Bali, 30 Juni – 5 Juli 2010

Bali! Lagi!

Biar uda beberapa kali ke Bali, saya belum bosen.  Kali ini saya jalani Bali bersama Diana Hsu, seorang teman lama yang saya kenal di Changsha, China.  Terakhir kami bertemu bulan Desember 2006, jadi ketika sekarang bertemu lagi… rasanya sentimentil campur gembira😀  
Ketika April lalu Diana mengabarkan rencananya untuk datang ke Jakarta, saya uda excited banget.  Tapi saya bingung, seminggu di Jakarta ngapain aja  ya?  Akhirnya saya putuskan untuk ajak Diana main di Bali aja.  And it was SO MUCH FUN!
Terbang dari Jakarta Rabu sore dan tiba di Denpasar malam hari.  2 malam pertama kami menginap di Sarinande Beach Inn, sebuah penginapan kecil di Seminyak, hasil rekomendasi Mike, seorang temen yang sempet tinggal di Bali untuk beberapa saat.
Sarinande Beach Inn sangat nyaman dan stafnya ramah.  Total ruangan di tempat ini cuma 25 kamar, tapi terawat baik, bersih dan lokasinya deket ke pantai Seminyak.  Jalan kaki cuma 10-15 menit.  Lalu deket juga ke Restoran Gadogado dan club Ku Dhe Ta.  Untuk Diana dan saya yang cuma perlu tempat sekedar tidur, penginapan ini pas banget buat kami.  Harganya pun masih bersahabat, 300rb/malam untuk 2 orang dan 400rb/malam di masa peak season (dapet sarapan sederhana).  Pemilik penginapan ini kabarnya adalah pasutri Belanda-Yogyakarta.  Tidak heran begitu banyak tamu yang berbicara Belanda, mungkin hasil marketing yang efektif dari si pemilik di negeri Tulip itu.


Lalu 2 hari berikutnya, kami tinggal di Jati 3, Ubud.  Nemu tempat ini dikasitau Nina dan ngeliat review nya di http://www.tripadvisor.com.  Yang saya suka dari tempat ini adalah… lokasinya strategis banget!  Hanya perlu jalan kaki sekitar 100m keluar dari mulut gang, langsung berada di jalan Monkey Forest.  Ga repot cari makan, deket ke Pasar Seni Ubud, jalan kaki sedikit uda sampe di Ibu Oka.  Harganya sama kayak Sarinande, 300rb/malam plus (simple) breakfast.
Tadinya ya, saya berniat nginap di Sawah Sunrinse Bed and Breakfast.  Sebelumnya saya uda browsing di http://www.tripadvisor.com dan waktu itu tempat ini menempati peringkat 1 di kategori Bed and Breakfast (BnB).  Ternyata oh ternyata… waktu saya mau check in, saya tertegun.  Saya berada di mulut gang dari sebuah jalan yang menanjak.  Jalanannya belum dihaluskan, jadi sangat berbatu dan berdebu.  Ketika bertanya pada warga yang di sekitar situ, saya dikasitau klo lokasi Sawah Sunrise masih… 1000m lagi!  Ha?  Itu artinya 1km lagi kan?  Sedangkan jalan di depan saya bukanlah jalanan rata yang halus, melainkan berbatu dan lewati pematang sawah! 
Saya coba telepon untuk tau di mana lokasi persisnya.  Keukeuh banget dong, secara saya penasaran, yang direkomendasikan di tripadvisor kayak apa si😀  ~ si mas-mas yang menjawab menawarkan kami untuk dijemput dengan motor.  Wah, ternyata memang jalan menuju Sawah Sunrise tidak begitu praktis, apalagi Diana dan saya masing-masing membawa koper.  Berhubung kami berdua tidak ada kendaraan dan waktu kami terbatas, akhirnya dengan sangat terpaksa saya batalkan rencana menginap di Sawah Sunrise dan kembali ke… Jati 3!  *untungnya, masih ada kamar kosong di sana sehingga saya bisa masuk lagi*  Dengan kondisi kami waktu itu, lebih baik kami kembali menginap di Jati 3 secara ke mana-mana bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.  Mao pulang malem juga rasanya lebih aman dan ga perlu tergantung sama taksi gelap yang banyak beredar di sekitar Ubud.
2 malam di Seminyak, 2 malam di Ubud, lalu bagaimana 1 malam terakhir?  
Ceritanya, Diana dan saya berpikir, kayaknya enak ni klo kami sedikit menikmati “kemewahan” menginap di hotel bagus di malam terakhir.  Lalu saya mencoba kontak Ayana di Jimbaran, The Shamaya di Seminyak, Hard Rock Hotel dan Mercure di Kuta, dan mendapatkan “kejutan” dengan tarif kamar peak-season yang bikin kami berdua mikir ulang.  Ih kok kayaknya ga rela juga yah bayar harga hotel segitu? hahahaha… Dasar turis pelit ni kami!
Ketebak ga akhirnya malam terakhir kami nginap di mana?  Balik lagi ke Sarinande! hahaha… Untung aja masih ada 1 kamar kosong, kalo engga saya kayaknya bakal ngemper di malam terakhir   Begitu check-in, saya disambut dengan senyum ramah si mbak di Front Office dan terus terang, saya berasa kayak balik ke rumah loh! hahaha…
Itu cerita mengenai penginapan.  Mengenai acara selama di Bali, kali ini hari-hari liburan di Bali saya penuh dengan outdoor activities.  

