Guangzhou ternyata begini…


Sayur sawi di resto ‘Rich Countryside’ mirip kayak kimchi

Guangzhou adalah salah satu kota yang dikenal orang Indonesia. Waktu saya bilang mau ke China, kebanyakan langsung tanya: ke Guangzhou ya? Padahal, Guangzhou adalah salah satu kota yang paling tidak menarik bagi saya. Entah kenapa.

Berhubung uda di Shenzhen, sayang rasanya klo ga sempet mampir ke Guangzhou. Jadi Senin, 6 Februari 2006 lalu saya pergi ke Guangzhou. Pergi pagi dan pulang malam. Bis menjadi sarana transportasi nyaman dan murah meriah tentunya ^_^

Saya naik bis dari wilayah Nan Shan, Shenzhen, dan tiket bis seharga 55 yuan. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam dan tiba di Guangzhou sekitar pukul 11 siang. Kesan pertama saya tentang Guangzhou: kayak Jakarta ya? Andaikan seluruh Jakarta modelnya mirip area Gajah Mada dan sekitarnya, jadilah itu Guangzhou hehehe…

Guangzhou pun terkenal dengan polusi udaranya. Saya tidak sadar ada perubahan yang jelas mengenai hal itu, sampai saya bersin-bersin. Ted, teman yang menemani jalan-jalan hari itu di Guangzhou bilang, udara Guangzhou memang tidak nyaman dan polusi sangat kental. Banyak orang jadi sering bersin begitu tiba di Guangzhou.

Melewati makan siang di salah satu resto masakan Guangdong di wilayah Tian He. Ciri khas masakan Guangdong adalah rasa masakan yang lebih ‘plain’, tidak banyak bumbu, dan mengandalkan keaslian karakter utama (misalnya masakan ikan dan sayur: kesegarannya). Btw, jenis masakan Guangdong adalah jenis masakan yang umum disajikan di resto-resto Chinese food di Jakarta.

Melalui ngobrol-ngobrol, saya menjadi lebih jelas: kebanyakan orang WNI Keturunan yang ada di Jakarta (dan mungkin Indonesia) berasal dari wilayah Guangdong (misalnya orang Hakka, yang dalam Mandarin disebut ‘Ke Jia’) Jadi ga heran ketika di Guangdong, profil orang-orangnya mirip sekali dengan profil orang-orang WNI Keturunan yang biasa saya lihat di Jakarta. Beda wilayah, beda profil soalnya. Klo ke kota lainnya, walo sama-sama ras Chinese, profilnya berbeda.

Setelah makan siang, sisa siang itu saya lewatkan di Jalan Beijing, salah satu jalan terkenal di Guangzhou – yang modelnya mirip Pasar Baru-nya Jakarta. Beijing Lu merupakan salah satu ‘bu xing jie’ (jalanan khusus pejalan kaki) di Guangzhou. FYI: Guangzhou adalah salah satu tempat terbaik untuk berbelanja: murah-murah!! (lebih murah dari Shenzhen)

Cape jalan-jalan, saya mencoba cemilan sore ala Guangzhou (foto terlampir) dan makan malam kembali dilewati dengan masakan Guangdong.

Malamnya, saya kembali ke Shenzhen. Harga tiket berbeda sedikit, 60 yuan sekali jalan.

24 thoughts on “Guangzhou ternyata begini…

  1. Sama Sin, gue juga dari dulu gak tertarik Guangzhou, walaupun 'kampung' kakek n nenek gue di sono. Walaupun…. setelah liat makanannya… kayaknya menarik neh . hahahahaha

  2. Ven, gw selalu disuruh pergi belajar bahasa ke GZ. Tapi entah, gw ga mau aja. Walaupun Changsha ga semodern GZ, ga sekeren GZ, gw milih CS daripada harus ke GZ.

    Soal makanan, itu diaaa… emang enak Ven!!

  3. Mirip Ta. Soalnya masakan Guangdong adalah masakan yang biasa ditemui di Indonesia (berhubung kebanyakan orang WNI Keturunan di Indonesia berasal dari Guangdong). Yang agak aneh (berhubung belum pernah) adalah puding susu sapi itu. Susu sapi segar klo dipanaskan biasa kan ada putih-putih di permukaannya. Nah itu menurut gw rasanya 'sapi' banget. Yang kayak geto dibuat jadi puding, terkenal banget di resto-resto masakan Guangdong.

  4. emang unik banget rasanya…. makanya dari 4 snack itu, cuma yang itu gw potret lagi (pas uda setengah abis heheh). Dari awal makan, ga ketebak itu apaan. Sampe akhirnya temen gw, Ted, bilang nama makanan itu dalam Mandarin, gw tetep ga 'ngeh. Baru ngerti setelah akhirnya waitress bawain bintik wijen hitam hehehe…

  5. huaaa.. asik beneeerr… gw ntar mo posting rute METRO (mrt) Shenzhen plus tempat-tempat menarik (shopping/cafe, dll) di sekitarnya, mungkin bisa buat referensi elo di SZ. Klo suka taman, di SZ ada 1 taman yang menarik.

  6. di tempat-tempat yang menyajikan 'susu palsu' rasanya memang eneg, soalnya manis dan creamy susu banget. Tapi di tempat yang gw makan ini, puding susu sapi murni itu dikasi kuah jahe sedikit jadi lebih seger. Awalnya gw pikir kembang tahu (karena ada kuah jahenya), ternyata susu sapi.

  7. Sin, buat gue makanan Guang Zhou keasinan… ntah mungkin kita beda selera…
    Trus, org2 WNI keturunan di Indonesia lebih mirip org2 Hongkong yang necis… (beda lagi penglihatan gue sama elu…. :D)

  8. Menurut sejarah, kebanyakan orang HK aslinya adalah orang Guangdong… bedanya mereka telah terpisah puluhan tahun dari Mainland sehingga gayanya uda beda banget… Jadi klo ada miripnya ya ga heran, toh sama-sama berasal dari Guangdong… *BYKS

  9. Nimbrung nih, katanyadi GZ banyak copet, apa bener? terus tempat jalan/wisata kemana aja? tks ya…
    Soalnya saya dah mau berangkat ke hongkong terus ke shenzhen dan GZ bulan Okto 2010 nanti.
    tks

  10. asal berhati-hati, Bapak pasti baik-baik saja. Maklum tempat ramai Pak, ibaratnya kayak di pasar Senen, Jakarta. Asal berhati-hati dan tidak menyolok, menurut saya akan baik-baik saja.

    Berapa lama rencana di GZ? Jalan sendiri atau bersama tour?

  11. oh gitu ya…saya jalan sendiri dengan anak dan istri, bertiga. kami stop di macau, rencana naik ferry ke HK, nginep beberapa malam terus ke Shenzhen dan GZ. Total 11 hari. Bisa bantu, gimana baiknya rute perjalanannya? di GZ ada apa aja yang menarik dikunjungi? anak saya kelas 4 SD. Kayaknya untuk 11 hari cukup lama, jadi kalo cuma HK dan SH kan kelamaan. tolong masukan. tks ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s