Xiamen, April 3-6, 2006

Xiamen, salah satu propinsi di China yang terkenal dengan istilah ‘huaqiao’ (overseas chinese), kota yang cantik berkat letaknya di tepi laut. Xiamen adalah ibukota dari propinsi Fujian, daerah yang familiar berhubung orang Chinese di Indonesia banyak sekali yang berasal dari sini. Selain itu, populasi pelajar Indonesia yang belajar di Xiamen University (XMU) saja setidaknya melewati angka 200, belum lagi pelajar Indonesia di universitas lainnya. Jadi ketika ada yang tanya saya dari mana, dan saya menjawab dari Indonesia, yang nanya langsung ngeh — beda banget ama di propinsi lain (apalagi di kota saya belajar!!), uda dibilang beberapa kali tetep aja ga tau di mana Indonesia. Kadang biar ga lama-lama, saya jawab sekenanya aja, dari Thailand…. ato, dari Amrik… ato dari Korea ato mana aja yang lebih populer di telinga hihihi…

Salah satu lokasi yang sayang dilewatkan selama di Xiamen adalah ke pulau Gulangyu. Letaknya persis di depan Xiamen, naik jetfoil sekitar 20 menit. Sarana transportasi jetfoil ini ibarat angkot yang selalu tersedia dari pagi sampe malem, secara banyak banget orang Gulangyu yang kerja di Xiamen (jadi sore pulang kerja balik ke rumah di Gulangyu naik jetfoil).

Banyak tempat menarik di Gulangyu, misalnya:
* Guanfu Classic Art Museum – banyak barang antik mulai dari guci, kursi antik yang biasa diliat di film-film silat jaman dulu, ranjang tua yang berkelambu ala putri-putri China, lemari (**kok kayak model Jepara ya? hihihi), dll…
* Piano Museum – pulau Gulangyu terkenal dengan banyaknya pemain piano. Hampir setiap penghuni di rumah mampu memainkan alat musik ini. Di museum tersebut ada berbagai macam piano yang kuno dan antik, dan serunya… kebanyakan berasal dari Eropa!
* Underwater world alias Seaworld versi Gulangyu. Saya pikir bakalan basi, tapi ternyata koleksi ikannya lumayan lengkap. Semua model ikan di film NEMO ada semua di situ! Yang paling berkesan buat saya adalah ketika liat ikan naga alias Dragon Fish, bentuknya lucu banget, kayak naga kecil yang berenang di air.

Suasana kotanya juga menarik, walo judulnya di China, tapi arsitektur perumahan di pulau Gulangu seperti di Eropa, dengan pilar-pilar kokoh dan bata merah. Jalanannya pun kecil-kecil seperti gang dan model batu. Seorang teman nyeletuk, seperti jalan-jalan di Itali ya. Serunya, sepanjang berjalan, tidak ada satupun kendaraan bermotor di sana! Jadi, kota ini lumayan terselamatkan dari bahaya polusi.

Selain ke Gulangyu, hal lain yang berkesan di Xiamen adalah menghadiri 85th Anniversary Xiamen University. Dalam satu jamuan makan, selain para tokoh akademik yang hadir di sana — baik dari dalam dan luar China, diperkenalkan kepada kami semua yang hadir: Mrs. Fullbright, istri dari Fullbright, founder dari Fullbright Foundation, yayasan yang ngasi beasiswa kepada pelajar dari seluruh dunia. Wah saya terkesan banget liatnya, ga kebayang ketemu ama Mrs. Fullbright. Selain beliau, beberapa penerima nobel juga hadir memenuhi undangan 85th Anniversary Xiamen University.

Setelah jamuan makan malam, para tamu dipersilakan menghadiri acara konser musik yang diadakan di lapangan terbuka dan disiarkan secara langsung oleh CCTV.

Klo ada yang mau ke Xiamen, MUSTI mampir ke Gulangyu. Fun!

11 thoughts on “Xiamen, April 3-6, 2006

  1. Waduh, seru nih jalan2 mulu….
    Ching, emank kalo lu jalan2 gitu naek pesawat brapa duit ya? juga tinggalnya dimana? mahal gak? Gue kan mau ke China 3 minggu lagi niy, masi blon bisa mutusin mau kemana… hehehe… kalo dari Beijing-Guangzhou tiket lokalnya beli disono brapa duit ya? apa lebih murah dari di internet?

  2. Shinta,
    Pesawat tergantung jarak. Klo dari Selatan ke Utara (misalnya dari Changsha ke Beijing) sekitar 2 jam dan harga tiket pesawat sekitar 1000 yuan lebih. Tinggal juga tergantung, klo ada tebengan ya nebeng, klo ga ada ya cari hostel yang murah, tergantung bujet hehehe…. Tiket bisa dicek di internet, bisa juga langsung beli di sini..

    Chel,
    Iya, kayaknya mah langka, gw juga ga pernah liat sebelumnya. Asli lucu banget deeh

  3. Ini namanya bamboo or razor clam (karena bentuknya kayak bambu). Dia menancapkan diri di pasir, jadi wkt nyabut harus hati2 sekali karena isinya mencengkram kuat ke dlm pasir. Kabarnya enak sekali…. bener yah Sin :(( :((.

  4. saya malah ga tau nama englishnya, taunya bhs.dialek, kita sebut “theng” kalo bhs.Henghwa, cangkangnya “garing” tapi tentu tdk untuk dikunyah, dagingnya manis dan tdk amis samasekali, dulu nenek & mertua saya suka masak soup kental, rasa asem2, pake seledri yg lumayan banyak, jadi seger2 gitu, sayangnya di JKT tdk keliatan.

  5. Ven, benernya gw juga ga tau ini apaan… yang host kita lunch siang itu juga ga tau apa istilah Inggris untuk binatang ini. Dagingnya kayak cumi, warna putih agak alot geto. Ngeliat bentuk utuhnya gede banget tapi setelah dimasak, tersaji dalam bentuk potongan kecil di piring (serem kali ya klo bentuknya sama seperti belum dimasak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s