[2] Lombok Trip, 9-14 September 2010

Selesai tur 3 Gili, sore itu kami siap menuju kaki Rinjani.  Sesuai jadwal, malam itu kami akan menginap di Rinjani Mountain Garden.  Ga ada dari kami yang tau lokasi persisnya, pokonya menurut peta, tempat itu ada di suatu tempat yang disebut Desa Bayan, Teres Genit.  Xenia, yuk kita mulai…

Menuju kaki Rinjani kami melewati sate ikan Tanjung yang kesohor itu.  Untung buka, jadinya sempet deh nyicip kuliner Lombok.  Sate ikannya agak mirip dengan sate ikan Bali, hanya dibakar agak basah dan lebih berbumbu.  Sedap, memang, walo sayang saya tidak sempat makan banyak.  Malam itu kami makan sekadarnya di mobil.  Kami agak bergegas malam itu supaya segera tiba di penginapan, pondokan di kaki Gunung Rinjani milik pasangan Jerman, Toni dan Roland.  Untung banget bawa GPS, kami banyak tertolong dengannya.  Sampai akhirnya GPS sendiri ga bisa nunjukin arah, kami tiba di pertigaan setelah nyasar ke Desa Sendaru, lalu puter balik, jadi kami putuskan untuk bertanya.

Semua orang yang ditanya mengenai lokasi RMG – Toni Roland, berkata, wah musti naik ojek ke sana.  Medan jalannya susah.  Ha?  Ojek?  Malam-malam begini, gelap lagi.  Saya bingung, emangnya sejauh apa ya?  *jadi inget pengalaman saya batal menginap di Sawah Sunrise, Ubud, Juli lalu*

Kami bersikeras untuk tetap menyusuri jalan gelap itu sampai akhirnya kami mengerti, kenapa semua orang menyarankan ojek.  Xenia kami terhenti ketika akhirnya kami dengan bantuan senter dan lampu dim mobil berhasil melihat pemandangan di depan dan sekitar kami: jalanan menanjak yang rusak, berbatu dengan lubang terjal di sisi kanan-kirinya.  Bersyukur banget kami ga maksain diri, karena ada jurang di sisi kanan jalanan itu.  Arief yang menyetir masih berusaha melewati jalanan yang sebenernya susah disebut jalanan karena kikisan di kanan kirinya membuatnya tidak lagi terlihat jalanan yang layak.  Xenia digas, namun tidak berhasil.  Saya agak kuatir, gmana nasib mobil sewaan ini?  Kalo kami semua naik ojek, masa ditinggal di pinggir jalan?  Kondisi yang gelap di sekitar kami membuat suasana terasa agak seram. 

Akhirnya kami menelpon Roland.  Minta petunjuk, bagaimana kami mencapai RMG.  Kami jelaskan posisi dan situasi yang kami hadapi, dan merasa sedikit lega ketika Roland berkata akan menjemput kami.

Selama menunggu, beberapa orang lalu lalang dengan motor.  Saya sempet ngerasa takut.  Dengan kondisi gelap, di tengah jalanan rusak, hutan di sisi kanan dan kiri, apa yang bisa kami lakukan?  Dalam hati saya tidak berhenti berdoa.

Secercah cahaya terlihat dari depan dan kami semua tertawa lega begitu melihat sosok ‘bule’ turun dari mobil di depan.  Ia memperkenalkan diri, “Hi, I am Christian!” Sekilas kami melihat sosok bule lainnya di balik setir Panther dan tahu, itu pasti Roland. Christian menghampiri kami dan mengambil alih Xenia kami.  Cindy, Memey dan saya pindah ke Panther-nya Roland sedangkan Arief tetap di Xenia bersama Christian.  Jalanan yang kami lewati menuju RMG ternyata masih cukup jauh, dan medannya kurang lebih sama: gelap, berliku, dan jauh dari rata.  Saya pasrah.

Saya tidak tahu persisnya apa yang terjadi, belakangan mendengar cerita dari Arief.  Mike mengambil persneling mundur, lalu mengambil ancang-ancang, menginjak gas dengan gigi 1 lalu “menghajar” jalanan rusak di depan demi bisa maju dan melewati medan yang tangguh itu.  Yang saya pikir pertama adalah: haduh, kasian banget nasib Xenia, kerjanya berat sekali malam itu…

Begitu tiba di RMG, saya benar-benar bersyukur.  Mana sangka setelah bersenang-senang di 3 Gili, malamnya kami semua mengalami sport jantung seperti ini.  Tiba di RMG membuat saya sempet bengong, ini lagi dmana ya?  Suasananya total berbeda dengan kondisi jalanan seram sebelumnya.  Lapangan rumput yang luas, pondok yang nyaman, dan cahaya temaram dari ‘dapur’ membuat saya merasa nyaman.  Saya sebenarnya di mana ya?

