Wah, Bangkok!

Iya, itu yang terucap sewaktu pesawat Air Asia tiba di Bangkok dari Jakarta: wah Bangkok!!  Horeee… akhirnya ke Bangkoook!!  *loncatloncat* 

Ehem… Biarin terdengar aneh, abis saya ga nyangka sih dapet kesempatan traveling lagi.  Malah ga cuma kesempatan traveling, tapi di pertengahan Maret itu saya juga dapet kesempatan luang untuk baca 2 buku bagus: The Boy in Stripped Pyjamas dan Kite Runner.  Wah rasanya seneng banget ^_^

Rabu sore, pesawat Air Asia membawa saya terbang dari Jakarta ke Bangkok.  Saya excited, sebelumnya uda sering denger cerita asik-asik dari orang yang pernah ke Bkk.  Uda sering denger asiknya jalan-jalan di Bkk, penduduk lokalnya yang ramah, makanannya yang enak dan acara belanjanya yang selalu memuaskan, dari segi produk dan harga!!

Berhubung perjalanan ini nebeng dengan grup perjalanan ortu, saya ga punya kesempatan banyak untuk explore secara bebas dan terikat penuh dalam jadwal tur.  Ya sudahlah, nikmati aja, ntar lain kali cari waktu lagi ke Bkk sendiri😀

Tiba di Bkk uda malem, ga ada yang bisa diliat lagi dan saya juga uda cape.  Dan ternyata pihak tur menempatkan kami di hotel yang juaaauuhh dari kota Bkk, jadi boro-boro mo hunting lagi, begitu sampe hotel yang ada saya cuma terpikir untuk tidur!

Ini hotel di BKK — ga recommended, jauh soalnya.
TD Place
E-info@tdplacemansion.com
Website: http://www.tdplacehotel.com


Kamis.  Acara pertama dimulai dengan kunjugan ke Chao Phraya.  Sungai paling gede di Bkk dan sepertinya jadi ‘must-see river’ bagi setiap turis yang ke Bkk kayak saya hehehe.  Dari Chao Phraya, perahu membawa kami melihat Wat Arun, pagoda yang warnanya cantik dan meriah, tinggi menjulang dan menantang kaki untuk menapak tangga sampe pegel.


Yang menarik dari menyusuri Chao Phraya adalah ketika melewati depan vihara yang bertebaran ikan patin berwarna hitam.  Mereka berenang-renang dengan bebas dan gembira (keliatan dari mana?  lincah soalnya hihihihi)  Di depan vihara tersebut banyaaaaakkkk… sekali ikan patin dan menurut Henk, tour-guide kami selama acara, ikan patin tersebut dilarang dipancing ato diambil.  Dasar tour, mereka sudah menyiapkan roti bantal seplastik, dijual seharga 20B/plastik sebagai makanan ikan.  Lucu yah, ikan patinnya makan roti loh!  Lahap lagi.  Dari semua ikan patin hitam itu, ada 1 ekor berwarna putih.  Henk bilang, semoga ikan putihnya lewat yah, karena ikan putih itu cuma 1 dan pertanda keberuntungan.  Saya lagi asik ngasi makan ikan patin yang lewat di bawah perahu ketika ikan putih itu lewat.   Spontan saya teriak: itu ikan putihnyaa!! ~ dan semua orang di perahu kontan menoleh ke sisi kanan dan rame-rame nimpukin ikan putih itu dengan roti, hahahaha…

Selesai maen di Wat Arun, belanja kaos tulisan ‘Thailand’ sebagai oleh-oleh untuk orang rumah (*teteuup!) dan menyusuri Chao Phraya, kami mampir ke salah satu objek turis yang terkenal di  Bkk: Sleeping Buddha *gmana ga terkenal, setiap orang yang ke Bkk pasti punya foto mereka di spot ini hahaha*  — jadi sebagai turis sejati, saya juga ikutan   Yang menarik dari Sleepin Buddha ini, jari kakinya gede banget yaaah! Lucu deh bentuk kakinya ^_^ 

Dari Sleeping Buddha, kami mampir makan siang.  Berhubung jalan bersama tur yang mayoritas adalah Muslim, maka seluruh tempat makan selama tur adalah restoran berlabel halal.  Saya bisa mengerti sulit juga ya bagi orang Muslim jalan-jalan di negara seperti Thailand atau China, secara 2 negara ini kan mayoritas penduduknya makan makanan tidak halal.

