(Import posting) Oleh-oleh khas


Tulisan ini saya re-posting di sini sehingga bisa dibaca juga oleh teman-teman yang tidak bergabung di milis gangkatun (pinjem versi Cereth — winkwink)


Topik: oleh-oleh khas


Ko Jo dan temans,


Saya termasuk orang yang senang ‘nyetok’ untuk oleh-oleh khas (bukan yang bisa basi tentunya), misalnya bila ke Bali, sengaja saya beli beberapa kain Bali dan saya simpan, karena suatu hari bisa terpakai mendadak (karena agak repot klo tiba-tiba harus cari kain Bali di Jakarta)


Kain Bali itu saya hadiahkan biasanya untuk teman-teman dari negara lain.  Misalnya waktu kemarin Natalan, jauh-jauh saya saya siapkan untuk dikirimkan dari Jakarta melalui trafficking (hehehe) beberapa barang khas dari tanah air.  Sehingga sebagai hadiah Natal saya bisa memberikan scarf batik Cirebon, kain sarung Bali dengan motif pantainya yang semarak dan juga rok panjang Bali dengan motifnya yang khas. 


Kemudian untuk hadiah-hadiah lain dalam berbagai acara, bila melibatkan banyak orang dari berbagai negara, sebisa mungkin saya memberikan sesuatu yang khas dari tanah air.  Setelah dibuka dan dilihat hadiahnya, saya memiliki kesempatan untuk berbicara tentang tempat hadiah berasal sehingga akhirnya mereka tertarik untuk datang di kemudian hari ^_^


Untuk oleh-oleh makanan, saya ada cerita berkesan.  Waktu di SMA, saya tinggal di asrama yang dihuni oleh pelajar dari berbagai tempat di Nusantara.  Setiap liburan berakhir dan kami kembali ke asrama, itulah masanya makanan berlimpah ^_^  Ada ‘must-have-food’ yang selalu tersedia: kerupuk melarat yang dibawakan teman asal Cirebon (dimakan bersama ‘senge’ atau ‘besengek’?–lupa gimana nulisnya), kripik jamur dari Jawa, dan yang wajib saya bawa ke asrama adalah… kripik pisang (ga cuma mereka Suseno looh…merek lainnya juga cihuuii) dan krupuk  kemplang dari Lampung (tempat saya pulkam). Seorang teman sampe sekarang demen banget ama manisan mangga khas Lampung.  Mangganya gurih dan rasanya asem-asem manis (sebenernya di Jakarta juga banyak hehehe)  Kadang malah bawa pempek homemade-nya ibunda plus otak-otak komplit dengan bumbu kacangnya. Krupuk kemplang yang saya bawa bisa sekarung (20-30 bungkus) karena yang menitip sebangsal!!


Kebiasaan membawa kripik pisang saya lanjutkan ketika saya studi di Changsha, Hunan – China.  Ketika teman bertanya, apa makanan khas yang bisa dicicipi, untuk praktisnya saya berikan kripik pisang coklat saja hehehe… mereka lumayan suprise dengan rasanya karena belum pernah mencicipi yang serupa.


Berbagai pilihan hadiah/oleh-oleh selain makanan: klo teman ke Jogya, saya cuma pengen dibawain scarf batik Jogya (dari pasar Bringhardjo hehehe), dari Cirebon ya scarf/selendang ATBM-nya Cirebon (biasa dibawa dari Trusmi), dari Solo juga bahan batik Solo (dapet di pasar Klewer).  Semua tempat memiliki motif batik yang berbeda.  —- eh berbicara batik saya jadi inget seorang teman Jepang pernah cerita, di Jepang (entah di mana, Tokyo mungkin) ada seorang Jepang yang buka toko souvenir barang khas Indonesia dan toko itu bernama “Java”.


Yang seru juga kalo memperhatikan barang-barang souvenir hasil kunjungan atau acara internasional.  Saya perhatikan barang-barang souvenir di kantor, walopun ada yang standar aja, ada pula yang menarik.  Misalnya, relasi dari Jepang pernah membawakan kristal cantik berlabel Mikimoto.  Belakangan saya baru tau klo Mikimoto adalah salah satu brand ternama untuk urusan kristal. 


Seorang teman kristiani memiliki koleksi salib berbagai bentuk, ukuran dan motif dari berbagai tempat dan negara yang dikunjungi. Sebagian besar koleksinya diberikan tempat khusus di dinding untuk dipajang.  Saya melihat koleksinya sampai kagum.  Jadi teman itu cuma pengen dioleh-olehi/dikadoi ‘salib’ bila ditanya mau dibawakan apa (susah yah titipannya??!)


