3 Hari di Saigon: Ini Ceritanya ^_^

Perjalanan ke Saigon bermula dari keisengan lirak-lirik web www.mangocity.com
pertengahan Agustus lalu, ceritanya pengen cari tiket murah ke kota
lain mumpung liburan masih panjang. Ternyata malah nemuin
penawaran khusus tiket pesawat Shenzhen-Saigon-Shenzhen seharga 899++
plus kamar hotel bintang 3 selama 1 malam. Total harga tiket
setelah tax dll jadinya dibandrol 1450 yuan. Wah lumayan banget
nih pikir saya waktu itu, kapan lagi ke Saigon dengan harga murah
geto?

Rabu, 30 Agustus — perjalanan dimulai

Berangkat dari Shenzhen pukul 8.30 malam dan tiba di Saigon (aka Ho Chi
Minh City) pukul 9.30 malam. Perjalanan pesawat sebenernya 2 jam
tapi ternyata waktu Saigon lebih lambat 1 jam dari China.

Tiba di Saigon, nuker duit dulu di bandara untuk bekel naik taksi
menuju Bat Dat Hotel, hotel bintang 3 di daerah Cholon aka
Chinatown. Hotelnya standar, tapi kamar dan toiletnya gedeee
banget… Setelah naro koper, saya sempetin jalan-jalan di daerah
sekitar karena pengen liat-liat sekaligus cari cemilan.

Jalan jauhan dikit, boro-boro cemilan, nyari air mineral aja susyeeh,
malah kok tambah sepi aja jadi akhirnya balik hotel deh…

Kamis, 31 Agustus — petualangan dimulai

Setelah nyarap pagi di hotel, saya berjalan-jalan di sekitar Cholon aka
Chinatown-nya Saigon. Berjalan di wilayah ini membuat saya
teringat kota kelahiran, Lampung, soalnya banyak miripnya.
Apalagi waktu liat Thien Hou Pagoda, kok berasa mirip kayak Vihara Tay
Hin Bio di jl. Ikan Kakap hihihi…

Jalan di sini ga lama-lama, soalnya mau check-out dan cari penginapan
baru. Beberapa guesthouse alias losmen backpackers uda tertulis
di catatan saya sebagai referensi. Setelah check-out, jalan kaki
dikit ke halte bus untuk naik bus no.1 menuju Ben Thanh Market.
Bis nya enak, bersih dan AC, seharga 2.000 VND sekali naik.

Turun di Ben Thanh, jalan kaki menuju De Tham Street. Mencari
lokasi Yellow House ternyata tidak sulit. Memang lokasinya di
antara puluhan losmen backpacker dan deretan kantor yang menawarkan city-tour.
Duh untungnya ada kamar kosong, jadi bisa langsung check-in. Naro
ransel dan ngaso bentar, langsung jalan lagi deh. Tujuan pertama:
War Remnant Museum (tiket masuk seharga 15.000 dong/orang).

Sebelumnya saya uda pernah baca beberapa tulisan mengenai Museum ini. Tapi emang yah, seeing is believing… Museum ini bukan museum yang elegant ato sangar gimana sih, tapi museum yang ngasi gambaran gmana seremnya perang Vietnam: what war can do to people

Selesai liat-liat, saya melangkahkan kaki mencari-cari resto Quan an
Ngon
seperti yang direkomendasikan oleh staf Yellow House ketika saya
bertanya, di mana resto Vietnam yang oke. Lokasinya tidak jauh
dari War Remnant Museum dan hanya sepelemparan batu dari Reunification
Palace.

Begitu masuk, wah… kudu antri bow.. Dalem resto terlihat
meja-meja yang penuh dengan muka-muka lapar dan tangan yang gesit
menyantap makanan yang tersedia di meja masing-masing (*masa meja orang
laen?!!). Sambil menunggu mendapat meja, mata saya cepet-cepet
merekam apa yang terlihat di meja, masakan apa yang terlihat menarik,
menu apa yang sering nongol di meja — supaya saya ada gambaran mo
pesen apa nantinya. Saya belum pernah nyobain makanan Vietnam,
jadi boro-boro bahasa asli Vietnam, uda diterjemahin Inggris aja masih
ga kebayang gimana model makanannya, jadi kudu liat apa yang nangkring
di meja dan tanya apa itu namanya supaya ada gambaran jelas.

