Feng Huang 凤凰, 19-20 Juni 2006

Feng Huang 凤凰 atau yang boleh disebut Phoenix City, 8 jam perjalanan
dengan kereta dari Changsha – ibukota Hunan, adalah suatu kota kuno
yang menjadi incaran saya sejak lama, berhubung mendengar begitu banyak
cerita menarik tentangnya. Minggu lalu, saya mendapat ajakan
untuk bareng 3 teman lainnya berkunjung ke Feng Huang.

Minggu, 18 Juni 2006

Pk. 22.05 naik kereta dari Changsha 长沙. Hard-sleeper 149 yuan,
saya memilih di tengah (3 susun ceritanya). Gak lama setelah
kereta jalan, saya langsung tertidur, lepasin cape setelah paginya
ikutan HSK dan sekalian nabung tenaga untuk di Feng Huang.

Senin, 19 Juni 2006

Pk. 07.00 tiba di Ji Shou 吉. Waktu lagi cari bis untuk lanjut
perjalanan ke Feng Huang, ternyata ada taksi yang menawarkan 15
yuan/orang hingga ke Feng Huang. Setelah berpikir cepat,
mengingat kalau naik bis harganya kurang lebih sama (12 yuan/orang),
maka Stephani segera menyetujui tawaran tersebut. 15 yuan/orang
plus AC dan kenyamanan, suatu harga yang pantas untuk 1 jam perjalanan
menuju Feng Huang.

Tiba di Feng Huang, kami check-in di hotel kecil seharga 40
yuan/malam/twin-bed tanpa sarapan (jadi 20 yuan saja per orang!! —
wow). Menaruh barang kemudian duduk di balkon yang menghadap
langsung ke sungai Tuo Jiang. Melihat pemandangan alam dan
kehidupan yang sederhana dan alami merupakan suatu kesegaran
tersendiri. **Ah, jadi kangen Bali…

Setelah puas duduk dan bebersih, kami keluar dari penginapan, siap
menjelajahi Feng Huang. Mampir dulu di Soul Cafe, menikmati
segelas ice cafe latte seharga 23 yuan (standard untuk ukuran Starbuck,
mahal untuk ukuran Feng Huang… yah maklum daerah turis) sambil duduk
menghadap sungai, memandang orang-orang yang lewat, menatap para
penduduk setempat yang menawarkan jasa naik perahu, memperhatikan para
penjual perak yang menjajakan dagangannya di sekitar sungai…

Feng Huang merupakan salah satu kota kuno 古城 di China. Salah satu
kota kuno yang terkenal lainnya adalah Li Jiang di Yunnan. *kapan
ya ke sana?
hmm… Menurut legenda, Feng Huang dinamakan demikian karena
dulunya ada sepasang burung Phoenix yang terbang melintasi daerah ini
dan melihat betapa cantiknya kota ini sehingga akhirnya memilih tinggal
di dalamnya. Sejak itu, maka kota kuno ini disebut Feng Huang.

Feng Huang terkenal dengan manisan kiwi kering dan permen jahe.
Kabarnya, Feng Huang merupakan daerah penghasil kiwi dan jahe terbanyak
di seluruh China. Saya juga sempat melihat pembuatan permen jahe
yang banyak terdapat di pinggiran jalan. Dan selain itu, yang
pantang dilewatkan adalah… daging babi asap – smoked pork
(bacon) atau 腊肉, rasanya mantap sekali. Memang rasanya tidak jauh
berbeda dengan yang pernah saya coba sebelumnya di Changsha, tapi perlu
diakui smoked bacon di Feng Huang enaaaaakkk.. sekali… Stephani
bilang, la rou Hunan paling enak adalah yang berasal dari Barat Hunan,
salah satunya ya Feng Huang ini… Malah sebelum pulang, Stephani
membeli beberapa la rou dalam kemasan untuk dibawa pulang ke Amerika…

Setelah makan siang (18 yuan/orang setelah dibagi rata), kami
melanjutkan perjalanan menjelajahi kota ini. Melihat pasar
setempat dan sempat mampir di toko kerajinan dinding dari kulit.
Stephani membeli kerajinan dinding yang cantik seharga sekitar 400 yuan
dengan ukuran 60×60 (apalagi klo bukan untuk dibawa pulang
kampung). Diana membeli cermin kecil yang berlapis kayu di pasar
tradisional. Saya? Beli manisan kiwi kering beberapa
bungkus, enaak soalnya
Setelah puas jalan-jalan, kami sepakat untuk naik perahu menikmati
sungai dengan harga 20 yuan/orang selama 1 jam. Baru saja duduk
di perahu, turun hujan dan makin lama makin deras. Pemandangan
menjadi kurang jelas dan saya tidak bisa mengambil foto dengan puas
berhubung hujan membasahi diri saya hingga basah setengahnya…

