Kaleidoskop hidup saya di tahun 2005


Kaleidoskop hidup saya di tahun 2005

 

 

Januari

Saya merasakan suasana tahun baru yang garing di sebuah  hotel terpencil di Guiyang, Guizhou.  Walau demikian, ketika kembali ke Jakarta, saya berharap kiranya bisa kembali ke China. 

 

Di bulan ini saya bertemu kembali dengan teman lama setelah 11 tahun tidak pernah bertemu, terakhir bertemu adalah ketika lulus SMP.  Pertemuan dengannya memberikan cerita tersendiri untuk saya.

 

Ketika kembali ke kantor, saya dan rekan-rekan sedepartemen merasakan suasana yang berbeda.  Kantor tidak pernah sama lagi tanpa kehadiran atasan saya…  Sejak berita mengagetkan yang saya terima menjelang Natal tahun 2004, belum ada kabar jelas kapan kami semua bisa bertemu lagi dengan beliau.

 

Saya bingung, bila memang saya akan berangkat sekolah di China, bagaimana mungkin saya bisa pergi dan meninggalkan dengan keadaan seperti ini?  Beberapa teman berkata, you take it too personally, untuk apa memilih sesuatu yang tidak pasti (menunggu atasan saya kembali ke kantor) dan mengorbankan masa depan sendiri?  Pasti orang lain akan mengerti bahwa masa depan kita terlebih penting daripada pekerjaan kantoran.

 

Saya bingung, sekolah akan mulai pertengahan Februari tetapi jika saya harus pergi, saya ingin bertemu beliau sebelum pergi.

 

 

February

Saya memantapkan hati, saya memilih menunggu dan menunda sekolah saya.  Instead of February, I will enroll in Fall Semester (September).  Bukan keputusan yang mudah, apalagi klo inget ada yang bilang saya bodoh, memilih menunggu beliau (dan keputusan menunggu ini berakibat mundurnya semua rencana pribadi saya). 

 

Memang, mungkin untuk beberapa orang, keputusan saya untuk menunggu adalah keputusan bodoh.  Saya memantapkan hati untuk menerima resiko dibilang bodoh atau aneh atau sentimentil ato apalah namanya.  Saya memutuskan dalam keadaan sadar dan mengerti apa yang saya lakukan, dan tekad saya:  jika saya harus pergi, saya harus bertemu beliau sebelum saya pergi.

 

Hal lainnya… Saya bertemu dengan beberapa teman lama ketika kembali ke Lampung.  Mereka adalah teman-teman semasa SMP dulu, karena satu dan lain hal mereka memutuskan untuk tinggal di Lampung setelah selesai kuliah di Jakarta. 

 

 

Maret

Saya mendapat kesempatan pergi ke Aceh (cerita lengkap telah terposting sebelumnya).  Wah, bersyukur sekali bisa melihat kondisi Aceh dengan mata kepala sendiri.  Seeing is believing, katanya (foto: http://sintalucia.multiply.com/photos/album/4)

 

 

April

Menunggu memang bukan hal yang mudah.  Apalagi ketika menunggu, tidak ada kabar apa pun, menunggu bagaikan suatu pengharapan tanpa pijakan. 

 

Di kala menunggu, penghiburan datang.  16 April 2005 saya ’memberanikan diri’ mengikuti kopdar JS pertama saya: food tasting di Cafe Ollino, Plaza Kuningan.  Hmm.. enak sekali makanannya.  Di situlah saya pertama kali bertemu wajah-wajah asli pemilik nickname di chatroom ^_^

 

Kemudian 2 minggu setelahnya, saya ikut kopdar JS Kupangsutra di TMII.  Di sini saya bertemu dengan banyak wajah – dan senangnya bisa tau pentolan JS langsung yang selama ini hanya bisa dengar kibaran namanya saja di dunia persilatan kuliner JS…

 

 

Mei

Saya mendapat kesempatan terlibat dalam event Transform World Indonesia 2005, suatu konferensi internasional yang dihadiri 500 delegasi dari berbagai bangsa, membicarakan upaya-upaya rehabilitasi — demi dunia yang lebih baik critanya.  Di event tersebut saya terlibat sebagai salah satu FGD Assistant (Focus Discussion Group) dan melayani delegasi terkait.

 

Setiap bulan Mei, usia saya bertambah pula.  Ulang tahun kali menjadi lebih istimewa karena Guan menyempatkan pulang ke Jakarta sejak kepindahannya ke Spore Maret lalu.