Roland cuma tersenyum dan berkata: wait till morning comes...

Sejenak kami luangkan waktu melihat “pondok” yang akan kami inapi malam itu, lalu segera berkumpul di meja makan.  Toni menyodorkan daftar menu dan mata kami berbinar begitu melihat apa saja yang tersedia di sana.  Saya spontan memesan goulash begitu mata saya menangkap kata itu dalam daftar.  Pikir saya, ini resto dan pondokan Jerman, yang masak juga orang Jerman, pasti enak dong.  Lalu kami bertanya mengenai menu spesial dari tempat ini dan dijawab: German smoked fish ala Toni.  Kemudian Arief menambahkan Pork Chop dalam pesanan kami.  Toni tersenyum mendengar pesanan kami yang ganas dan memberitahu bahwa porsi makanannya ngikutin porsi Jerman, alias gede.  Akhirnya kami tidak jadi memesan 4 jenis makanan, tapi 3 saja untuk dibagi 4.

Sambil menunggu, kami lanjutkan: main Monopoly Deal hahaha… *teteup*

Penantian kami menunggu Toni memasak dan perjuangan kami melewati jalanan terjal berbatu yang curam tidak sia-sia.  Makanan malam itu sukses menjadi salah satu makanan terenak yang kami makan selama di Lombok!  Malah Jeng Cindy meng-claim pesanan kami malam itu sebagai salah satu makanan Barat terenak yang dicobanya selama tahun 2010 hahaha… *lebay ga si??*

Ganasnya perut yang lapar, dinginnya udara di kaki Rinjani, plus stok emosi yang terkuras selama perjalanan membuat kami semua punya alasan relevan untuk menghabiskan apa yang tersaji.  Sekali lagi, saya melihat wajah-wajah kenyang, gembira, puas dan nyaman di sekitar saya.  Waktunya istirahat dan terus terang, saya bener-bener ga sabar menantikan pagi.  Pemandangan seperti apa yang membuat tempat ini spesial?

*akomodasi: Rinjani Mountain Garden, 1 pondok IDR 240.000 untuk 2 orang, harga bervariasi

Minggu, 12 September 2010
Saya bangun sebelum weker berbunyi.  Semalaman tidak bisa tidur nyenyak karena hari sebelumnya kelewatan ga keramas, kulit kepala terasa gatal dan tidur jadi ikutan terganggu. Biar demikian, saya tahan-tahanin demi melihat pemandangan pagi di kaki Gunung Rinjani.

Begitu bangun, saya disambut dengan pemandangan sawah hijau yang menghampar di sisi kanan, pemandangan panorama laut Lombok di kejauhan dan gunung Rinjani di belakang.  Wow, betapa jelinya Toni dan Roland yang bisa menemukan tempat ini!  Saya bener-bener kagum sama mereka, bela-belain meninggalkan Jerman dan memilih tinggal di tempat seperti ini… yang walaupun jauh dari keramaian, tapi pemandangannya sangat indah…

Setelah “lebih sadar” akan sekeliling, saya tiba-tiba merasa seperti berada dalam cerita Heidi di kaki pegunungan Alpen, Swiss.  Bedanya Heidi di kaki gunung Alpen, saya di kaki gunung Rinjani.  Bayangkan, dengan suasana pedesaan komplit dengan sawah, kuda yang ditambat, kambing yang bebas merumput, angsa yang bermain di kolam, plus anjing-anjing yang berjemur malas di lapangan rumput, dan sosok Kakek Jerman seperti Roland (berjenggot putih, gemuk dan tinggi, dan senyum ramah mengembang), gmana tidak sukses membuat saya merasa seperti Heidi?


Kami puaskan mengambil foto RMG.  Apalagi mengingat susah payahnya mencapai lokasi ini di malam sebelumnya.  Sayang, sungguh sayang, kami hanya menginap semalam.  Mustinya si karena uda susah-susah ke mari, nginapnya lamaan dikit ya… *alesan aja supaya bisa makan goulash lagi hahaha* ~ eh tapi yaa… klo next time kembali ke sini, lebih baik minta dijemput Roland aja deh di desa bawah daripada harus sport jantung lagi melewati medan jalanan kayak semalem!

