Mengobati suntuk


 


Kemarin, Rabu, 23 November 2005 saya mengundang beberapa teman sekolah untuk datang ke rumah, makan malam bareng.  Suguhannya sederhana: spageti ^_^  Sehari sebelumnya saya baru aja beli spageti di salah satu toko yang semodel ama MAKRO-nya Jakarta, namanya METRO.  Saya belum pernah liat spageti tersedia di tempat lain, jadi ketika menemani teman yang berbelanja untuk keperluan Thanksgiving, sekalian saya latah belanja: spageti.


 


Siang hari ketika lunch bareng saya utarakan undangan tersebut, terlihat wajah-wajah ceria menyambut undangan saya, seceria hati saya membayangkan bisa makan spageti.  Soalnya, saya uda lama sekali ga makan spageti (wah, yang baca bisa ini bisa ketawain saya! Hehehe)  Selain itu, saya ingin teman-teman bisa refreshing sejenak dengan adanya undangan ini, berhubung setiap harinya mereka sibuk belajar dan cukup stres menyiapkan ujian HSK yang akan berlangsung 11 Desember nanti.


 


Sekitar jam 6 sore, teman-teman mulai berdatangan – di saat saya masih sibuk mengaduk bumbu spageti di wajan (hm, bumbunya standar aja: saus tomat, jamur dan daging cincang ^_^).  Kebanyakan dari kami belum pernah makan spageti selama sekolah di sini.  Maklum, bukan tempat yang tepat untuk makan spageti (enak)… Saya pernah cobain spageti Pizza Hut di sini, yang menurut saya harganya ga worth it…


 


Selain spageti, Maria membuat roti bakar sederhana bermodalkan mozarella cheese dan susis, sedangkan teman serumah saya, Hattori, membuat salad kentang (tapi menurut saya itu lebih tepat disebut mashed-potato hehe).  Kemudian saya menambahkan satu menu Chinese yang cukup populer dan digemari di kalangan pelajar: tomat cah telor (xi1hong2shi4 chao3 ji1dan4). — ga nyambung benernya hehehe…


 


Tidak ada kepuasan lebih besar bagi tuan rumah selain melihat wajah para tamu yang kekenyangan dan menikmati hidangan.  Setelah ngobrol beberapa waktu, beberapa teman mohon pamit karena ada hal yang harus dikerjakan. 


 


Kami terus mengobrol, dan menjelang ‘supper-time’, saya suguhkan hot chocolate (hmm, coklat hangat selalu enak ya).  Obrolan kami terpaksa berhenti ketika melihat jam menunjukkan pk 11.30 malam sedangkan esok harinya harus kelas pk 8 (dan saya terlambat masuk kelas pagi ini!! Ups…)


 


Mengapa saya menulis ini semua?


 


Belakangan saya berasa suntuk, hmm… mungkin jenuh ya.  Saya jadi males belajar, padahal dampaknya sangat berbahaya.  Uda belajar keras aja masih banyak hal yang ga tau, masih keteteran banyak, gimana klo sampe males??!  Ngeri saya membayangkannya.


 


Saya mencoba memahami keadaan diri saya dan mencoba beberapa hal untuk mengobati kejenuhan itu.  Mencoba belajar di taman sekolah (mungkin suasana yang berbeda bisa membantu menceriakan hati), mendengarkan musik, curhat, tapi kesuntukan itu ga beranjak juga.


 


Ternyataa… kesuntukan itu entah lenyap ke mana setelah menjamu teman makan bareng.  Dengan menu yang sederhana dan mudah dibuat, ternyata mampu menceriakan hati yang mengundang dan diundang.  Perasaan hati saya menjadi lebih nyaman setelahnya.  Saya jadi teringat pepatah klasik “…adalah lebih bahagia memberi daripada menerima…”


 


Sekali lagi saya alami: melayani dan berbagi kasih sebagai salah satu alternatif tepat bagi saya untuk bisa kembali segar menjalani hari-hari ini.


 


 


Changsha, 24 November 2005


 


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s