Ketika ada keluarga/teman yang datang dari Palembang, saya cuma pengen dibawain mie celor-nya yang khas.  Mie celor ini harus mengalami treatment khusus ketika hendak dibawa ke Jakarta.  Dibeli pagi hari, dipisah mie dan kuahnya, kemudian kuahnya segera dimasukkan freezer untuk dibekukan supaya tetap fresh (karena mengandung santan, cepet basi).  Ketika mo berangkat, kuah mie celor yang dalam keadaan beku dibungkus dengan kertas koran berlapis sehingga ketika es mencair tidak segera membasahi barang-barang lainnya di koper.  Perjalanan yang hanya sekitar 1 jam dengan pesawat dari Palembang ke Jakarta jadi sedemikian ribet jika membawa mie celor ^_^


Saya setuju dengan oleh-oleh dendeng babi Spore, walopun di Jakarta juga ada banyak counter BCH, tetep aja lain klo dibawa langsung dari Spore ^_^  Barang yang sama juga saya bawakan untuk teman bila saya mengunjungi Spore.


Bandung, berhubung uda banyak stall molen berbagai merek di Jakarta, oleh-oleh molen uda bosen.  Belakangan klo ke Bandung, teman-teman saya cuma pengen dibawain batagor Abuy sebagai oleh-oleh dan saya beli lebih sebagai stok makanan di rumah hehehe…


Dari Manado, ada teman yang berbaik hati pernah membawakan klapertaart fresh dari Manado.  Berhubung saya belum pernah cobain Beautika, klapertaart yang fresh from Manado itu merupakan sukacita tersendiri bagi saya ketika mencicipinya ^_^


Bila ada teman dari Jerman yang pulang kampung ke Jakarta, saya cuma pengen dibawain: HARIBO hehehe… gummy nya enaaak… Ketika teman ekspat habis pulkam ke Jerman, beliau membawakan titipan saya 2 bungkus besar gummybear HARIBO ^_^


Teman lainnya klo pulkam sering membawakan berbagai macam susis dan salami dari Jerman karena katanya yang sejenis sulit ditemui di Jakarta.  Jadilah saya dapet kecipratan cicip-mencicip susis ^_^


Saya pernah baca di milis ini dahulu kala, MILO-nya Thailand enak dan punya rasa yang berbeda.  Jadi ketika ada teman berkunjung ke Bangkok, saya cuma nitip satu: MILO sachet hahaha… tapi waktu saya coba, mana rasa berbedanya?


Ih, ketauan ya sering nitip? ^_^



Jabat erat,
Sinta
http://sintalucia.multiply.com


 


—– Original Message —–


Sent: Wednesday, January 11, 2006 12:41 PM
Subject: Oleh-oleh khas

 
Temans,

beberapa bulan yang lalu ada topik diskusi oleh-oleh khas, tapi sayang sekali tidak diteruskan, padahal saya pikir itu sangat menarik dan membantu.
 
Seringkali kita kedatangan tamu dari jauh, yang bertanya, “mau dibawain oleh-oleh apa?”, nah dengan adanya milis Jalansutra yang penuh penggemar jalan-jalan dan makan-makan, pengetahuan saya tentang barang “titipan” makin lama makin diperkaya. 


saya sempat selalu merasa janggal menggunakan kata “menitip” oleh-oleh, karena kalo “nitip” mestinya bayar kan? tapi kalau ada sanak saudara yang membawa oleh-oleh, barang yang kita “titip” itu tidak pernah ditagih oleh si pembawa. oleh karena itu saya selalu bilang “minta dibawakan” (nggak tau malu mode: on) jika yakin bhw itu pantas dan hubungan saya dengan si pembawa sudah baik / dekat. 


Dengan berkembangnya sarana internet dan e-mail, tentu saja romantisme “bandeng presto semarang” di jaman sekarang tidak lagi seperti di tahun 80-an, ketika saya pertama kali mencicipi oleh-oleh khas dari semarang tersebut. Kita juga sudah tidak terikat pada handai taulan yang sedang berkunjung dari jauh.
 
Gimana pengalaman teman-teman tentang oleh-oleh khas, yang pernah (atau selalu) Anda minta dari pengunjung? Dan oleh-oleh apakah yang selalu Anda bawakan jika berkunjung ke atau pulang dari luar kota/luar negeri?

salam hangat,
Jo

5 thoughts on “(Import posting) Oleh-oleh khas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s