Selesai naik perahu, kami sempat berkunjung ke makam Sheng Cong-wen,
seorang penulis kenamaan China yang memang merupakan penduduk asli Feng
Huang. Selain itu, beliau adalah salah satu orang yang konsisten
memperjuangkan keindahan Feng Huang sehingga dikenal oleh
masyarakat. Sayang, ketika akhirnya dinobatkan sebagai salah satu
penerima Nobel, beliau telah keburu meninggal sedangkan syarat untuk
menerima nobel adalah harus dalam keadaan hidup. Sheng Cong-wen
meninggal dalam usia 86 tahun di tahun 1988, namun makamnya baru
dibangun pada tahun 1992. Peti mati beliau diusung dengan perahu
hingga ke lokasinya sekarang. Yang menarik dari batu nisan
tersebut adalah ketika diperhatikan, dari bawah ke atas terdapat tangga
berbentuk silang sebanyak 86 anak tangga (mewakili umur beliau 86
tahun) sebagai bentuk dari karakter wen 文, kemudian batu nisan adalah
titik (dot) dari karakter wen tersebut.

Berhubung hari menjelang malam, kami mampir ke resto dan menikmati makan malam. Dan salah satu menunya terdapat la rou
— setiap orang mengeluarkan 33 yuan setelah dibagi rata. Malam
itu, selain kami berempat, kami mengundang 2 orang penduduk lokal yang
menjelaskan sejarah Sheng Cong-wen untuk makan bersama.

Hari semakin malam dan sebelum kembali ke penginapan, kami menyempatkan
duduk di pinggir sungai, menikmati malam sambil memandang para penjual
lilin. Jadi, selama 2 tahun terakhir ada kebiasaan di Feng Huang
(yang akhirnya menjadi bisnis baru) untuk mengalirkan ‘perahu’ yang
berisi lilin di dalamnya (ada berbagai bentuk: perahu, bunga dll) ke
dalam aliran sungai. Indah dilihat, bahaya bagi lingkungan
sebenarnya. Karena toh akhirnya semua jadi sampah, apalagi kertas
yang menjadi bahan perahu adalah kertas berwarna yang kalau dalam
jumlah banyak tentu akan mengotori sungai.

Puas menikmati pemandangan malam di tepi sungai, kami kembali ke
penginapan. Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika saya naik ke
pembaringan…

Selasa, 20 Juni 2006

Terjaga pukul 6 dan berusaha tidur lagi. Tapi mata ga cukup
kompak sehingga akhirnya saya memutuskan jalan kaki sambil memuaskan
rasa ingin tahu, bagaimana pemandangan dan aktivitas sekitar sungai di
pagi hari.

Hari masih pagi tapi aktivitas sudah beraneka ragam. Dari yang
senam, cuci baju, jalan-jalan, jualan.. sampe yang sibuk foto sambil
mengenakan pakaian daerah suku setempat (suku Miao — salah satu suku
minoritas di China). Saya ga melewatkan kesempatan untuk
mengambil foto lebih banyak, mengingat begitu hari sudah panas,
matahari yang terik tidak terlalu bersabahat dengan lensa kamera *ini
mah alesan aja, emang digicam standard hehehe…

Kembali ke hotel, beberes dan check out, kami bersiap-siap untuk
mengunjungi Southern Great Wall. Tembok China?? Yup.
Baru tau kan, ada tembok China juga di Selatan… hehehhe, tapi ini ga
ada hubungannya dengan Great Wall di Beijing, secara ga nyambung dan
fungsinya juga berbeda. Yang di selatan ini, kabarnya dulu
berfungsi sebagai salah satu tembok pertahanan perang antar suku.
Daaan.. kabarnya juga hanya sepetak yang asli, sisanya uda re-built
hehehhee… Great Wall juga sama kok, uda re-built sebagian. Yah
maklum aja, kan sudah bertahun-tahun, klo tiap turis nyolong 1 potong
bata setiap kali kunjungan sebagai oleh-oleh, bisa ditebak bagaimana
jadinya setelah bertahun-tahun setelahnya…