Nunggunya ga lama kok, dan yang nyenengin, biar ordernya lama (abis
mikir kebanyakan mo pesen yang mana), datengnya cepet banget.
Lebih lama ordernya daripada dateng makannanya hihihi… Dan lebih
cepet lagi waktu makannya hihihi… antara laper, doyan, penasaran, dan
kalap semua tersedia — napsu makan lagi kompak ama tangan yang lincah Cerita soal makanan bisa diintip di sini ya.

Dari Quan an Ngon saya jalan kaki ke Reunification Palace. Tiket
seharga 15.000 dong/orang. Tempat ini isinya cuma ruangan-ruangan
aja, dulunya dipakai rapat dan pertemuan para pejabat negara.

Selesai dari Reunification Palace, lanjut jalan kaki ke Cathedral dan
Central Post Office
yang letaknya persis berseberangan. Keduanya
adalah bangunan dengan arsitektur yang cantik menurut saya.
Cathedral di mana-mana memang keren ya… Baik luar atau dalam, tetep
mengagumkan, ditambah dengan suasana khusuk banget lagi di dalem,
membuat suasana dalam Cathedral menjadi lebih syahduuu…

Puas nangkring di Kantor Pos, saya berjalan menyusuri jalanan sambil
mencari petunjuk di mana Patung Ho Chi Minh berada. Belum ketemu
petunjuknya, ternyata hujan turun rintik-rintik yang kelamaan menjadi
semakin deras. Ah, sayang, ilang deh kesempatan foto-foto di
patung Pak Ho Chi Minh!

Menunggu terlalu lama rasanya tidak terlalu menyenangkan.
Daripada menunggu tanpa berbuat apa-apa, akhirnya (terpaksa) naik taksi
demi terhindar dari basahnya hujan yang mengguyur Saigon (belakangan
saya baru tau klo bulan-bulan ini adalah musim hujan di Saigon!!
Musim panas baru mulai Desember). Taksi menurunkan saya di Ben
Thanh Market dan kemudian waktu sisanya saya gunakan untuk melihat apa
yang ditawarkan di Ben Thanh Market.

Ben Thanh Market: suatu pasar tradisional tetapi setelah diperhatikan
harga yang diberikan untuk barang kerajinan ternyata merupakan harga
turis. Saya duga hal ini disebabkan karena terkenalnya tempat ini
di kalangan para wisatawan sehingga tempat ini tidak lagi murni pasar
tradisional dengan harga yang “tradisional”. Di sini saya sempat
membeli clutch dengan bahan suede yang hiasan manik-manik (I love beads!!)

Keluar dari Ben Thanh, saya menyusuri jalanan menuju De Tham Street dan
menemukan toko-toko lainnya yang menawarkan tas-tas serupa (dihiasi
manik-manik) — dengan harga yang justru tidak beda jauh dengan Ben
Thanh!
Jadi, tidak berarti belanja di Ben Thanh akan lebih murah.
Belakangan saya juga baru tau, justru barang-barang di toko area backpacker ditawarkan dengan harga jauh lebih miring! (misalnya tas tangan seharga 6 USD??! — napsuin banget!)

Makan malam dilewatkan di kafe KIM, salah satu kafe di De Tham Street,
kafe yang terkenal di kalangan backpackers. Di sini saya mencoba
pho pertama saya!

Jumat, 1 September 2006

Sehari sebelumnya, saya mendaftar tur lokal dengan tujuan Mekong
Delta. Sebelum tiba di My Tho alias Mekong, kami mampir ke Caibe
— pasar air tradisional. Sayangnya kami tiba sudah agak siang
sehingga aktivitas pasar terapung tersebut sudah berakhir, hanya sisa
beberapa kapal yang masih menjajakan dagangan dan bersiap-siap
pulang.

