Mengapa tidak Beijing?

Mengapa tidak Beijing?

 

Mengapa tidak Beijing?  Ya, itulah question of the year yang ditanyakan most people ketika saya mengatakan bahwa saya akan belajar bahasa di Changsha, Hunan Province, China.

 

Changsha, di mana?  Mengapa tidak Beijing?

 

Saya sudah pernah mengunjungi Changsha sebelumnya, tepatnya di bulan Desember 2004 lalu dalam rangka program pertukaran pelajar, winter camping program yang diadakan Pemerintah China bekerja sama dengan Hunan Normal University (HNU), Changsha – Hunan.  Program tersebut berlangsung selama 10 hari dan diikuti oleh kurang lebih 100 orang pelajar berusia 12-26 tahun (ehm, ehm, pelajar 26 tahun??!).  Sebenarnya, program tersebut adalah program ‘pengenalan’ kebudayaan China kepada warga negara Indonesia keturunan.  Selama 10 hari para peserta dapat mengikuti beberapa aktivitas yang berkaitan dengan kebudayaan China, misalnya kelas tarian daerah, kelas Wu Long (baronsai), kelas Wu Shu (kungfu), Chinese Painting, kelas bahasa, mengunjungi beberapa tempat bersejarah setempat (museum kota, museum Mao Zedong, taman kota, dll), bahkan mencicipi makanan khas daerah setempat (Changsha terkenal dengan masakannya yang pedas dan Mao tofu – ‘chou Tofu’)

 

Melalui program tersebut saya mendapat kesempatan mengenal kota Changsha lebih baik dan juga membina persahabatan dengan mahasiswa lokal (HNU) yang menjadi (volunteer) assistant dalam program tersebut.  Persahabatan tersebut terus berlanjut hingga saya memutuskan untuk belajar di HNU, Changsha.

 

Selain itu, dibanding kota lainnya di China, jumlah foreigner di Changsha dapat dihitung dengan jari, terutama orang Indonesia.  Saya adalah orang Indonesia kedua yang sedang belajar di HNU semester ini dan orang Indonesia ketiga yang pernah terdaftar di HNU (BYKS).  Dibanding Beijing yang memiliki kurang lebih 400 orang Indonesia atau Shanghai yang berlimpah orang asing dari berbagai penjuru dunia, atau Xiamen yang terkenal dengan Huaqiao (orang Indonesia keturunan China), orang Indonesia di Changsha cukup langka.  Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi saya karena otomatis saya tidak memiliki partner untuk berbicara bahasa Indonesia dan terpaksa melatih Mandarin lebih giat jika ingin berkomunikasi (terutama ketika berbelanja hahaha…)

 

Beijing sebagai ibukota dan pusat kegiatan politik China menjadikan Beijing sebagai salah satu kota teramai di China.  Sedangkan Shanghai adalah pusat ekonomi dan perdagangan dengan arus tinggi sehingga menjadikan Shanghai sebagai kota metropolitan yang sibuk dan sangat modern.  Kedua kota tersebut memiliki standar hidup yang lebih tingi dan mahal dibanding kota-kota lain di China.  Sebagai gambaran, biaya hidup 1 tahun di Beijing (atau Shanghai/Guangzhou) adalah 2 kali biaya hidup di Changsha.  Biaya sewa akomodasi di tempat tersebut jauh lebih mahal, walaupun biaya sekolah kurang lebih sama (ada beberapa sekolah yang memang lebih mahal, namun ada beberapa sekolah yang sama).  Alasan high-living cost inilah yang juga membuat saya mempertimbangkan datang belajar di Changsha.

 

Saya sempat ragu untuk memilih Changsha mengingat adanya dialek lokal (Changsha hua).  Kebanyakan orang belajar Mandarin di Beijing (putonghua) berdasarkan alasan bahwa karena di Beijinglah terdapat standarisasi Mandarin.  Buku-buku Putonghua terbitan Beijing adalah terbitan standar resmi disertai kualitas EYD terbaik.   Daripada menyesali kekurangan itu, saya justru menjadikan hal tesebut sebagai keuntungan.  Selain mengerti Putonghua, saya juga belajar Changsha hua ^_^  Kemarin saya baru mendengarkan cerita Stephani (American native teacher yang telah tinggal di Changsha 6 tahun – dari total 10 tahun di China, lancar Mandarin dan mengerti sedikit Changsha hua), waktu ia menemani rekan kerjanya yang lancar Putonghua dari Beijing keliling kota Changsha.  Walaupun sama-sama berkomunikasi Putonghua, mereka tidak dapat mengerti Mandarin versi Changsha hua.  Sedangkan Stephani mengerti dan dapat berkomunikasi dengan baik.  Hal ini menjadi keuntungan mereka yang belajar Putonghua di Changsha.  Selain Putonghua, juga belajar Changsha hua.  Jadi walaupun ada dialek setempat, saya mendapati bahwa HNU sangat berhati-hati dengan hal ini, terlihat dengan pengggunakan standarisasi Putonghua resmi dan bahkan semua buku pelajaran menggunakan terbitan Beijing (BLCU dan Peking University, Beijing — PU is one of best uni di China).  Ya, memang seharusnya begitu, bukan?

