep pumpkin soup yang enak?? ^_^)

Tenderloin steak yang saya pesan rasanya enak, juicy… namun saus tenderloin yang saya pilih (nah apa ya, saya lupa lagi…) rasanya ga semantap saus angus rib (champagne beurre blanc). Jadi akhirnya saya tukeran saus deh ^_^ — Jadi Jsers, klo makan di Prime, pilih saus “champagne beurre blanc”, rasanya top markotoph!! ^_^)

Saya sempet nyobain Angus Rib-nya. Katanya mba waiter sih spesial, rib khusus tanpa tulang gitu. Dagingnya juicy dan sangat berserat tapi menurut saya terlalu lunak. Eh kok saya malah teringat rib sapi-nya Rosewood steak di Kelapa Gading ya?? hehehe… (ga cocok ya comparison-nya??)

Anyway, untuk comparison rasa mungkin bisa diambil Lawrys sebagai pembanding. Soalnya sama-sama spesialisasi steak. Seinget saya, yang sering di pesan di Lawrys adalah California Cut (bener ga sih? Lupa lagiiiihhh… ^_^)

However, untuk kelengkapan informasi dan review, berikut saya lampirkan data kerusakan yang harus dibayar:
1 Butternut Squash Soup with Chanterele mushroom with truffle oil: Rp. 60,000
1 US Angus Rib (with champagne beurre blanc — cabernet reduction): Rp. 275.000
1 US Tenderloin 150gr: Rp. 300.000
1 Potatoes: Rp. 35.000
1 Wild Cherry Tea: Rp. 30.000
1 Cammomile: Rp. 30.000

Serem saya pas liat bill-nya. Jadi teringet ama email Pak Bondan waktu beliau makan di Margaux, Shangrilla (kurang lebih sama ‘mengerikannya’ kan Pak? hehehe).

Untuk suasana, Prime Steak House memberikan suasana yang sangat romantis dan dengan semua peralatan makan berwarna putih cemerlang (brought to you by… NARUMI hehehe… —> ini kebiasan lain lagi, tiap makan saya demen peratiin merek piranti makannya. Keramik Djenggala, Bali, merupakan salah satu penyedia piranti makan yang manis dan menarik di meja…)

Entah karena baru buka ato emang belum maksimal, rasa makanan di Steak House tidak se-memorable yang saya bayangkan (atau ekspetasi saya yang terlalu tinggi??). Untuk JSers yang ingin suasana romantis-tis-tis… (dan untuk mereka yang memiliki fasilitas “menghabiskan uang kantor” ^_^) Ritz Carlton layak dicoba.

3 thoughts on “Prime

  1. Hehehe… awalnya sempet malu, Ven… abis tiap ke resto liat bawahnya gelas… bawahnya piring… hihihi… tapi lama-lama jadi seru juga karena ternyata bisa beda merek-mereknya… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s