01-02.2010

Januari-Februari tahun ini bisa jadi bakal jadi bulan yang tak terlupakan buat saya. Akhir Januari lalu saya resmi mengundurkan diri dari kantor tempat saya bekerja sejak tahun 2001 (diselingi cuti di tengah-tengahnya karena waktu itu sekolah ke China).  Keputusan besar ini saya ambil setelah pemikiran dan pertimbangan yang lumayan panjang dan lama.  

Alasan utama adalah karena nikah. Sejak menikah, saya pindah rumah mengikuti suami dan jarak dari rumah ke kantor kurang lebih 40km sekali jalan.  Bukan semata-mata karena jaraknya yang jauh, tetapi juga karena saya mau membantu pekerjaan suami: berdagang *langsung kebayang tante-tante Mangdu ga si loo??* 
Mengundurkan diri dari tempat bekerja bukan hal yang mudah buat saya.  Mungkin karena kerjanya uda lama, jadi saya kayak punya ikatan emosional yang kuat sama pekerjaan dan kantor.  Beberapa orang meragukan keputusan saya dan dengan blak-blakan bertanya: kamu yakin bisa kerja di toko??  ~ Saya cuma bisa senyum aja dan bilang, ya liat aja nanti yaa…
Umm… malu deh ceritanya…  ~ Kesulitan saya mengambil keputusan resign dimulai ketika surat pengunduran diri saya ketik dengan berlinang air mata (*sebenernya resign atau dipecat si loo??)  dan waktu saya mengajukan surat tersebut kepada atasan sebelum saya menikah.   Secara kerjaan di bulan Januari lumayan padet, atasan minta rencana resign yang mustinya per akhir Desember dimundurkan jadi akhir Januari.  Saya tidak keberatan, secara emang masih demen kerja.  
2 minggu sebelum bulan Januari berakhir, perasaan saya uda melow abis.  Ada momen sedikit nganggur di meja kerja, pikiran saya bisa menerawang ke mana-mana.  Malah beberapa hari sebelum hari terakhir, Jumat 29 Januari, entah kenapa perasaan begitu berat dan saya menangis tersedu-sedu di rumah  (note 1. untungnya uda cengeng di rumah jadi belakangan saya ga ada acara melow lagi di kantor.  Note 2. Klo inget-inget masa-masa menangis itu, rasanya bego banget dan berasa lucu hahahahaha)
Saya masih sibuk bekerja sampe Jumat hari terakhir tersebut sehingga tidak sempat say goodbye ke semua orang.  Farewell email sudah saya layangkan 3 hari sebelumnya dan email balasan pertama sukses membuat mata saya berkaca-kaca.  Dalam hati saya berkata: giilee, ini yah rasanya farewell di kantor??  ~**Astaga saya sungguh melankolis atau kena sindrom baby-blues ya? LOL.  ~ Ini pertama kali soalnya buat saya, soalnya saya ga pernah kerja di tempat lain hahahaha…  
Setiap hari saya sudah mencicil memindahkan barang-barang pribadi saya dari kantor ke rumah.  Adik saya yang sudah pernah ada pengalaman serupa menelpon dan bertanya kabar saya.  Dia tertawa-tawa mendengar betapa melow nya di hari-hari terakhir kerja.  Teman yang punya pengalaman serupa ternyata juga mengalami yang sama, jadi saya pikir saya masih dalam hitungan normal… 
Beberapa orang bertanya, hal apa yang paling berat dalam mengambil keputusan resign.  Saya terdiam sejenak, berusaha memberikan jawaban yang paling sesuai dengan apa yang saya rasakan, bukan semata-mata karena emosi ga keruan.  Terus terang, bekerja di institusi pendidikan tidak memberikan penghasilan besar.  Jangankan fasilitas kendaraan atau biz trip ke luar negeri, bonus tahunan aja selama ini cuma dapet sekali.  Itu juga jumlahnya ga seberapa.  Tapi saya perlu akui bahwa saya menikmati pekerjaan saya.  Dari seorang atasan yang sangat saya hormati dan kagumi, saya mendapat kepercayaan penuh dan kebebasan untuk mengatur apa yang saya kerjakan.  Momen penuh pembelajaran dan kenangan.  Plus selain bekerja, saya masih punya waktu mengerjakan apa yang saya suka, berolah raga bahkan hang out dengan teman-teman. Apalagi di lingkungan seperti Lippo Karawaci yang nyaman dan banyak tempat mainnya.  Saya betah. 
Lewat diskusi dengan seorang rekan kerja di suatu sesi makan siang, saya setuju dengannya bahwa stimulasi intelektual akan menjadi something I will miss deeply.  Bekerja di lingkungan pendidikan memberikan banyak kesempatan bagi saya belajar dan mendengarkan pengetahuan baru.  Pertemuan saya dengan tamu-tamu yang saya host, obrolan-obrolan selama makan siang, atau sekadar lelucon satir di dunia pendidikan, membuat hari-hari kerja saya demikian berwarna dan menyenangkan.  Di samping kerjaan admin yang sifatnya membosankan, penuh dokumen detil yang ribet dan melelahkan, I will definitely miss the intellectual stimulation and environment.  Saya sangat terharu  ketika rekan kerja tersebut berkata, “Sinta, I pray that God will replace what you will be missing here as He knows the desire of your heart.”

