Spirit Ditta Amahorseya

 


***diambil dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/06/kesehatan/1868339.htm


Mengidap kelainan jantung bawaan bukan berarti kehilangan harapan hidup. Ditta Amahorseya (44), Corporate Affairs Head of Citibank Indonesia, telah membuktikannya. Tidak ada kata ”menyerah” dalam kamus hidupnya kendati telah beberapa kali di ambang ajal karena serangan jantung dan dioperasi lima kali.


Kelainan jantung bawaan tak membatasi ruang geraknya. Ia justru lebih menikmati hidup dan menghargai setiap menit dalam hidupnya. Karena itu, di sela-sela kesibukannya bekerja, ia gemar beraktivitas seperti terbang dengan pesawat ultralight, menempuh perjalanan jauh.


”Saya harus melakukan apa yang membuat hidup saya senang dan damai,” ujarnya.


Pergulatannya melawan penyakit juga tak lantas mematikan kariernya. Bahkan, ia terus melejit di Citibank Indonesia dan turut mendirikan divisi komunikasi. ”Saat dipanggil Citibank, saya menceritakan riwayat medis saya sebelum proses wawancara. Ternyata pihak manajemen tetap menerima dan memberikan kesempatan karier yang sama,” kata kelahiran Jakarta, 4 Desember 1961 ini.


Pantang menyerah. Begitulah prinsip yang dijalani oleh Ditta menghadapi penyakit jantungnya. Karena itu, ia memutuskan menjalani serangkaian operasi jantung kendati peluang keberhasilannya sangat tipis dan menimbulkan rasa sakit luar biasa.


”Kematian buat saya adalah pilihan. Kalau kedamaian itu bisa didapatkan dengan kematian, mengapa tidak. Apa bedanya saya mati dua jam setelah operasi atau beberapa tahun lagi, saya tidak mau menunggu dalam kesakitan,” tuturnya.


Terlambat diketahui


Kelainan jantung bawaan yang bersumber dari faktor genetik baru diketahui ketika ia berusia sebelas tahun lantaran keterbatasan teknologi kedokteran pada masa itu. Ia kemudian harus bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo, Jakarta, untuk diperiksa kesehatannya sekaligus bahan studi kedokteran karena penyakitnya tergolong langka.


”Saya takut sekali, dada terasa sakit. Dokter bilang, saya tidak boleh capek padahal saya tidak bisa diam,” kenangnya.


Tahun 1990, saat mengambil gelar master di Universitas Boston, Amerika Serikat, untuk pertama kalinya ia terkena serangan jantung.


Tim medis di MT Sinai Hospital, New York, menyatakan, ia menderita marfan’s syndrome. Ini adalah kelainan pada dinding aorta, pembuluh darah terbesar yang mendistribusikan darah ke seluruh tubuh, dan harus menjalani operasi.


”Karena dinding aorta sobek, terjadi pendarahan dan harus diganti dengan bahan sintetis,” tutur putri Leo Amahorseya dan Samiati Alisjahbana ini.


”Saya harus menerima kenyataan kalau kelainan jantung saya tidak bisa sembuh seratus persen. Ini kelainan. Kalau bocor ya dibetulin, begitu seterusnya,” papar Ditta.


Maka ia pun harus menjalani lima kali operasi yang berisiko mengakibatkan kelumpuhan, tiga operasi di antaranya dalam kondisi darurat yang memerlukan intervensi secepat mungkin.


Sejak pertama kali operasi, ia rutin mengirimkan hasil CT-scan setiap tahun ke MT Sinai Hospital. Selanjutnya, tim medis dari rumah sakit itu akan membaca dan membandingkan dengan CT-scan sebelumnya.


”Dari lima operasi yang saya jalani, dua operasi merupakan tindakan preventif,” kata putri sulung dari lima bersaudara ini.


Menurut dia, serangan jantung bisa datang sewaktu-waktu sehingga penderita harus bisa menangkap sinyal-sinyal yang dikirim tubuh, seperti sesak napas dan rambut rontok.


Menjelang serangan ulang ketiga di Jakarta tahun 1993, Ditta mengaku tidak mengindahkan sinyal-sinyal itu. Ia malah asyik mengajar, bekerja, melakukan perjalanan jauh dan ”dugem” bersama teman-temannya. ”Waktu itu, saya diomeli sejuta orang,” ujarnya tertawa.


Semula tidak satu pun dokter bersedia mengoperasinya. Soalnya, kelangkaan penyakitnya membutuhkan waktu operasi lama dengan tingkat keberhasilan rendah. Beruntung akhirnya seorang spesialis jantung terkemuka di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, bersedia membedahnya dan berhasil. ”Inilah titik balik hidup saya, setelah berada di antara hidup dan mati,” katanya.


Operasi di Indonesia


Dibandingkan dengan di luar negeri, ia mengaku sebenarnya lebih suka dioperasi di Indonesia karena senantiasa dikelilingi kerabat dan teman. Apalagi kualitas pelayanan medis di Pusat Jantung Harapan Kita relatif sama dengan di luar negeri, termasuk teknik operasi.


”Kalau di luar negeri, selama dua bulan dirawat, saya hanya sendirian,” kata perempuan yang hobi memasak ini.


Ditta mengaku sempat marah atas gangguan jantung yang dideritanya sehingga ia harus dioperasi berulang kali, minum obat seumur hidup, dan setiap minggu sekali harus diambil darahnya untuk diperiksa kekentalannya. ”Saya marah selama lebih dari setahun ketika mengetahui tidak bisa hamil dan punya anak gara-gara ini,” ujar cucu sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana itu.


Ia juga mengaku sangat marah ketika mengetahui bahwa adiknya ternyata menderita hal serupa dan harus dioperasi setahun lalu. ”Saya bilang, coba lihat lagi CT-scannya karena dia sudah punya anak umur tiga tahun. Mustinya yang bagian operasi kan saya. Bagian dia punya anak, suami,” ujarnya.


Namun, pendalaman pada nilai-nilai spiritual belakangan membuat ia pasrah atas kelainan jantung yang juga dialami ibu, nenek, dan adiknya.


Kepasrahan itu ternyata amat membantu proses operasi karena ia seolah bekerja sama dengan dokter dengan alam bawah sadarnya.


Kendati demikian, ia mengaku masih merasa tidak percaya diri terhadap kemampuan fisiknya akibat terlalu sering diintervensi lewat pembedahan. ”Saya tidak berani sit up dan latihan fisik. Beruntung instruktur filates saya terus memotivasi dan membangkitkan rasa percaya diri,” tuturnya.


Ia juga menjaga pola makan berimbang dengan banyak minum air putih dan mengonsumsi buah-buahan.


”Saya selalu mengantongi buku kecil berisi daftar nama dan alamat dokter dan semua sejarah operasinya agar tidak salah penanganan medis kalau ada apa-apa,” ungkapnya.


Buku ini menggantikan gelang khusus seperti di AS, sebagai penanda seseorang menderita penyakit tertentu seperti asma dan jantung bawaan sehingga pasien bisa cepat mendapat penanganan darurat.


”Saya banyak bersyukur pada apa yang ada sekarang. Saya menikmati apa yang bisa dipetik sampai saatnya saya mati nanti,” katanya.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s