Kite Runner


Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Khaled Hosseini

Ini buku kedua yang saya selesaikan selama cuti di pertengahan Maret. Terima kasih untuk delay pesawat Air Asia dari Bangkok ke KL sehingga ada waktu luang panjang *apaan seh*

Saya uda dapet informasi melalui tulisan dari teman saya yang kredibel dalam memberikan review, jeng Ventong mengenai buku ini… dua tahun lalu!! Sstt… tanpa bermaksud bias, klo Ventong dan Tita bilang buku A bagus, ato buku B jelek, menurut saya penilaian mereka bisa dipertanggungjawabkan dan layak untuk dijadikan pertimbangan ketika memilih bacaan. Jadi saya penasaran banget apa cerita buku ini.

Tanpa saya sadari, saya punya 3 edisi bahasa buku ini hahaha… (kecentilan banget yaak) Pertama saya beli versi Chinese nya waktu sekolah (*bukannya sok gaya, masalahnya murah banget bow… bukunya juga cantik hihihi). Baru baca 1 bab, nyerah deh, kelamaan ga kelar-kelar. Lalu 2 bulan lalu saya beli buku ini di Jakarta. Waktu membacanya, saya kok feeling, kayaknya uda pernah baca yah… ternyata *hahaha*, saya lupa klo saya punya versi bahasa Inggrisnya dan uda baca sampe 2 bab lebih! buku itu saya beli di Far East, Singapore, tahun lalu. Aduuh… pelupa banget deh.

Buku ini bercerita tentang 2 orang tokoh: Amir dan Hassan. Dua orang anak laki-laki Afganistan yang berbeda nasib. Amir ‘terlahir’ sebagai anak orang kaya di Kabul, sedangkan Hassan adalah anak pembantunya. Meskipun demikian, mereka berteman karib dan hubungan yang dekat ini tampak jelas dalam festival layang-layang yang diadakan setiap tahun di Kabul. Hassan adalah pengejar layang-layang yang sangat tangguh (dan sambil terus membaca, pikiran saya setuju bahwa Hassan emang terlahir demikian hehehe) dan setiap layang-layang yang ia dapatkan, ia persembahkan pada Amir. Dia entah kenapa… tau banget layang-layang yang putus itu bakal jatuh di mana, dia bisa tiba di titik tersebut jauh lebih dulu dari orang lain, dan dengan santai-santai menunggu layang-layang putus itu tiba di titik ia duduk *klo kata ade saya: magiicc…*

Tapi buku ini ga cuma sekedar cerita layang-layang. Hadirnya beberapa tokoh dengan karakternya masing-masing menyajikan para pembaca potret kehidupan yang lugas, realistis kehidupan yang ga mungkin selamanya indah. Karakter Hassan dengan kesederhanaannya sebagai anak pelayan dituturkan sedemikian mulia, penuh loyalitas, kejujuran dan kepolosan. Paralel dengan hal itu, karakter Amir terhitung manusiawi dengan segala pergumulan pikiran dan pencarian jati dirinya. Gambaran suasana Kabul dan Afganistan di masa sulit sebelum dan pasca Taliban dideskripsikan dengan baik tanpa bahasa yang berbelit-belit. Unsur kultural khas Timur Tengah juga terasa melalui aktivitas keseharian yang diceritakan dalam buku ini: acara minum teh, jamuan pesta pernikahan, sampai pada dialog para tokoh.

Bagian favorit saya adalah bab di mana Rahim Khan, sahabat ayah Amir bertemu lagi dengan Amir yang akhirnya kembali ke Afganistan setelah pindah ke Amerika bertahun-tahun sebelumnya. Rahim Khan menceritakan apa yang terjadi setelah Amir dan ayahnya keluar dari Afganistan. Penuturan Rahim Khan mengalir dengan santai, bahkan ketika menceritakan bagian yang menyesakkan sehingga hal ngenes tersebut tidak terdengar terlalu cengeng.

Saya memandang buku ini kayak refleksi kehidupan saya sendiri. Kehidupan di mana ada masanya seseorang (baca: saya) sulit menerima kenyataan, ga berani jujur dan ilang kepercayaan diri untuk bertindak sebagai dirinya sendiri. Kehidupan di mana ada hari-hari seseorang merasa perlu melakukan banyak hal (atau perbuatan baik) demi menebus masa lalu yang ga bisa diulang.

Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca dan terdiam: karakter, sikap, ucapan Hassan dan apa yang dilakukannya buat Amir membuat hati saya sangat tersentuh: For you, a thousand times over!

Okelah, sebelum jadi saya sok filosofis, mendingan udahan dulu yaaak hehehe…

*sekarang penasaran pengen nonton filmnya!

Karawaci, 3 April 2008 – kata Rahim Khan pada Amir: there’s a way to be good again…

9 thoughts on “Kite Runner

  1. Uda direkomendasikan temen (and you confirmed it with this blog, hehehe), skrg lagi cari bukunya😀 Filmnya uda lewat ya? Nyarinya di VCD/ DVD donk?

  2. setujuh sin, bagus banget buku ini. cara dia setting plot, terus deskripsi kejadian, tempat dan beberapa makanan dgn detil (ya ya ya :D). kejadian ceritanya sendiri udah jadi filosofi, nggak perlu refleksi ulang kayak coelho. sekilas ngingetin sama mitch albom dalam versi timur tengah yg lebih dahsyat. *waiting for : thousands splendid sun*
    * 4,5.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s