Suatu cerita yang tersisa dari Café de Coral



 


Siang itu saya makan siang bersama kerabat.  Untuk praktisnya, mampir di resto fast-food terdekat tempat kami berpijak.  Resto fast-food yang selalu penuh pengunjung, menandakan semakin banyak orang lapar yang tidak sempat pulang ke rumah dan memilih makan di luar demi alasan waktu, kepraktisan dan sederatan alasan lainnya yang membuat para penanam modal semakin semangat mendirikan resto di berbagai tempat.


 


Baru saja duduk dan saya lihat seorang pramusaji menuntun Bapak yang satu ini.  Membantunya membawa nampan makanan, dan kemudian membantunya duduk serta memberikan arahan melalui kata-kata yang jelas di mana letak makanan.  Ah, ternyata Bapak itu tidak memiliki daya pandang yang baik.  Mungkin setengah buta.


 


Sembari memasukkan makanan ke mulut, saya tidak berhenti memandangi Bapak di meja sebelah.  Menu makan siangnya sederhana saja, setangkup roti isi dan segelas air putih.  Namun kayaknya uda cukup memenuhi kebutuhan kalorinya hari itu.  Tak lama kemudian, tangannya mengambil sesuatu dari kantong pakaian dan menaruhnya di atas meja.  Oh, si Bapak membawa sebuah radio kecil dan menyetelnya perlahan.  Mungkin, setiap hari hanya itulah teman makan siangnya di tempat ini.  Tak lama, si Bapak turut bernyanyi pelan mengikuti suara dari radio kecilnya.  Saya tersenyum sendiri.


 


Mengingat betapa baiknya layanan dan bantuan mba pramusaji, rasa hangat masih terasa di hati saya.  Setelahnya jadi bertanya sendiri: seberapa baik layanan pramusaji di negeri sendiri terhadap mereka yang cacat? 


 


Melihat Bapak tua ini, saya jadi merenung.  Negeri maju memberikan kontribusi yang baik bagi kaum cacat dalam bentuk fasilitas layanan umum (public service) yang lebih baik: ada jalur khusus yang bisa menjadi tanda ketika yang buta berjalan kaki, ada jalur khusus lainnya bagi mereka yang menggunakan kursi roda, dll  Cacat tubuh tidak menjadi halangan untuk tetap menikmati indahnya dunia.


 


Makan siang itu menjadi berkesan karena perjumpaan saya dengan si bapak.   Bapak yang sudah tua tetapi tetap bisa nikmati hari walo entah ada apa di depan nanti.


 


 


Coral Café – Tuen Muen, 26 Januari 2006


 


 


 


 

5 thoughts on “Suatu cerita yang tersisa dari Café de Coral

  1. Chink… gw jadi ikutan terharu. Hiks hiks… Emang di luar negeri lebih Ok soal pelayanan sama orang cacat. Di Hawaii, orang pakai kursi rodapun bisa naik bus karena ada tempat khusus buat mereka. Even ada pelayanan bus jemputan buat mereka yang bener2 gak bisa ngapa-ngapain. Beda banget sama Indo…. Ohhh Indo Indo…

  2. sutiyoso emang nyebelin..bukan nya mao belain..tapi ada bagus nya juga lho dia..pertama proyek bis trans jakarta nya cukup sukses menurut gue..lalu monas, sejak di pagarin monas jadi tempat yang sangat menyenangkan..dan terakhir, peraturan bebas rokok di tempat umum..lumayan kan untuk seorang guberrnur ?? tinggal orang2 nya aja nehh..gitu lhoo..Tapi memang fasilitas untuk orang cacat masih kurang banget..mungkin nanti2 yah..

  3. Klo mo bikin daftar orang nyebelin, kayaknya sampe semua pohon dipotong juga ga selesai nulisnya… gw pikir mah, jadi pemerintah ga gampang… uda cape, dimaki, dikritik, dll… khususnya di Jakarta (dan Indonesia), masih setumpuk-segudang PR yang kudu dikelarin… *sigh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s