Mekong Delta: tidak berubah dari dulu hingga kini. Warnanya, maksud saya
Itulah kata Lane, tour-guide kami menyusuri Delta Mekong. Begitu
liat warna air Mekong Delta yang kurang lebih sama dengan warna kopi
susu, saya jadi teringet pelajaran Geografi tahunan yang lalu: betapa
kayanya Mekong Delta dengan kandungan aluvial yang dimilikinya.
Kandungan aluvial itu yang menyebabkan suburnya lahan yang terletak di
sekitar Mekong Delta. Tanah lempung tersedia bebas dan tanpa
batas.

Kami mampir ke perkampungan penduduk. Melihat mereka membuat
beberapa makanan tradisional dan menurut saya tidak beda jauh dengan
apa yang tersedia di tanah air: simping, ting-ting jahe, pop-rice, dll. Mengobati sekaligus menambah kangennya pulang kampung!!

Ketika hari semakin siang maka semua orang mengambil bagian dalam kenikmatan perasaan lapar
saya menjadi excited ketika mengetahui bahwa siang itu kami akan
menikmati makan siang di ‘resto’ salah satu rumah penduduk dengan menu
lokal tentunya. Gambar jelasnya bisa diintip di sini: ikan gurame beserta rice-paper plus sup sederhana tapi enak.

Lane memberitahukan bahwa setelah makan, kami boleh berkeliling dengan
sepeda. Wah, sepeda?? Masih bisa naik ga ya??
secara uda lamaaaa… banget ga pernah naik sepeda lagi. Tapi
kapan lagi yah? Excited cobain naik sepeda lagi setelah
bertahun-tahun lamanya ga pernah nyentuh sepeda. Ternyata belum
lupa hehehe, masih bisa nge-goes
Horeee…

Tapi cuma bentar aja hihihi… soalnya terik banget dan ternyata tidak
ada hal menarik yang bisa dilihat di sekitar resto. Menyusuri
jalan sampai lumayan, yang terlihat cuma barisan pohon pisang

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke salah satu pabrik batu bata
yang terletak di pinggir Delta. Setelah mampir ke sana, saya
terpikir hal yang sama: mungkin kita bisa melakukan yang sama di tanah
air, kunjungan ke pabrik tradisional sebagai bagian dari daya tarik
wisata lokal? Benda dan tempat tradisional di tanah air sungguh
berlimpah: tidak hanya sekedar pabrik pembuatan batu bata, tapi juga
pembuatan manisan mangga tradisional di Cirebon (saya menyaksikan
bagaimana mangga dipotong, direndam dalam larutan air kapur dan garam,
‘diperam’ berminggu-minggu sehingga rasanya resap tanpa mengurangi
kegaringan daging mangga, sampai akhirnya manisan siap dimakan!),
industri rumahan di Lampung, dll. Hmmm… *wondering*

Sore itu, kami kembali ke Saigon dan saya menikmati pho di resto Pho 2000 yang kabarnya terkenal di Saigon. Pho kedua saya!

Sabtu, 2 September 2006 – yah besoknya pulang deeh…

Tujuan
tur hari ini adalah mengunjungi Tay Ninh dan Cu Chi Tunnel. Tay
Ninh adalah suatu tempat di selatan Vietnam di mana terdapat
kepercayaan Cao Dai. Cao Dai adalah suatu kepercayaan perpaduan
dari Kristiani, Budha, Islam, Konfusius, Hindu, Geniism dan
Taoisme. Kepercayaan Cao Dai ini sangat unik, di dunia hanya ada
di Vietnam dan di Vietnam hanya ada di Tay Ninh Unik sekali!!

Kami berusaha tiba lebih awal di sana sehingga bisa menyaksikan waktu
berdoa para umat. Pemeluk Cao Dai memiliki 4 waktu berdoa: siang
hari, sore, malam dan pagi hari. Berhubung hari itu adalah hari
libur nasional Vietnam, kami diberitahukan sebelumnya bahwa jumlah umat
yang berdoa mungkin tidak sebanyak biasanya berhubung banyaknya
penduduk lokal yang memanfaatkan libur untuk pulang kampung atau
berkunjung ke daerah lain di Vietnam. Gambar-gambar Cao Dai bisa
disimak di sini ya.

