Setelah 1 semester


 


Hari ini adalah hari terakhir ujian sekaligus hari terakhir di semester ini.  Genap sudah 1 semester saya menuntut ilmu sampai ke negara China… (apaan seeh?!)  Ga kerasa uda 1 semester saya di Changsha, berkutat dengan karakter-karakter Chinese dan berjuang melenturkan lidah supaya bisa fasih melafalkan 4 nada Chinese.


 


Semester berikut dimulai hari Kamis, 16 Februari 2006.  Jadi liburan uda resmi dimulai sejak ujian berakhir tadi siang.  Siang tadi juga diadakan perpisahan dan pemberian sertifikat bagi rekan-rekan yang akan segera pulang kampung ke negara (pulkam kok negara?) masing-masing.  Mayoritas adalah peserta pertukaran pelajar antar universitas di Jepang.  Sampai hari ini, Jepang adalah negara penyumbang pelajar (pertukaran) terbanyak di HNU. 


 


Setelah 1 semester, banyak hal yang saya amati dan pelajari.  Bergaul ama teman-teman yang berbeda pola pikir, kebudayaan,  kebiasaan, dan pastinya.. bahasa!  Mandarin lah yang menjadi pemersatu berhubung bahasa Inggris ga terlalu populer di sini.  Semuanya semangat belajar Mandarin demi lancarnya percakapan.


 


Bicara soal semangat belajar, saya salut ama semangat belajar yang saya lihat di sekitar saya.  Semangat belajar yang tinggi terlihat dari kebiasaan sehari-hari mereka, terutama rekan-rekan lokal (baca: mahasiswa China).  Perpustakaan selalu penuh dengan orang yang belajar (dan nebeng bobo karena jam istirahat di sini lumayan panjang, 2.5 jam setiap hari, mulai break jam 12 dan kelas berikut biasanya dimulai 14.30). Taman-taman kampus dipenuhi dengan teriakan-teriakan – loh kok teriakan?  Iya, soalnya mereka sering membaca keras-keras teks/buku berbahasa Inggris khususnya.  Selain itu banyak juga yang baca buku di sana.  Bahkan sampe malem, kelas-kelas yang kosong juga kerap didatangi mahasiswa untuk menjadi tempat belajar.  Saya memikirkan kampus saya dulu, seberapa sering perpustakaannya penuh sesak ya?  Kok kayaknya lebih rame di kantin, maen kartu sambil ngerokok ato nge-gitar ga jelas, ketimbang membaca buku…


 


Pola hidup saya tentu berubah sejak datang ke mari.  Kalo dulu pastinya uda nongkrong di kantor sejak pukul 7 dan baru kembali ke rumah setelah pukul 4, di sini kelas saya terjadwal sejak pukul 8 hingga 12 setiap Senin sampai Jumat.  Setelah lunch, ada beberapa pilihan yang bisa saya kerjakan. 


 


Misalnya, ketemu tutor speaking saya, Xiao Qin, supaya bisa lancar ngomongnya – dengan lafal BENAR tentunya hehe… Setidaknya 3 jam berlalu bersama Xiao Qin setelah membahas beberapa kesulitan grammar dan berlatih lafal.  Sungguh perjuangan berat buat saya untuk bisa ngomong dengan baik, setelah melewati masa-masa buruk jadi ‘alien’ dengan intonasi saya yang aneh dan memalukan — masih berjuang sampe sekarang… (mohon doa restu.. **apa seh??!)


 


Selain itu, pilihan kegiatan after-lunch lainnya adalah ngerjain PR.  Dari 3 subject yang saya pelajari, selalu ada PR rutin untuk subject Jingdu (精读) dan Kouyu (口语).  Biasanya selain serangkaian soal-soal latihan, PR rutin itu adalah menghafal teks (背诵 课文) dan vocab berhubung ada dikte (听写) keesokan harinya. 


 


Btw… Sistem pendidikan di China masih sangat banyak mengaplikasikan metode menghafal bagi para murid.  Waktu kami berdiskusi tentang hal ini, salah satu guru berpendapat bahwa metode ini cocok banget digunakan di China hingga sekarang.  Metode menghafal dimulai sejak sekolah dasar.  Para murid diberikan syair-syair singkat karangan penyair China ternama dahulu kala, misalnya Li Bai.  Mereka diwajibkan menghafal syair-syair tersebut, menulisnya dan membacakannya di luar kepala dengan intonasi yang tepat — walaupun tidak mengerti sama sekali apa artinya.  Ketika mereka besar nanti, lambat laun mereka akan mendapat ‘pencerahan’ sendiri apakah maksud syair tersebut.


 


Saya baru ‘ngeh, orang China lebih sering berkata “saya rasa..” (我觉得), dibandingkan dengan Westerners yang lebih sering pake “I think…” Menurut mereka, berpikir adalah melalui hati (心里), sehingga ga heran dengan banyaknya syair yang berhasil ditulis, mempertimbangkan sisi melankolis para penyair tersebut yang cenderung menggunakan hati untuk berpikir, mengamati dan melihat sesuatu.  Semua tercipta setelah melewati proses “hati”…


 


Dengan banyaknya populasi penduduk di China, otomatis mencari pekerjaan juga menjadi sesuatu hal yang kompetitif.  Mayoritas lulusan S-1 China melanjutkan ke S-2 karena sulitnya mendapatkan pekerjaan.  Toh lebih baik sekolah lagi daripada kerja yang ga jelas, begitu pikiran mereka.  Yang melanjutkan S-3 pun sangat banyak, apalagi mereka yang bekerja di area pemerintahan.  Pasalnya, level gaji pun meningkat dengan adanya peningkatan level pendidikan (gelar??!). 