Kamis, 1 Juli kami lewatkan dengan bersantai-santai di pantai Seminyak. Diana mencoba surfing sementara saya baca majalah Marie Claire baru yang dibawa Diana.  Acara bersantai di bawah payung seperti itu aja uda ngabisin waktu setengah hari sendiri.  4 taon ga ketemu, saling update diri masing-masing diselingi tidur siang di sela-selanya  ~ kami akhirnya cabut karena kami lapaaaarrr😀
Jumat, 2 Juli saya ajak Diana mainan body board di Dreamland yang sukses bikin kulit kami berdua coklat.  Sebelumnya saya sempet mampir ke Padangpadang secara denger-denger pantainya cakep juga.  Liat punya liat, sepertinya lebih seru main di Dreamland deh.  Si mas Gung De yang baik hati lalu mengantarkan kami ke Dreamland dan bersabar menunggu kami berdua selesai mainan air.  Lalu sorenya saya ajak Diana nonton Kecak di Uluwatu dan lanjut makan seafood di Jimbaran.
Sabtu, 3 Juli adalah waktunya bermain water-sports di Benoa.  Kelar nego harga berdasarkan menu permainan yang kami pilih, mulai deh petualangan air kami hari ini.  Walo cuma sebentar, seru banget loh mainan flying fish! Permainan Flying Fish ini gini, kami berdua berbaring di perahu karet, lalu perahu karet kami ditarik speedboat dengan kecepatan tinggi.  Akibat kencangnya tarikan speedboat plus tekanan di bagian bawah perahu karet (yang dilakukan sama 1 mas-mas), maka perahu karet kami seperti “terlempar” ke udara, seolah-olah melayang!!  Di dalam perahu, kami berdua cuma make baju pelampung sambil pegangan kenceng sama tali di sisi perahu, tidak ada tali pengaman apa pun!  