Walaupun sebelumnya saya bersedih, namun di hari terakhir, Jumat, saya tidak mau lagi bermelow-melow ria.  Saya datang ke kantor dengan ceria dan mengusir jauh-jauh perasaan aneh “ini hari terakhir ngantor”.  Saya kenakan baju dengan warna kalem untuk membuat hati nyaman.  Perpisahan memang membuat hati miris, tapi saya ingatkan diri saya: ini bukan akhir dari segalanya, Sinta, so don’t make a big deal of it.
The farewell went well.  And I have to move on. 
Per minggu ini, sudah 2 minggu saya “dirumahkan”.  Beberapa orang bertanya, bagaimana rasanya setelah tidak bekerja di kantor.  Terus terang, hari pertama (Senin) adalah hari terberat saya.  Rasanya aneh banget, biasanya bangun subuh dan ngantor sejak 7 pagi, lalu sibuk mengerjakan ini itu, ketemu orang banyak, tapi percaya gak… hari itu saya jadi mati gaya.  Agak bingung mo ngapain, kagok banget deh hahahaha… Untungnya kekagokan itu cepat berlalu dan saya ga ngerasain aneh lagi di hari-hari berikutnya.  Saya uda bisa menikmati waktu-waktu ‘libur sejenak’ saya sekaligus beberes rumah yang terlantar selama saya sibuk bolak-balik ngantor.  Sebelum bergabung sama Arief main jual-jualan, saya minta break dulu buat santai-santai hehehe…
Life goes on.  Ada prioritas yang harus diutamakan dan apapun yang terjadi, saya harus tetap semangat.  God has been good and faithful, when there is a will, there will be a way 
note. Gambar diunduh dari http://www.fotosearch.com
Jatinegara, 13 Februari 2010 – it’s Valentine Eve  and Chinese New Year Eve 


6 thoughts on “01-02.2010

  1. Gue berhenti dah 2x (3x kalo diitung pindah kemari :p). Dua2nya karena gue yg mau pindah, dah bosen. Pengalaman gue, walau pun pindah karena kemauan sendiri, tetep aja pas minggu2 terakhir sedih.

    Good luck on the new chapter!

  2. Gw tiap kali berhenti kerja selalu pake acara sedih2an, bagaimanapun teman dan pekerjaan itu tiap hari yg nemenin gw sekian lama baik suka maupun nyebelin🙂, jadi pasti keilangan banget. Dan hari pertama stlh resign selalu 'grogi', pdhl udh direncanain, atau biasanya bercita-cita pengen cuti agak lamaan, lupain kerjaan hehehe…

    Selamat menjalani pekerjaan barunya ya !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s