 

Kejutan berikutnya, saya mendapat kabar bahwa atasan saya yang telah lama saya tunggu telah kembali dan ada di Jakarta!!

 

 

Juni

Kejutan paling istimewa adalah melihat beliau datang ke kantor!  Kantor rasanya gempar dan suasana suka cita segera meliputi setiap dari kami. 

 

Salah satu event berkesan yang terjadi sepanjang tahun 2005 adalah acara tahunan UPH: wisuda.  Dan acara ini menjadi lebih special dengan hadirnya beliau dan dapat bertahan sampai akhir.  Saya masih ingat jelas bagaimana beliau menangis terharu setelah turun dari podium…

 

 

Juli

Saya membeli sofa baru hasil patungan berdua adik, walo cuma sofa second hasil ‘lelang’ dari toko teman yang ditutup.  Wah senangnya, sofa pertama saya!  Jadi nonton tv bisa duduk di sofa beneran sekarang… bisa leyeh-leyeh dan ngobrol di sofa.. hmm..

 

Saya bersama beberapa teman JS menikmati beauty-class bersama Revlon di Keris Gallery Menteng.  Wah pengalaman yang seru! Lumayan nambah ilmu, kali nanti bisa bikin salon kayak di film Unyil ^_^

 

 

Agustus

Rencana sekolah saya makin mendekati batas akhir.  Bayangkan, awal September sekolah dimulai, jadi sudah harus berangkat, tapi saya belum tau apakah saya jadi pergi atau tidak, karena belum juga mendapat kesempatan bertemu beliau secara personal.  Bayangkan, waktu mepet sekali, tapi saya belum ada kepastian pergi.

 

Minggu kedua saya tekadkan hati mengurus visa.  Jika tidak jadi pergi, ya sudah biarkan visa menganggur.  Tetapi bila jadi, tentu visa mutlak diperlukan.

 

Ternyata, di minggu kedua itu, beberapa waktu sejak keputusan menyiapkan visa, saya mendapatkan kesempatan bicara personal dengan atasan.  Saya masih ingat, Selasa 9 Agustus 2005, adalah hari di mana saya mendapat kesempatan bertemu beliau dan membicarakan rencana sekolah ini.  Sebenernya hal ini bukanlah suatu hal mendadak karena terakhir kali saya bertemu beliau pada bulan Desember 2004, saya sudah pernah menyampaikan rencana ini.  

 

Saya pun masih ingat, betapa beratnya hati saya memberitahu beliau mengenai hal ini.  Walaupun beliau menyatakan dukungan penuh, tetap saya tidak dapat menyangkal perasaan berat hati meninggalkan kantor dan pekerjaan saya.

 

Bulan ini adalah bulan yang sibuk bagi saya.  Selain tetap bekerja sampai sehari menjelang keberangkatan, saya mengurus semua administrasi keberangkatan sendiri: medical check-up, visa, pendaftaran sekolah, menukar uang, mengemas pakaian dan segala kebutuhan pribadi.  Syurkurlah, semua berjalan dengan baik dan lancar…

 

30 Agustus, saya tiba di Changsha, China.  Tantangan baru dimulai.

 

 

September

Bulan pertama di China saya lewati dengan mengurus berbagai administrasi berkaitan dengan sekolah.  Membayar tuition fee, membeli buku, melaporkan diri ke kantor polisi setempat, mengurus residence permit, mengurus jaringan internet di rumah, dsb.

 

Saya menikmati hari-hari pertama saya di Changsha.  Walaupun banyak kesukaran – terutama akibat kendala bahasa, saya memandang semua itu sebagai pengalaman hidup yang berbeda dan memperkaya wawasan. 