Saya uda pernah main jetski dan parasailing, jadi kali ini giliran Diana untuk pertama kalinya main jetski dan parasailing.  She’s VERY excited!  Seneng deh ngeliat tamu saya hepi dan puas hehehe… Sorenya kami menikmati jalan-jalan di sekitar Ubud dan ternyata Diana sukaaaaa banget bebek goreng Bengil!  Apalagi sambel tomatnya, Diana bilang enak!
Ga puas sampe situ, hari berikutnya Minggu 4 Juli kami rafting di Talaga Waja, Ubud.  Di Ubud ada 2 rute rafting yang ramai pengunjung: Sungai Ayung dan Talaga Waja di Karang Asem.  Saya uda pernah rafting di Sungai Ayung dan penasaran dengan rute SOBEK lainnya, yaitu Talaga Waja.  Rute Talaga Waja lebih panjang ketimbang Ayung, arusnya lebih deras walo sungainya tidak sedalam Ayung.  
Sepanjang perjalanan menuju garis finish, kami disuguhi pemandangan beberapa air terjun yang sangat indah.  Ada yang kecil, ada yang airnya deras.  Tapi yang paling mendebarkan, beberapa saat menuju finish, ada turunan dam sekitar 4 meter dan perahu kami “terjun” dari ujungnya!  Well, emang ga seberapa serem dibanding wahana Niagara di Dufan yang tingginya amit-amit… tapi dengan keadaan yang curam dan kondisi kami hanya di perahu karet, jantung saya sukses berdebar kencaaannng!!   Saya yang cuma rafting berdua aja berasa seru, gmana klo rame-rame yaaah?? Makin kenceng teriakannyaaa…
Hari terakhir sebelum malamnya terbang pulang ke Jakarta  Senin 5 Juli kami sempatkan ambil kelas surfing bagi pemula di pantai Kuta.  Dari awal Diana memang berminat untuk mengikuti kelas surfing, saya yang tadinya ogah-ogahan jadi semangat juga.  Abis, kapan lagi ya?  Selama ini main ke Bali beberapa kali, saya sama sekali ga terpikir untuk mencoba surfing.  Takut deh boow, mana ombaknya gede pulaak.  
2-3 hari sebelumnya saya uda iseng telpon beberapa tempat yang menyediakan kelas surfing sebelum akhirnya saya memilih Odyssey di terletak di Hotel Mercure, Kuta.  Pertimbangannya sederhana, waktunya pas, letaknya strategis dan harganya masih oke (330rb/orang untuk group 4 orang).  Waktu belajarnya 2.5 jam yang dibagi atas teori 30 min dan praktek 2 jam.  Kami sengaja memilih kelas di siang hari (pk.13.00) supaya paginya bisa bersantai-santai di Sarinande.  
Ga nyesel deh ikutan kelas di Odyssey.  Ternyata belajar surfing jadi salah satu highlight saya selama main di Bali.  Kesusahan saya nenteng papan surfing yang super gede itu (maklum pemula, belum sanggup papan yang langsing), capenya ngejer ombak dan perasaan deg-degan rasanya terbayar ketika saya sukses berdiri di atas papan surfing!! *eits, baca: walo hanya beberapa detik!!* LOL
Btw, selama kami surfing, ada staf Odyssey yang duduk beratapkan payung pantai, nongkrong nungguin kami surfing sambil berkamera SLR memotret setiap “murid” yang sedang berlatih.  Di akhir surfing, setelah selesai shower, kami bisa melihat foto-foto hasil jepretan si fotografer dan semua foto seru itu bisa ditebus dalam sekeping DVD seharga Rp. 200,000.  Diana dan saya dengan sukarela patungan untuk kumpulan foto kenangan surfing kami (apalagi buat saya, ini yang pertama, jadi mengesankan tentunyaaa) yang ternyata banyak juga… total 157 foto! (catatan: semua kualitas baik, gambarnya tajam dan resolusi tinggi)  Semua gaya kami terekam di sana, mulai dari nenteng papan surfing, berdiri di papan ala surfer pro, sampe gaya nyaris jatuh dan melayang pun terekam di sana *LOL*  
Kami pulang ke Jakarta dengan badan letih hasil setengah hari mainan surfing di Kuta.  Next time ke Bali, saya masih pengen cobain surfing😀
Jatinegara, 14 Juli 2010 – Bali lagi yuk?😀

10 thoughts on “Bali, 30 Juni – 5 Juli 2010

  1. sintuuulllllllll, seruuu ihhh (dan jadi pengen). lain kali kesana gue mau nyobain flying fish sama body board ah. mudah-mudahan masih sanggup hahaha. nice review!

  2. Hi Sinta! Baru nemu nih blog lu. Astaga….seru habis ya hidup lu….
    Gw juga demen banget sama Bali, sayangnya anak gw masih kecil2, jadi belum bisa diajak mainan yg seru2 gitu…..ntar kalo dah gedean dikit….gw pasti ajakin mereka explore Bali!!!!! Seru abis…..🙂

  3. Hai hai… ketemu blog gw di mana, jeng? :D~

    kayaknya susah yah ga suka sama Bali, secara Bali emang asik, pemandangan pantainya bagus, makanannya enak, penuh dengan seni dan keindahan. Buat orang yang biasa di Jakarta, ke Bali aja uda sangat senaaaaannng ^___^ ~ sabar aja, bentar lagi anak-anak juga cepat besar, uda bisa diajak berpetualang bersama hehehe…

    Btw hidup elo juga seru, apalagi sekarang di Oz. Pasti banyak hal menarik. Gw tunggu cerita-cerita elo dari Oz di blog yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s