Cu Chi Tunnel adalah salah satu peninggalan bersejarah perang Vietnam
sekaligus bukti cerdiknya orang Vietnam melawan kekuatan
penjajah. Mereka menyadari bahwa kualitas dan kuantitas
persenjataan mereka kalah jauh dibandingan dengan amunisi perang
Amerika yang bisa dibilang jauh lebih maju untuk ukuran jaman
itu. Untuk mengatasinya, maka orang Vietnam menggali terowongan
bawah tanah, hidup di sana, menyusun strategi, bertahan dan melawan
balik. Ukuran terowongan yang kecil sesuai dengan ukuran fisik
orang Vietnam menjadi kesulitan tersendiri bagi tentara Amerika untuk
melacak keberadaan lawan. Selain itu, tentara Vietnam sangat
mengenali medan dan merancang berbagai jebakan mematikan bagi
lawan.

Saya mencoba masuk terowongan tersebut (yang kini ukurannya telah
diperbesar sedikit sehingga dapat dimasuki oleh para wisatawan).
Seru sekali, gelap luar biasa, saya cuma modal percaya aja pada aba-aba
rekan yang berjalan di depan sehingga bisa terus berjalan. Bila
tidak ada rekan di depan saya yang teriak ‘kanan…’, ‘kiri…’,
rasanya saya sudah hilang arah
Perjalanan ‘jongkok’ di terowongan kira-kira hanya 10 menit tapi
rasanya kok lama sekali. Saya tidak bisa membayangkan sulitnya
hidup 24 jam di terowongan yang lembab dan gelap seperti yang dialami
oleh para tentara Vietnam pada waktu itu. Sungguh tangguh luar
biasa. Cerita lainnya mengenai terowongan ini pernah ditulis oleh dr. Sindhiarta di sini.

Kembali ke Saigon, menyempatkan diri mampir ke kafe Trung Nguyen, yang
kabarnya menyediakan kopi khas Vietnam yang terkenal itu. Waktu
melihat menu, terdapat 8 macam pilihan kopi dan setelah bertanya,
ternyata urutan 1 hingga 8 adalah level strong kopi yang
tersedia. Saya memilih No.1 berhubung masih ingin menikmati tidur
malam yang lelap

Dengan tentengan minuman kopi di tangan, saya menyusuri jalanan di
Saigon dan mampir lagi di City Hall untuk mengambil gambar City Hall
plus patung Bapak Ho Chi Minh.

Baru setelah lumayan pegel ‘ngukur jalanan’ Saigon, saya menikmati
makan malam sebelum keesokan paginya meninggalkan Saigon… di resto
Quan an Ngon (lagi!). Ah, saya sudah kepalang suka dengan resto
ini: atmosfer dan terutama citarasa masakannya! AH…! — dan masih menyiapkan secuil tempat untuk kembali menikmati semangkok pho di resto pho yang lain: Pho 24!

Minggu, 3 September 2006 — pagi hari sudah check-out dari Yellow House, meninggalkan Saigon dan kembali ke Shenzhen

::: verdict

Singkatnya, perjalanan ke Vietnam (dalam hal ini Saigon): highly recommended
Menyenangkan, murah, makanan enak, suasana yang menyenangkan, membuat
saya disegarkan sebelum akhirnya harus kembali menekuni pelajaran di
kelas

Foto: Reunification Palace, Yellow House dan City Hall

Note:

1 USD = 16.000 VND (Vietnam Dong)

Changsha, 9 September 2006 — *masih sambil ngecek tulisannya ada yang kurang gak yaa…

8 thoughts on “3 Hari di Saigon: Ini Ceritanya ^_^

  1. Pake Argo. Waktu baru dateng, dari bandara ke hotel, agak sedikit mahal karena waktu itu minta tolong dibooking-in oleh staf money-changer bandara. Lebih mahal sekitar 20rb (dibanding waktu pulang: dari Yellow House ke bandara).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s