Nanjing, 6-9 April 2006

Nanjing adalah kota favorit yang saya kunjungi dibanding dua kota lainnya (Xiamen dan Beijing). Kota yang asri, banyak pohon di sisi jalan (bagi mata saya, melihat jejeran pohon di pinggir jalanan China adalah suatu yang cukup langka hehehe). Ketiganya sama asiknya, tapi Nanjing meninggalkan kesan tersendiri. Kotanya mungkin tidak secantik Xiamen yang memiliki pemandangan laut dan tidak semodern (atau sepolusi?) Beijing, tapi suasana budaya China yang tampak dari arsitektur bangunan di Nanjing menimbulkan perasaan berbeda.

Nanjing adalah ibukota China sebelum akhirnya dipindahkan ke Beijing. Di Nanjing pulalah terdapat pembantaian sekitar 30.000 orang penduduk Nanjing yang dilakukan dengan sadis oleh Jepang. Sayang, saya ga sempet dateng ke Museum Nanjing Massacre, telat 20 menit waktu saya dateng😦 kabarnya, di situ terdapat berbagai dokumentasi gambaran kekejaman pembantaian yang dilakukan di Nanjing.

Waktu saya minta waktu untuk berkunjung ke museum itu, 2 orang mahasiswa Southeast Uni yang menemani saya menampakkan ekspresi terkejut. Saya sampai ikutan kaget juga, apa ada yang salah dengan permintaan itu. Mereka bertanya, mengapa saya ingin datang ke museum itu. Saya malah heran, bukannya museum itu sangat terkenal ya, tentu wajar klo saya ingin tau. Menurut mereka, biasanya mereka tidak pernah membawa orang asing berkunjung ke museum itu. Terlalu pahit, menurut mereka, tapi mereka tidak keberatan mengantar saya ke sana. Sayang, museum itu uda keburu tutup waktu saya dateng.

Secara kebetulan, 3 hari lalu saya menonton CCTV 9 International yang menengahkan acara dokumenter mengenai kisah seorang warga China mewawancarai para veteran perang Jepang yang pernah terlibat dalam pembantaian di Nanjing. Kisah ini sedemikian terkenalnya sehingga akhirnya membuahkan inspirasi untuk dipentaskan dalam bentuk drama panggung.

Dalam suatu adegan, ketika para veteran Jepang tersebut ditanya mengapa mereka membantai begitu banyak penduduk Nanjing waktu itu, si veteran menjawab, “karena kalian, orang China, bertahan sedemikian tangguhnya ketika di Hangzhou, Suzhou, dan daerah-daerah lainnya!!” Mendengar jawaban demikian, si orang China spontan menjawab dengan marah, “Negara mana yang tidak akan bertahan bila diserang!!”

Selain mengunjungi Museum Sun Yat Sen dan Imperial Palace (yang terawat dengan sangat baik hingga kini), salah satu yang menurut saya tidak boleh dilewatkan bila ke Nanjing adalah Confusius Temple. Daerah pedestrian street yang khas China jaman dulu, bentuk bangunan kuno (tapi terawat dengan baik), membuat pikiran saya melayang pada berbagai film China (silat terutama) yang pernah saya tonton dan membayangkan apa yang terjadi tempat yang saya jalani tersebut di masa lampau. Mengunjungi tempat ini di siang hari atau di malam hari sama asiknya.

Salah satu resto yang menyediakan menu khas Nanjing berada di daerah Confusius Temple, nama restonya: Wan Qing Lou 晚 晴 楼。 Yang special dari resto ini adalah setiap orang mendapatkan menu yang sama, tersaji dalam porsi kecil. Ada beberapa paket yang tersedia. Yang saya makan malam itu adalah paket 120 yuan/orang (mahal banget untuk ukuran makan di China!!), yang menyajikan sekitar 18 macam menu!! Yang paling ‘serem’ buat saya adalah ketika membuka salah satu bungkukan aluminium foil, yang saya kira adalah daging biasa atau sayuran, tapi beneran shock pas tau isinya adalah kura-kura kecil!! (foto terlampir) saya menahan rasa mual ketika harus memakannya, berhubung di depan saya adalah tuan rumah yang menjamu malam itu. Rasa dagingnya seperti ikan.

Oya, beberapa barang (suvenir) yang sama yang dapat dibeli juga di Beijing, tersedia di Nanjing dengan setengah harga! Misalnya, baju cheongsam (qipao) untuk anak-anak, bila di Beijing sekitar 40 yuan (setelah tawar), di Nanjing dapat dibeli dengan harga 20 yuan. Tempat tisu, dompet ala China, tempat kosmetik dll yang pernah saya liat di HK dengan harga 15 HKD, dapat dibeli di Nanjing dengan harga 5 yuan saja!!

Nanjing: very recommended!

6 thoughts on “Nanjing, 6-9 April 2006

  1. ci Olee… ga tau namanya apa, tapi menurut orang lokal, makhluk ini adalah sejenis ikan (dalam namanya mengandung karakter 'ikan' atau 鱼 – yu). Rasa dagingnya pun seperti ikan. Klo melihat bentuknya, kayaknya sih kura-kura kecil ya… karena ada cangkang penutup badannya.

  2. Di situ ga ada aturan mana dessert ato bukan, tapi datengnya berbarengan. Jadi mungkin ya terserah kita aja mo makan mana yang duluan. Mustinya sih bukan dessert ya Ven (*serem amat dessertnya darah)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s