 

Dengan berbagai pertimbangan itulah akhirnya saya memutuskan datang belajar di Changsha, Hunan.  Memang bukan kota yang terkenal jika dibandingkan dengan Beijing, Shanghai, Guangzhou, atau Xiamen. Cuacanya juga tidak senyaman Kunming, Yunnan – yang mirip Bandung (tidak panas ketika summer dan tidak dingin ketika winter), sehingga dijuluki spring all the year city (karena bunga tumbuh bersemi setiap waktu).  Cuaca di Guangzhou dan Shenzhen pun lebih nyaman, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.  Cuaca di Changsha agak aneh, suatu hari dapat panas (tidak sepanas Karawaci menurut saya hehehe), dan suatu hari bisa hujan dan dingin (bahkan beberapa hari lalu sempat dingin luar biasa karena terkena efek taifun di kepulauan Hainan dan Taiwan).   Saya menikmati 4 musim di Changsha mengingat hanya 2 musim di Indonesia (plus musim duren, mangga dll – jk ^_^)

 

[::] — special part

Lebih dari itu semua, saya memantapkan datang belajar ke Changsha mengingat adanya dukungan keluarga dan orang-orang terdekat.  Selain tangible consideration, juga ada intangible consideration.  Saya tau ada rencana Tuhan yang membuat saya pergi ke Changsha, yang mungkin belum saya ketahui dengan jelas sekarang, namun hal itu saya dapat saya rasakan melalui kemantapan hati ketika saya harus memberi keputusan final sebelum akhirnya mengirim aplikasi dan mengurus visa pelajar.  Walaupun mengurus semua  hal sendiri (visa, tiket, pendaftaran sekolah, dll), semua proses berjalan lancar dan tidak ada masalah yang berarti.  Pertemuan saya dengan Stephani menambah keyakinan tersebut, bahwa ada sesuatu yang Tuhan ingin kerjakan melalui kehadiaran saya di Changsha.  Perkataan Stephani dalam pertemuan pertama kami, “…” membuat hati saya berdebar dan mata saya berkaca-kaca.  Doa saya sebelum saya berangkat, if Your presence doesn’t go with me, Lord, I don’t want to leave this place; adalah firman yang sama yang saya dapat menjelang keberangkatan saya ke Changsha.  If Your presence doesn’t go with me, I don’t want to go to Changsha…

 

Terakhir, jika ada yang membutuhkan informasi sekolah selain Beijing, saya dengan senang hati memberikan informasi tersebut karena sebelum keputusan final, saya sempat membuat perbandingan harga 12 sekolah (belajar bahasa) di berbagai tempat di China (Beijing, Shanghai, Xiamen, Guangzhou, Shenzhen).  Mengapa hanya 12?  Karena saya tidak punya cukup waktu untuk mencari informasi lebih banyak lagi, padahal masih banyak lagi sekolah/uni bagus dengan berbagai pilihan harga untuk belajar Putonghua (Nanjing, Anhui, Kunming, Hangzhou, dll).  Banyak sekali tempat wisata menarik di China dan banyak lokasi belajar Putonghua yang tersebar di seluruh penjuru China.  Asalkan berani memilih, tidak takut dengan lingkungan baru dan memiliki cukup informasi, maka banyak alternatif lain selain Beijing.

 

Selamat datang di Changsha!

 

Changsha, Saturday, September 10, 2005

 

4 thoughts on “Mengapa tidak Beijing?

  1. Dear Sinta, perkenalkan nama saya Martha, Mahasiawa jurusan Pariwisata dari Surabaya. Bulan April 2008 nanti saya ada tawaran untuk internship di Beijing (Hotel) dalam rangka Olympic Games. Tawarannya.. saya akan internship selama 6 bulan, dengan gaji (dianggap mahasiswa magang) RMB.1000-2000/bulan, accommodation and meals provided. Yang mau saya tanyakan… berdasarkan pengalaman anda, apakah gaji tersebut cukup untuk “hidup” di Beijing??. kalau Living cost yang umum di Beijing sebulan sampai menghabiskan berapa sih?? Mungkin Sinta akan bilang… “tergantung gaya hidup”, hehehe.. Tapi perlu diketahui saya orangnya tidak terlalu suka shopping.. foya-foya.. apalagi di negeri orang.. Dan ke “hematan” saya udah saya buktikan waktu kerja praktek di Singapore, dengan gaji magang yang kecil masih bisa hidup “aman”, hehehe.. Baik Sinta, itu dulu email dari saya. Semoga Sinta mau membalas email saya dengan berbagi informasi dan pengalamannya. Salam, Martha (chiisai_imooto@yahoo.com)

  2. hai sinta,, aku pamela.. di karawaci juga.. hehe,, tahun ini aku lulus n rencananya mau study ke beijing, kalo ga ke CNU ke BLCU.. gimana pengalaman setelah di changsa? is it nice? or u regret? hehe.. need ur input badly.. pls reply me to pamela_wibowo@yahoo.com.. tqiu..

    God bless

  3. Astaga. Saya baru baca 2 komen ini.. dan skarang taon 2011! Oh, it's my bad. Saya ga tau kenapa ga masuk di notification multiply, atau waktu itu saya ga teliti membacanya sehingga terlewat.

    Friends, I am very sorry. Pasti uda telat banget untuk memberi jawaban/respon. Please let me know if there's anything I can help. For personal correspondence, please email to sinta.lucia@gmail.com

  4. hello sinta, apakah kamu masih di changsha?
    nama saya Ginanjar, mahasiswa Universitas Diponegoro semarang 2009
    sekarang lagi mengikuti Program AIESEC, semacam student exchange tapi mengerjakan projek ttg lingkungan, namanya Green map promotion project sama AIESEC Changsha yg terdiri dari mahasiswa CSU,HNU,HNNU
    kamu punya kenalan keluarga cina/indonesia di changsha nggak?
    kebetulan AIESEC sini belum dapet hostfam untuk aku, jadinya aku masih di rent house deket CSU
    tapi mau banget tinggal di keluarga china di changsha, gak di kasih makan juga gak papa asal aku bisa ngerasain chinese family in here🙂 soalnya aku islam, jadi nggak makan pork😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s