Menu makan siangnya enak deh!  Ga mau rugi, setiap kali makan adaaa aja menu tom yam goong, hahaha.  Tapi buat lidah saya yang paling enak di resto lunch pertama ini.  Kuah tom yam nya agak bersantan (atau bersusu?) dan tidak bening, rasanya hmmm… segar dan enak!!

Ini nama resto Muslimnya:
Nangphaya Muslim Restaurant
864 Thawornplace Building
New Rama 9 Road (btw, rama road ini ada banyaaak sekali)
Suanloung, Bangkok
Mobile: 081-015-0665, 084-972-9290

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Pattaya.  Waktu saya cerita sebelumnya sama Cindy rute perjalanan saya akan ada ke Pattaya, dia komen: ha ngapain ke Pattaya?  Di sana cuma ada bencong, Sin~ hahaha… dan emang bener, Pattaya ga secantik yang saya bayangin.  Pantainya biasa aja, cantikan Bali ke mana-mana…

Highlight dari Pattaya cuma pertunjukan waria-nya yang dikemas profesional.  Para artisnya cantik, bodi nya aduhai, rambutnya indah… wah sampe perempuan asli aja bisa minder dengan kecantikan mereka (well, asal mereka ga ngomong ya).  Buat saya, pertunjukannya emang fenomenal, tapi gerakannya monoton!  Kayaknya mending minta Inul ngajarin mereka buat goyang deh, jauh lebih enerjik.  Gerakan para waria di Al-Cazar itu kurang dinamis, cuma gerak kiri-kanan, mentang-mentang cantik kali ya jadi gerakan standar aja uda dikira bisa menghipnotis penonton *loh kok sewot??* :))

Kelar pertunjukan, para artis sudah berjejer di area parkir dan menyediakan dirinya jika ada yang ingin minta foto bareng (dengan membayar sejumlah uang tentunya).  Wah, dari jarak pandang yang kian dekat itu, memang… cantik banget!!  Hebat sekali yah bisa dipermak sampe detil begitu… Di satu pihak saya berasa miris juga, sesulit itu yah cari makan sampai harus ganti gender? *eits Sinta, ga sesederhana itu kali yaah* 

Jumat.  Acara pertama adalah berkunjung ke perusahaan Madu yang diclaim milik Ratu Sirikit.  Di Thailand, perusahaan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak memang dimiliki langsung oleh Kerajaan.  Peternakan lebah dan usaha madu ini dimiliki langsung oleh Ratu dengan alesan, madu yang dihasilkan berasal dari perkebunan pohon candu.  Supaya ga menimbulkan konflik dan perebutan hasil, maka Kerajaan mengambil alih peternakan ini dan menjadikannya milik negara.

Apa yang spesial dari madu ini?  Pastinya madu ini bukan dari sembarang pohon, tapi pohon candu. Rasanya sih enak, cuma saya ogah banget beli dan bawa pulang ke Jakarta.  Selain harganya yang buat saya agak edan (mahal banget!), beratnya itu loohh… ampuuun… ngerepotin banget klo tenteng-tenteng.  Daripada overweight karena bawa madu, mendingan saya overweight karena kalap di Cathucak! hahaha…  Oiya, yang menarik, dalam penjelasannya, diceritain bagaimana menguji madu yang asli.  Begini caranya, taruh 1 sendok madu di piring dan dikasi air lalu digoyang-goyangkan.  Jika madunya asli, maka di piring tersebut akan membentuk motif segi enam seperti sarang lebah (*belakangan di rumah saya coba dengan madu yang ada, dan memang terbentuk motif yang sama.  Anehnya, ketika saya iseng coba dengan kecap manis, juga terbentuk motif yang sama!!)

Klo ada yang minat, ini no telp nya:
Thepprasit Honey
Bangkok Shop: 02-7168268

Kelar dari tempat madu, kami dibawa melihat kebun bunga (nong village).  Saya suka tempat ini, sayang cuma turun dari bis untuk foto dan naik lagi, padahal tempatnya cantik. Maklum tur, jadi naik-turun bis cuma sebentar, asal foto hahaha…

Acara berikutnya adalah nonton pertunjukan gajah.  **masa sampe Thailand ga liat gajah?? hehehe.  Model pertujukannya membuat saya teringet gajah-gajah di Way Kambas – Lampung yang pernah saya datengin waktu wisata sekolah saat kelas 6 SD dulu.  Bedanya, pertunjukan di Thai dikemas lebih profesional.  Jumlah gajah yang action di arena lebih banyak, atraksinya lebih menarik: ga cuma main bola, tapi juga menggambar, berhitung, main sepeda-sepedaan, bahkan ‘memijat’ penonton hahaha… Semua gajah yang tampil di pertunjukan mengenakan kostum dengan warna-warna ceria, pokoknya ga kalah centil dengan para waria di Al-Cazar.