 

Beberapa hal lucu terjadi, misalnya peristiwa memesan makanan sendiri untuk pertama kalinya.  Ketika pemilik resto berusaha menjelaskan nama makanan yang saya tunjuk di daftar menu (tunjukknya juga asal aja), sepertinya hanya kebengongan yang bisa saya berikan melalui ekpresi wajah saya.  Saya sendiri ga tau  persis gimana rupa makanan yang saya pesan, yang saya tau ada timun dan daging sapi (huang gua chao rou).  Saya masih ingat, betapa leganya saya ketika melihat makanan yang datang rupanya enak dan setelah itu keluar resto dengan perasaan jumawa seperti menang perang…

 

Hal yang ngeselin juga terjadi.  Saya bertemu beberapa orang lokal yang rese dan mentang-mentang.  Misalnya, mentang-mentang saya masih bengong, ga banyak bicara, mereka menganggap saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sehingga mereka bisa ngomong seenaknya di depan saya, termasuk dengan santainya berkata bahwa pelafalan saya terdengar buruk!!  Huh, bukannya support, bantuin kek gimana caranya jadi bener, malah tambah bikin frustrasi kan…  Berhubung orang tua memang bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin di rumah, kurang lebih kemampuan pendengaran saya cukup baik untuk ukuran pemula.  Sehingga saya bisa mengerti apa yang orang-orang itu katakan, tetapi saya tidak tau bagaimana mengeluarkan isi pikiran saya dalam bentuk kalimat yang logis, terstruktur dan lancar.  Kekesalan-kekesalan  itu hanya bisa saya simpan sendiri.

 

 

Oktober

Awal Oktober saya berkesempatan berkunjung ke salah satu objek wisata terkenal di Hunan, yakni Zhangjiajie.  Foto-foto bisa dilihat di http://sintalucia.multiply.com/photos/album/11

 

 

November

Awal masuk sekolah, saya memutuskan bergabung di kelas dasar, yakni kelas A dengan pertimbangan agar memiliki dasar yang kuat terutama dalam hal lafal dan ucapan.  Setelah bergabung 2 bulan, saya merasa bosan.  Dan akhirnya setelah berpikir panjang dan meminta pendapat beberapa teman, saya mengambil keputusan untuk pindah ke kelas B di minggu pertama bulan ini.  Stres?? Jelas, tapi saya memilih untuk menikmati stres sebagai pacuan adrenalin yang mendorong saya menjadi maksimal.

 

Bagi orang Amerika, November identik dengan perayaan Thanksgiving.  Thanksgiving identik dengan kalkun.  Saya mendapat pengalaman merayakan Thanksgiving bersama teman-teman Amerika.  Jadi, itulah kali pertama saya merasakan makan daging kalkun ^_^ (Foto: http://sintalucia.multiply.com/photos/album/26)

 

 

Desember

Melihat HK adalah suatu pengalaman yang menyenangkan.  Saya mendapat ajakan pergi ke HK di awal Desember.  Wah.. ga terbayang sebelumnya bisa pergi ke HK (Foto: http://sintalucia.multiply.com/photos/album/25)

 

Setelah tinggal di Changsha beberapa bulan, saya sempat mengalami masa-masa burn-out emotionally.  Walaupun secara ras saya terlahir sebagai seorang Chinese, nyatanya I’m not Chinese enough and not western enough on the other side.  Hasilnya, culture-shock experience ^_^ hmm…

 

Bulan ini juga terasa menyenangkan karena orang tua saya datang berkunjung.  Seminggu bersama mereka merupakan hari-hari sibuk karena setelah sekolah, saya menemani mereka berkeliling dan malamnya harus tetap mengerjakan pr untuk keesokan harinya

 

Natal kali ini juga terasa berbeda.  Ini Natal kedua saya di Changsha dan saya bersyukur tidak melewatkan Natal ini seorang diri dan mendapat undangan menikmati makan bersama.  Walau saya terbayang teman-teman di negara halaman serta membayangkan asiknya menikmati waktu bersama orang-orang dekat, menikmati waktu berlalu bersama teman baru juga termasuk berkat yang sekiranya disyukuri… (Foto dan cerita:  http://sintalucia.multiply.com/journal/item/44)

 

Detik-detik terakhir 2005 dilewati dengan makan (potluck) bersama teman-teman sekolah.  Saya menyiapkan kuah apel sebagai salah satu kontribusi potluck.  Jadi, hari Sabtu, 31 Desember 2005 kami semua berkumpul di rumah Wanibe Yuta, seorang teman berkebangsaan Jepang, makan bersama dan countdown menjelang 2005 (foto: http://sintalucia.multiply.com/photos/album/27)

 

Tahun 2005 telah berakhir… How the years go by…  

 

Really grateful that He’s been good and His mercy endures forever. 

 

When God is with us

And our heart and life are His

New year will ever be blessed…

 

Happy new year 2006!!

 

Changsha, 1 Januari 2006

 

5 thoughts on “Kaleidoskop hidup saya di tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s