(Telat) Trip with Atsumi: Jan 5-11, 2007 – Suzhou




Mari lanjutkan…

Minggu, 7 Januari 2007
Bangun pagi dan langsung beberes untuk check-out. Makan pagi di resto hotel dengan menu std (bubur putih dan asinan, mie goreng yang rasanya ga jelas dan susu kacang tanpa rasa) — saya jadi ngerti kenapa orang-orang Changsha berpendapat makanan di daerah Shanghai dan sekitarnya ga cocok di lidah mereka — kami langsung bergegas karena pengen punya waktu liat Xihu… lagi!!!

Tadinya Atsumi dan Nakamoto pengen banget liat beberapa objek wisata lainnya, misalnya kuil-kuil yang terkenal di Hangzhou. Tapi berhubung tiket kereta kami terjadwal pk. 10.06 pagi, kami ga punya cukup waktu melihat tempat-tempat itu. Akhirnya kami sepakat, sebelum kami meninggalkan Hangzhou menuju Suzhou, pagi itu kami sekali lagi menikmati Danau Barat (Xihu).

Pagi-pagi di Xihu, pemandangan manis yang saya temui ga cuma danaunya yang cantik, tapi banyaknya kaum manula yang sedang berolah raga, dan mereka berdansa di pinggir danau! So sweet…

Jujur aja, saya berat banget ninggalin Hangzhou. Suasana kotanya yang cantik dan penduduknya yang ramah-bersahabat membuat saya jadi punya impresi baru terhadap China (hahahahaha)…

Setelah puas ngeliatin Xihu, kami naik taxi menuju stasiun kereta, siap menuju Suzhou.

Kereta meninggalkan Hangzhou pk. 10.06 dan tiba sekitar pk 2 siang di Suzhou. Kami langsung menuju JJ-Inn, chain-hotel murmer di China untuk menaruh koper. Begitu sampai di Suzhou, bayangan saya mengenai keindahan Suzhou yang tersohor langsung pudar dari ingatan. Pepatah mengatakan, jika langit memiliki Surga, maka bumi memiliki Hangzhou-Suzhou (saking indahnya kedua tempat ini). Hangzhou saya setuju, emang cantik banget, tapi Suzhou? Pemandangan yang saya temui sepanjang stasiun hingga JJ-Inn hanyalah bangunan-bangunan tempat tinggal, apt bahkan pabrik-pabrik. Lah, mana objek wisatanya? Katanya Suzhou terkenal dengan taman-taman yang cantik, lah mana tamannya? Sepanjang saya memandang, justru jalanan yang berdebu yang saya lihat.

Ternyata oh ternyata, daerah Suzhou terbagi atas beberapa distrik dan Pemerintah setempat menetapkan, untuk melestarikan objek wisata dan kealamian daerah setempat, maka diadakan pembagian wilayah: distrik baru (yang banyak pabrik dan bangunan-bangunan baru) dan distrik lama (rumah-rumah penduduk plus objek wisata yang memang terletak di tengah kota). Dan JJ-Inn yang saya inapi itu terletak di distrik baru yang dikelilingi pabrik. Oh ternyata… pantesan ga liat kuil ato petunjuk adanya taman dsb.

Setelah makan siang (yang tidak enak), kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami: Kuil Hanshan. Berdasarkan informasi dari buku panduan JJ-Inn, kuil itu bisa dicapai dengan bis umum. Memang bener, walo setengah menduga dan hasil bertanya, kami tiba di kuil tersebut.

Kuilnya sebenarnya biasa aja, apalagi di China yang memang memiliki banyak kuil, tidak ada yang terlalu spesial buat saya. Yang justru menjadi daya tarik buat saya adalah pemandangan sekitarnya yang cantik, apalagi waktu kami datang, waktu menjelang sore sehingga kami bisa menikmati pemandangan sunset.

Dan melihat keadaan kota Suzhou yang banyak dikelilingi aliran air di tengah kota, saya jadi ‘ngeh’ mengapa Suzhou disebut “Venice of the East” (maksa ga seh?)

Puas jalan-jalan di kuil, kami meninggalkan kuil dan dengan bis menuju walking street. Walking street setiap kota adalah salah satu tempat yang masuk dalam must-visit-places-list kami. Udara waktu itu kering dan dingin sekali. Dari ketiga tempat yang kami kunjungi, Suzhou adalah kota terdingin dengan suhu mencapai 2 derajat di malam hari! Udara yang dingin mustinya terasa nyaman klo agak lembab. Tapi udara Suzhou kering sekali. Saya kudu ngolesin lipbalm berkali-kali lantaran bibir kelewat kering hingga berdarah begitu saja.

Tiba waktu makan malam, kami berpikir keras mau makan apa. Setelah merasakan masakan lokal Suzhou waktu makan siang, kami bertiga satu suara berpendapat: ga pengen makan masakan lokal! Duh, masakan Suzhou kacaw banget rasanya buat lidah kami… manis-manis ga jelas. Padahal mungkin aja sebenernya ada masakan yang enak cuma lantaran uda trauma duluan, kami jadi males masuk resto masakan khas Suzhou.

Jauh-jauh ke Suzhou, akhirnya kami masuk resto masakan…Hunan (!!) tapi jadi batal begitu liat daftar harganya yang selangit. Ah klo geto mah mending ntar aja nunggu pas balik, bisa puas-puas makan masakan Hunan dengan harga bersahabat dan di kota aslinya! hehehe… akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di resto… Sichuan! hahaha… teteup, asal bukan masakan Suzhou (yang buat lidah saya rasanya ga keruan itu) hehehe…

Selesai makan, saya bersama teman-teman masih jalan-jalan skitar walking street satu putaran lagi dan akhirnya lantaran udara semakin dingin, kami naik bis kembali ke hotel.

Senin, 8 Januari 2007
Saya dan teman-teman punya waktu sepanjang hari ini di Suzhou. Pagi-pagi sarapan super cepat dengan membeli bapao, lalu langsung naik bis menuju tujuan pertama kami hari itu: Lion Grave Garden. Oya, Suzhou banyaak sekali taman di dalam kota, sehingga kami harus memilah-milah karena tidak punya cukup waktu untuk mendatangi semuanya dan selain itu: mahal tiket masuknya!

Dari Lion Grave, kami pindah ke Lingering Garden.

Puas foto dan main-main di Lingering Garden, kami makan siang.

Setelah makan siang, kami sepakat untuk mengunjungi Tiger Hill, salah satu objek wisata terkenal di Suzhou dan di dalamnya terdapat Yunyan Pagoda — pagoda yang dapet julukan Menara Pisa-Asia secara miring juga.

http://en.wikipedia.org/wiki/Tiger_Hill%2C_Suzhou

http://en.wikipedia.org/wiki/Huqiu_Tower



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s