Selesai nonton atraksi gajah lalu makan siang, sorenya kami kembali masuk kota Bkk.  Acara sore ini adalah mengunjungi MBK, salah satu pusat belanja paling top di kalangan lokal dan turis.  Kayaknya semua orang yang ke Bkk pasti pernah nginjek MBK :))

**oh iya, otw to MBK, kami mampir di toko oleh-oleh makanan Thailand dan di sini saya beli kripik duren yang enak sekali.  Kepingan durennya besar, dagingnya tebal, rasanya gurih dan bikin nagih terus… Selain kripik duren, di toko ini juga ada bermacam-macam makanan kering (dried snack), mulai dari cumi asin kering, kepiting kering, mangga kering, dried plum, sampai kulit babi garing!  Sayang tokonya lumayan jauh, klo di downtown Bkk kan bisa jadi salah satu referensi (belakangan ada yang ngasitau klo keripik duren enak ini juga dapat dibeli di Mangga Dua dengan harga 2 kali lipat). 

Alamatnya:
YENJIT (seafood store)
62/6 Moo 11 Bangpra, Sriracha, Cholburi
Telp. 038-391092, 391415, 01-761 3269

Dan malem itu kami makan di resto Chinese Food “Royal Dragon Restaurant” yang tercatat dalam Guiness Book of Record taon 1992 saking guedeeeenya tu resto, dengan data-data heboh sbb:
Size of resto: service area 16,000 sqm — kitchen area 740 sqm — parking 13,372 sqm
Seats 5,000
Serving food 3,000/items/hour

Royal Dragon Resto
http://www.royal-dragon.com
email: info@royal-dragon.com

Rasa makanannya biasa aja, ga sampe bikin lidah merinding saking enaknya.  View nya bagus, interior nya juga manis.  Yang menarik dari resto ini adalah pertunjukan ‘ajaib’ dari waiternya yang skating dan ‘terbang’ mengantarkan pesanan (tapi cuma sekali doang terbangnya, dan cuma bawa 1 order hehe).  Untung juga ikutan tur, klo engga kan ga pernah tau resto ini hehehe…

Kelar makan, kami masih dibawa melihat Four-faces of Buddha dan acara terakhir malam itu: ke Suan Lum Night Market.  Saya uda ga bersemangat liat-liat barang ato berbelanja secara kaki uda cape dan mata juga uda berat, pengennya makan aja hahaha…

Sabtu.  Acara yang ditunggu: CATUCHAAAKKK *histeris mode*

Klo ini ga usah dibahas secara uda banyak banget yang tau hahaha…

Ini salah satu kartu nama yang saya ambil di Catuchak.  Toko ini menyediakan banyak kerajinan yang cantik (mulai dari bantal sofa, seprei, table-runner, table cover, home decor accesories, bed cover, placemat dll — semuanya itu thai silk *bikin saya nyesel kenapa ga sempet bawa ukuran tirai rumah**, serta menyediakan tur Thailand:

Tor Tour Thai
PIC. Wanida Tiranasar
Jatuchak Plaza
Zone C 46-47 Sol 5
Kampangpetch 2 Road
Telp. 081-813 6486, 02-272-4446
(Tuesday – Sunday)

*blum kelar, mo upload foto dulu yak

15 thoughts on “Wah, Bangkok!

  1. Menurut teman saya yg asli Thai, tdk semuanya ganti gender demi cari makan…sebagian memang sejak lahir sdh punya bawaan berbeda. Dan ketika dewasa, mereka yg ingin tampil di “panggung hiburan” (spt Alcazar, Tiffany, dll)tentu saja harus ada sedikit “reparasi” demi tuntutan penampilan dst.

  2. aduh sis, sukurlah setelah rombongan gw makan di sana ga ada masalah diare ato apapun… lagi jalan-jalan klo diare ato sakit apa pun rasanya ga nyaman banget😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s