Setelah sarapan, bebersih dan beberes, akhirnya kami tegakan hati untuk meninggalkan tempat ini. Bagi yang memilih hotel dengan kasur nyaman ala hotel berbintang, RMG memang bukan tempat yang tepat.  Kamar dan pondoknya sederhana, malah ada orang yang sengaja tidur di tenda. Tetapi menurut saya tempat ini termasuk nyaman dan sangat tepat untuk bersantai, untuk melepaskan stres atau sekedar menikmati pemandangan sambil selojor di kursi malas.  Omong-omong… pengalaman mandi di RMG juga menjadi pengalaman mandi yang sangat berkesan.  Air pegunungan yang dingin dan bersih terasa sangat nikmat di kulit.  Model kamar mandinya yang menurut Arief, terbilang eco-nature, membuat sinar matahari bebas menerobos ke dalam.  Saya puaskan bebersih pagi itu, mengingat susahnya air bersih di Gili Nanggu hari sebelumnya.

Kebetulan Roland akan mengantar beberapa anak muda backpacker Jerman yang menginap turun ke kota, jadi mobil kami bisa mengekor di belakangnya.  Perjalanan turun juga tidak mudah, namun karena kami melihat jalur yang diambil Roland menyetir, medannya terasa lebih mudah dilewati.  Saya berseloroh pada Arief, wah skill menyetir naik 1 level niiih!!  *background lagu Mario Bross yang berhasil melewati tantangan per level*

Di pertigaan, kami berpisah dengan Roland.  Sebelum kami ‘membelah’ lembah Sembalun nanti siang, kami sempatkan diri mampir melihat air terjun Sindang Gile yang terletak di Desa Senaru.  Untuk melihatnya, kami menuruni anak tangga selama 30 menit.  Hari itu masih terhitung hari libur sehingga ramai sekali orang lalu lalang di sepanjang tangga naik dan turun.

Air terjunnya cantik.  Sayangnya agak ramai dan suasananya cukup riuh seperti berada di tengah kebun raya.  Kami tidak berlama-lama di sana, tapi Cindy yang jeli melihat ada penjual nasi rames ala Lombok, dan membelinya 2 bungkus untuk bekal di jalan. 

Sebenarnya ada 1 lokasi air terjun lagi yang katanya juga indah, namun demi menghemat waktu (dan tenaga, secara naik turun tangga menuju air terjunnya sukes membuat dengkul kami bergetar hahaha), akhirnya kami sepakat, lihat 1 saja sudah cukup

Dari Sendang Gile, kami lanjutkan perjalanan.  Rute perjalanan hari itu adalah menuju daerah Kuta di Lombok Selatan.  Tetapi, alih-alih kembali ke Sengigi dan mengambil rute lewat Mataram, Cindy memilih untuk melewati lembah Sembalun.  Alasannya sederhana, waktu melihat peta, Cindy melihat jalanan di antara beberapa gunung.  Pikirnya, pasti pemandangannya indah, maka mari dicoba.

Indra ke-enam Cindy untuk urusan jalan-jalan memang patut diandalkan.  Ga cuma koleksi informasi yang kumplit plit (plus peta dan stensilan lokasi makan di sekitar semua lokasi yang akan kami lewati hasil riset sebulan sebelumnya!), tapi insting dan daya jelajah si Teapot Lady sangat berkontribusi dalam kesuksesan perjalanan kami.

Perjalanan ‘membelah’ Lembah Sembalun hari itu menjadi pengalaman tak terlupakan kami di Lombok.  Bukan cuma medannya yang naik turun melewati hutan dan desa, tapi pemandangan gunung di depan dan belakang mata membuat kami tidak henti-hentinya berdecak kagum. 

Saya yakin, jika mata kami bisa mengeluarkan sinar yang berbinar-binar, mata kami berempat sudah seperti Cyclops di film X-Men saking senang, kagum dan takjub melihat pemandangan indah di sekeliling kami. 


