Summer Camp 2006: Ketika Huaqiao Berkumpul


11.26 pm.

Ah, akhirnya sampe rumah juga.  Sejak Jumat 7 Juli kemaren, tugas
saya sebagai salah satu… apa yah namanya?  Yah bisa dibilang
pembantu, escort, asisten ato apalah, dalam pelaksanaan Summer Camp
2006 dimulai.  Akhir Mei lalu saya mendaftarkan diri untuk secara
sukarela membantu pelaksanaan Summer Camp 2006 yang diadakan oleh
Pemerintah China. Yah itung-itung nyari pengalaman, gimana sih rasanya
kerja bareng ama orang lokal sini, gimana sih atmosfir kerja bareng
dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang biasa saya pake. 

Saya ikut program yang sama waktu Desember 2004.  Program ini diadakan setiap tahunnya oleh Pemerintah China bagi huaqiao (Chinese Overseas),
tujuannya untuk ngenalin kebudayaan China kepada generasi muda Chinese
sekarang yang kebanyakan uda ga ngerti lantaran lahir/lama di luar
China.  Program ini diadakan di banyak kota, jadi asal rajin cari
informasi, bisa ikutan di kota yang berbeda setiap tahun.

Kerjaan pertama mulai Jumat malem, 7 Juli, yakni ngejemput tim Jakarta
dan Lampung di airport.  Kedatangan yang mustinya jam 9 malem,
delay 3 jam sehingga baru sampe Changsha jam 12 malem.  Selain
dari Jakarta dan Lampung, ada tim Pekanbaru dan Batam yang uda sampe
duluan dengan penerbangan sebelumnya.  Berhubung delay, walhasil
malem itu saya baru pulang nyaris jam 2 pagi.

Salah satu syarat menjadi peserta adalah keturunan China.  Jadi
buat saya, sangat menarik melihat fenomena di sini: tampang peserta
kebanyakan China tapi Chinese bukan bahasa utama.  Tampang boleh
setipe, tapi ketika uda ngomong, ada aja yang berasa beda. 
Salutnya, beberapa orang ngomong lumayan lancar, bikin saya kagum
liatnya.. tapi tetep punya masalah yang kurang lebih sama: giliran
suruh baca ato nulis, semua buta aksara *sama deh ama saya*

Sebagai gambaran… ada 7 peserta dari Kirgizhia *saya mikir keras, ini negara di belah mananya Rusia ya?? ,
ayah Chinese ibu Kirgizhia, para peserta ini sama sekali buta ama
Chinese, bahasa Inggris pun sekadarnya.  Asli tampangnya lucu,
campuran yang sangat unik.  Teruuus.. ada 2 cewe manis dari
Norwegia, ortu asli China yang pindah ke sana jaman dulu kala, ada 2
brondong lucu dari Perancis (ini juga kondisinya sama, ortu migrasi ke
Perancis jaman kuda gigit besi dulu), dan kebetulan… para ortu mereka
punya resto Chinese food di tempat tinggal masing-masing.  Sama
yah ama di Indonesia, banyak banget orang Chinese yang buka resto
Chinese food  
— well, kesimpulannya, tampang boleh setipe, tapi ternyata dari negara
yang berbeda, dan lantaran acara Summer Camp jadi ngumpul bareng. 
Lucu rasanya.  Bikin saya mikir, orang Chinese yang migrasi
beneran deh.. BUANYAAAAAAAAAKKKKKKK banget…  

Kegiatan Summer Camp lumayan bervariasi: selain belajar bahasa, belajar
bikin kerajinan tangan, belajar taichi, kunjungan ke museum Maozedong
(maklum, doi orang Hunan), dll, para peserta dijadwalkan berkumpul di
Beijing tanggal 16-20 Juli.  Selain kunjungan ke Great Wall dan
tempat-tempat wisata lainnya, para peserta Summer Camp Changsha akan
bertemu dengan ratusan huaqiao lainnya yang akan hadir di Beijing atas undangan Pemerintah Beijing.

Besok masih kerja lagi.  Ntar lanjut lagi ceritanya ya…  Nite nite…

Changsha, 9 Juli 2006 —

10 thoughts on “Summer Camp 2006: Ketika Huaqiao Berkumpul

  1. yupe.. sin.. org China kaannnnnnnn buaanyaaaaakkk banget, bayangin aja di Cina aja masih 1.3 m loohh… gmn kalo pada gak migrasi yah….
    eh iya, ada temen g, neneknya pernah ke indo loh.. trus pulang ke Cina, abis itu mereka migrasi ke Thailand n menetap di sana…..

  2. walah, kalo seperti yang lu bilang, mereka ngomong chinese tapi buta aksara, adek gue paling parah donk? ngomong pun cuman bisa satu dua kalimat yang sederhana, soalnya di rumah kita gak pake bahasa mandarin, makanya dia gak pede ikutan tuh… gue aje paling gak ngerti apa2 di keluarga gue… sampe diajarin berkali2 harus jawab apa kalo pertanyaannya “ni hao ma?”, sampe sekarang gak nyantol2 di otak… hihihi…
    *ditunggu cerita2 selanjutnya*

  3. Mustinya ada Rus, entah di kota mana. Tahun lalu di Xiamen dan Beijing. Waktu pelaksanaannya pun beda-beda, kadang winter kadang summer. Info ini sempet gw posting di JS kira-kira 1 bulan sebelumnya. Untuk batasan usia, paling kecil 11 tahun, yang penting anaknya uda bisa mandiri, uda bisa dilepas (bisa ngurus diri sendiri, mandi, packing, dll — karena setiap anak dapat kamar sendir — twin bed). Biasa tiap kota ada team leadernya, untuk Jakarta ada laoshi Lan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s