Jadi, apakah Great Wall — yang katanya adalah one of 7 wonders of the
world — adalah palsu?? *berhubung uda re-built* (mentang-mentang
China terkenal dengan banyak barang palsu, masa Great Wall juga
palsu??) — hehehe, Stephani dengan enteng berkata, yah sama aja
klo orang operasi plastik, apakah mukanya palsu? Kan engga…

hahahhahahaa… *tau ah, gelap*

Anyway, setelah naik bis kurang lebih 40 menit, akhirnya sampai juga di
Southern Great Wall. Setelah membeli karcis masuk (harga resmi 45
yuan/orang, dengan kartu pelajar saya hanya membayar separuhnya!!),
kami berempat menaiki anak tangga. Belum sampe tembok beneran aja
uda berasa cape. Begitu sampe atas, ternyata boro-boro separuh,
paling juga baru seperdelapan aja. Daaaann… sederetan anak
tangga masih menunggu untuk dinaiki… Saya dan Stephani dengan
gagahnya komentar, ah sapa takut, apa gunanya tinggal di lantai 6, tiap
hari kan uda terlatih… Walo uda terlatih, yang namanya naik
tangga dalam jumlah ratusan tetep aja… CAPEEEEE!!!! Stephani
dan Diana mendahului saya dan Joy yang dengan tertatih-tatih akhirnya
sampe juga ke atas…

Sambil berjuang menaiki anak tangga, kepala saya mengambil kesimpulan,
pantes ya banyak sekali perempuan di China punya perut six-pack semua..
alias flat bagaikan disetrika… padahal makannya banyak, nasi bisa 2-3
mangkuk, daging babi bertebaran di setiap lauk… bayangin aja, lah
gimana ga langsing klo aktivitas rekreasi regular tiap minggunya pergi
naik gunung ato naikin anak tangga kayak yang saya lakukan itu…
Lah sedangkan di Jakarta, aktivitas akhir pekannya jalan-jalan di mal,
makan dan naik mobil… *ide baru untuk langsing: rajin mendaki??
— dan sambil terus mendaki, saya membayangkan banyaknya kalori
terbakar setelah sehari sebelumnya makan nasi 4 mangkuk…

Akhirnyaaa.. sampe juga!!!
dan ternyataaa… Southern Great Wall masih panjaaaaaaaannnngggg…
astaga, itu bisa seminggu kali baru sampe. Ketika letih dan
memandang ke angkasayang biru cerah, cakrawala terbentang dan
pemandangan sawah membentang, kok rasanya sudah dekat ke langit..
hehehhee, jadi timbul topik baru di kepala: siapa bilang Temple of
Heaven (Tian Tang 天堂) cuma ada di Beijing? Lah di selatan juga
ada, buktinya di Southern Great Wall hihihi…

Setelah puas berjemur, kami menuruni anak tangga. Berbeda dengan
waktu naik, rasanya ga sampe-sampe, lah ini turun ga sampe setengah jam
uda sampe. Kami keluar gerbang dan menunggu bis untuk kembali ke
kota. Bis ga lewat juga, tapi ada omprengan, dengan harga 4 yuan
kami turun di Jembatan Pelangi – Hong Qiao 虹桥. Perut keroncongan
berat akibat hasil sok jadi jagoan ala Vertical Limit.

Makan siang 20 yuan/orang setelah bagi rata, dengan salah satu menu la
rou tentunya *teteeeuupp!* Setelah makan siang, saya, Stephani
dan Diana masih melanjutkan jalan-jalan sambil mencari permen jahe
sebagai oleh-oleh, sedangkan Joy memilih untuk menunggu sambil ngopi di
Soul Cafe. Kami juga menyempatkan mampir di toko la rou.
Steph dan Diana membeli beberapa bungkus untuk dibawa pulang kampung.

Dan sisa sore itu kami nikmati sambil duduk di Soul Cafe.
Menikmati segelas Frappu Vanilla seharga 25 yuan. Sekitar pukul 5
kami kembali ke penginapan, mengambil ransel dan kembali ke Ji
Shou. Walaupun perjalanan pulang dari Feng Huang ke Ji Shou tidak
mendapatkan taksi murah seperti waktu kami datang, naik bis seharga 6
yuan rasanya bisa terbilang sangat memuaskan. Ditambah lagi
dengan adanya undangan makan malam dari seorang teman sebelum kami naik
kereta pukul 9 malam kembali ke Changsha, membuat saya merasa beruntung
bisa ikut dalam perjalanan ini.

Hard-sleeper 149 yuan, tetap dengan pilihan favorit di tengah, menjadi
tempat pembaringan saya malam itu. Kereta meninggalkan Ji Shou
pukul 9 dan baru tiba di Changsha keesokan harinya, Rabu 21 Juni 2006
pukul 7 pagi.

Feng Huang: highly-recommended!

*notes: only for those who like culture, old-fashioned place.

Foto-foto ada di bagian foto dengan judul sama.

Changsha, 21 Juni 2006

6 thoughts on “Feng Huang 凤凰, 19-20 Juni 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s