Deretan gunung-gunung hijau yang menjulang dengan ketinggian yang berbeda terlihat sangat cantik.  Udara gunung yang segar bertiup sepoi-sepoi dan kami puaskan menghirupnya sambil tetap berkonsentrasi menatap jalanan.  Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto.  Sawah-sawah yang menghampar mengingatkan kami pada konsep menggambar waktu SD dulu: 2 gunung, di tengahnya ada matahari dan dilengkapi sawah di sisi bawahnya. Haha, ternyata itu beneran ada…

Satu hal yang saya sesali hari itu, mustinya punya atau bawa kamera SLR ni… kamera digital biasa ga sanggup menangkap kecantikan alam yang ditatap dan rekam dengan mata manusia…

Dari Desa Senaru kami akhirnya tiba di Hati Suci Homestay di desa Sapit untuk makan siang, kira-kira total 70 km telah kami jalani, dan sepanjang itu… tidak ada satu pun SPBU yang kami temui.  Sepanjang jalan kami semua cuma bisa berharap, persediaan bensin kami cukup hingga kami tiba di pom bensin terdekat.  Jalanan yang sebentar menanjak sebentar turun membuat kami sulit memprediksi kondisi bensin Xenia.  Harap kami, secara Xenia irit ya, jadi mustinya ya cukup-cukup aja lah yaa…

Begitu tiba di Hati Suci, kami sempatkan beristirahat makan siang.  Ternyata begitu bertolak dari Hati Suci, perjalanan menuju Kuta terasa lebih cepat dan lancar karena kondisi jalanan yang mulus.  Di perjalanan Cindy bercerita apa yang dibacanya mengenai daerah Lombok Selatan yang secara perekonomian tidak sebaik daerah Mataram.  Kabarnya pantai daerah Kuta sangat indah namun belum digarap dengan baik dan masih banyak penduduk yang miskin karena sektor pariwisata yang belum diolah.

Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami harus mengeliminasi rencana kami mengunjungi kampung tradisional suku Sasak dan pottery tradisional Lombok.  Akhirnya di perjalanan ini kami tidak beli oleh-oleh sama sekali karena memang tidak ada kesempatan membelinya.

Malam itu kami sudah memesan kamar di Yuli’s Homestay, penginapan 3 kamar murmer dan bersih yang menurut salah satu review di Trip Advisor: amazing hospitality.  Penginapan ini dimiliki oleh pasangan Mike dan Yuli,  Mike berasal dari New Zealand dan Yuli dari Lombok. Memasuki daerah Kuta, kami bisa merasakan bahwa daerah ini masih sepi, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang padahal baru pukul 7 malam.  Berdasarkan petunjuk dari Mike lewat telepon, akhirnya kami tiba di Yuli Homestay.

Begitu tiba di Yuli’s Homestay, Mike dan Yuli menyambut kami dan langsung menunjukkan kamar kami menginap malam itu.  Benar apa yang ditulis review Trip Advisor, kamarnya bersih dan menurut saya malah luas banget.  Di sisi kanan penginapan terdapat ruangan yang dijadikan pantry dan disediakan kulkas jika ada yang membutuhkan.  Di belakang kediaman Mike dan Yuli, terdapat kolam renang persegi empat yang bersih dengan kursi malas untuk berjemur di sisi kolam.  Lalu ada gazebo di sudut belakang untuk menikmati sarapan atau sekedar membaca buku sambil leyeh-leyeh.  Wah, mereka benar-benar serius mengerjakan homestay ini!


Di Hati Suci, waktu kami cerita bahwa kami sedang menuju Kuta, kami direkomendasikan untuk menikmati makan malam di Warung Bule.  Ternyata, begitu sampai di Yuli’s Homestay, Mike juga merekomendasikan tempat yang sama.  Katanya, ikannya segar!  Kami pun makin semangat.  Makan ikan segar di Lombok, sungguh nikmat!

Sebelum pergi makan, kami sempat berdiskusi dengan Mike mengenai kondisi pantai di sekitar Kuta yang kabarnya sangat cantik. Well, that’s the reason why we are here…

Setidaknya, ada 3 pantai yang harus kami lihat sebelum kami kembali ke Mataram: Tanjung Aan, pantai Mauwun dan Selong Belanak.  Wow, memang kami ambisius hahahaha…

Tiba di Warung Bule yang lokasinya persis di seberang pantai (*sayang berhubung gelap, tidak ada pemandangan yang bisa dilihat*), kami harus mengantri sebentar.  Semua meja penuh terisi dan hanya kami wajah-wajah domestik.  Warung Bule dimiliki oleh putra Lombok yang pernah  bekerja sebagai chef di Hotel Novotel Lombok sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka restoran sendiri.

