(1) Ampun


Ketika dua pihak saling melukai

*entah tidak sengaja atau memang inginnya begini

Ini yang mungkin terlintas di hati

apakah aku akan berhenti mencintai

dan melanjutkan perjalanan seorang diri

(… itukah solusi?  …)



Hal yang sederhana tapi berarti

adalah belajar saling memahami

tidak membiarkan prasangka diri

atau ketidaklogisan sugesti

menjadi penguasa hati



Ah, percayakah ini:

dengan mampu mengampuni

(tanpa peduli siapa dulu yang melukai)

adalah langkah bijak untuk menjadi rendah hati







Changsha, 9 September 2006 — rekonsiliasi sejarah?










8 thoughts on “(1) Ampun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s