 


Berhubung dulunya kerja di bidang pendidikan, fenomena pendidikan di China menjadi sangat menarik buat saya.  Tanpa sadar jadi membandingkan gimana kondisi pendidikan di Indonesia.  Biaya sekolah yang murah di China (misalnya untuk Jurusan Chinese Literature di HNU, Changsha, tuition fee ‘hanya’ sekitar RMB 4,000/tahun)  dan juga pendidikan gratis di pedalaman menjadikan sekolah sebagai ‘makanan wajib’ bagi para penduduk.  Universitas-universitas ternama mematok biaya sekolah lebih mahal dan memiliki stándar masuk lebin tinggi, namun dibarengi dengan kualitas pendidikan yang sangat baik.  Sejarah membuktikan, pendidikan yang baik akan membawa perubahan bagi negara terkait (kok saya jadi ingat perjuangan kebangkitan perjuangan Indonesia yang bermulai dari para ‘scholar’ Indonesia Boedi Oetomo, dst…).  China pun hingga sekarang aktif memberikan beasiswa bagi para pelajar berbakat untuk melanjutkan studi ke luar negeri.  Para lulusan tersebut kembali setelah selesai menuntut ilmu untuk membangun China. 


 


Saya teringat DIKTI (www.dikti.org), dan berusaha mengingat seberapa banyak beasiswa yang ditawarkan bagi pelajar Indonesia.  Sepertinya tidak terlalu banyak informasi yang tersebar melalui hal ini, tetapi thanks to milis beasiswa http://groups.yahoo.com/group/beasiswa serta www.beasiswa.org yang banyak sekali menyalurkan informasi beasiwa dari berbagai universitas di berbagai negara.  Dan menurut saya milis ini adalah salah satu milis yang terorganisir dengan rapi sehingga dapat memberikan manfaat maksimal bagi para musafir yang haus beasiswa hehehe…  Milis ini tidak hanya memberikan informasi beasiswa, tapi juga tips-tips ujian TOEFL, IELTS, GMAT, SAT dan sebangsanya.  Selain itu juga tips-tips mengirim aplikasi beasiswa (Ausaid, Chevening, dll), menulis preliminary-reseach paper, letter recommendation dan berbagai pembahasan menarik seputar dunia pendidikan dan beasiswa. 


 


Hmm.. kapan ya Indonesia bisa menikmati pendidikan gratis?  Hal ini kayaknya bakal jadi polemik sepanjang masa.  Pendidikan baik identik dengan mahal, tapi mahal belum tentu baik.  Dengan kondisi perekonomian sehari-hari di mana masih banyak orang yang berjuang untuk makan, rasanya pendidikan menjadi sesuatu kenikmatan yang tak terjangkau.  Walaupun pendidikan formal bukanlah satu-satunya cara untuk membuka dan memperluas wawasan, tetapi pendidikan diperlukan untuk pembentukan pola pikir yang terstruktur, mengasah daya logika dan perkenalan pada pengembangan diri lebih lanjut.  Gitu ga seeh?? Hehehe… nulis mp kok kayak nulis paper gene gayanya…


 


Eh kok jadi ngelantur?  Balik lagi ke topik ‘laporan’ saya setelah 1 semester di Changsha.  Soal pendidikan ini bakalan jadi topik seru sepanjang masa buat saya, jadi kudu ada waktu tersendiri  untuk ngebahas.


 


Setelah 1 semester, saya menyadari bahwa kemampuan berbahasa Mandarin saya masih sangat minim sekali…  Ngerti sih ngerti ya, beli sayur dan naik taksi masih oke, digosipin juga ngeh (ge-er amat), tapi untuk mengembangkan deep-conversation rasanya masih jauh dari lancar…  Saya masih merasa kesulitan untuk menuangkan pikiran saya dalam suatu kalimat panjang terstruktur yang logis, berhubung keterbatasan kosa kata dan pengetahuan grammar.  Well, maybe I put too much pressure on myself, as someone reminds that learning languange is a matter of time and practice — so that it’s a process as well…


 


Yah… bakalan panjang lagi klo diceritain… saya bersyukur bisa melewati satu semester ini, kerja keras masih berlanjut…


 


JIA YOU!! 加油!


 


Changsha, 10 January 2006


 


 


 

2 thoughts on “Setelah 1 semester

  1. iya Ven… waktu guru gw bilang di kelas, gw juga merasa itu menarik sekali.. makanya gw kesulitan untuk ngomong dengan pola “我觉得。。。” karena dalam banyak hal sepertinya bukan based on feelings, tapi karena uda dipikirin ^_^ masalahnya, ga ada kata “I think…” dalam pola kalimat Chinese hehehe…

    Jadi setelah gw amati, penggunaan bahasa berkaitan erat ama logika dan budaya setempat ya… More interesting, huh? ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s