Kami memesan 4 menu ikan yang berbeda plus 1 porsi sup Tom Yam.  Memey memesan Fish Steam.  Cindy memesan ikan masak kemanggi.  Arief memesan Fish and Chips dan saya memesan ikan mahi-mahi.  Semua ikan pesanan kami datang dengan seporsi nasi putih dan sayuran rebus kecuali Arief dengan kentang goreng.  Dan setiap dari kami menghabiskan dengan gembira, rasanya pun cocok dengan selera masing-masing.  Kami mengucap syukur, perjalanan yang hari itu dilengkapi dengan makanan yang berkesan…

Sebelum tidur, saya sempat ngobrol dengan tetangga di sebelah kamar kami, pasangan turis asal UK.  Mereka akan kembali ke Denpasar minggu depan, lalu terbang ke Borneo, Kalimantan, lalu menyeberang ke Malaysia.  Sebelumnya, mereka baru saja berkunjung ke Labuan Bajo, Flores dan Pulau Komodo.  Sayangnya, mereka mengalami hal tidak menyenangkan selama di Labuan Bajo.  Menurut mereka, kotanya kotor, bau, nyamuknya ganas (*haha, selamat datang di Indonesia!*) dan orang-orangnya tidak bersahabat.  Mereka sempat tertahan belasan jam sebelum akhirnya bisa terangkut dengan kapal.  Akhirnya mereka kembali ke Lombok dengan pesawat saking tidak tahannya dengan fasilitas publik di Flores.  Ah, sayang sekali saya baru kenal mereka.  Saya jadi ingat teman saya di Labuan Bajo, Elisa Djaja Sastra.  Kalau saja saya kenal pasangan ini lebih cepat, dan mereka bisa saya perkenalkan pada Elisa, pasti mereka tidak akan mengalami hari-hari menyebalkan di Labuan Bajo.  Apalagi teman saya yang ini memang berniat untuk mengembangkan pariwisata di Labuan Bajo.  Pasti dihost dengan gembira hehehe…

Yang seru, pasangan ini telah meninggalkan UK sejak Februari lalu dan baru akan kembali Desember nanti. WOW!  *langsung mikir, kapan ya saya bisa traveling selama itu hahaha, mimpi daaah*

*akomodasi: Yuli’s Homestay, IDR 300,000,-/nett/kamar, single king-size bed

Senin, 13 September 2010
Waktu berjalan tanpa terasa, siang itu kami sudah harus menyudahi perjalanan kami bersama.  Cindy dan Memey sore itu akan terbang ke Denpasar.  Arief dan saya masih menginap semalam lagi di Sengigi dan keesokannya terbang kembali ke Jakarta.

Lampung, 24 September 2010 — *tbc…

note.  Rinjani Mountain Garden pernah direview dalam Jakarta Post –> http://www.thejakartapost.com/news/2009/04/22/call-nature.html

17 thoughts on “[2] Lombok Trip, 9-14 September 2010

  1. Nice landscape…tp kalau misoa gw pasti demennya liat pantai n island gili gili…soalnya mountain banyak di eropa. Kemarin liat TV Jerman ttg lombok n pulau komodo…mata sampai gak berkedip misoa gw liat pantai n lautnya…Banci pantai/Laut deh!
    Wah bilang Cindy kalau mau gulasch kemari aje :):)

  2. Itu yg Rinjani Mountain resort keren banget ya. Gue jadi lebih seneng nginap di tempat2 gituan, karena lebih cocok sama sekitar, daripada hotel2 yg canggih. Lebih seru aja😀

  3. duh, bener bener pengalaman yang nggak terlupakan pasti ini.Itu Rinjani… ck ck ck….
    Pas Cindy ngebuka peta lombok di Paulaner, wah, gue udah kebayang petualangan yang asiik.

  4. Wadoohh, German smoked fishnyaaa….. yummmmm😛

    Wah, laen kali hayuk Ci kita masuk ke dalem aer terjunnya setelah Sindang Gile, air terjun Tiu Kelep, yg lebih gw suka😀

  5. whoaaaaa, darah liburan menggelegak lagii :)) *senggol Sienny ah* cakep ih tempatnyaaa..
    RMG ngingetin gue sama perjalanan ke halimun eco resort dgn kondisi jalan berbatu-batu dan bertepi jurang. begitu sampai di tempat ada rasa lega, … dan lapar😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s