[3] Lombok Trip, 9-14 September 2010

Biar judulnya liburan, setiap hari kami bangun pagi-pagi.  Maklum, ambitious traveler, waktu singkat tapi tujuan kelewat banyak ~

Semalam sebelumnya, kami telah mengatur rencana.  Pagi ini kami sempatkan ke Tanjung Aan, main sebentar di sana mumpung dekat. Jadilah kami, dengan persiapan renang pagi sekadarnya, langsung menuju TKP.

Ternyata memang lokasinya tidak terlalu jauh.  Jalanannya juga masih wajar dilalui.  Saya sangat penasaran, katanya, pasir di Tanjung Aan ini sangat spesial: bentuknya besar seperti biji lada.  Dan itulah petunjuk yang paling pas untuk mengetahui apakah kami telah berada di lokasi yang tepat.  Begitu sampai di suatu pantai, kami sempat celingak-celinguk, soalnya tidak ada petunjuk tulisan sama sekali.  Namun begitu melihat pasirnya, kami tau, kami telah berada di Tanjung Aan!

Aah, cantik sekali Tanjung Aan.  Lokasinya yang masih jauh dari sentuhan keramaian membuatnya makin spesial.  Airnya bersih dan jernih, sama seperti air laut yang kami lihat di hari-hari sebelumnya.  Sepertinya, air laut Lombok hampir semuanya seperti itu ya… *kecuali Sengigi yang lebih gelap* Pasirnya memang lebih besar dari ukuran pasir biasa, namun terasa lunak.  Ketika diinjak, kedua kaki kami seperti melesak ke dalam bagaikan berada dalam pasir hisap.  Matahari pagi belum terlalu panas sehingga terasa nyaman di kulit.  Air laut yang dingin tidak sampai membuat acara berendam kami menggigil, tapi justru makin enak.  Pas deh pokonya…

Kami nikmati waktu kami di Tanjung Aan, puas-puasin ngambil foto yang banyak (*walo belakangan baru menyesal, kayaknya masih kurang banyak deeeh…*).  Lalu kami kembali ke Yuli’s Homestay.

Begitu tiba, Yuli menyambut kami dengan senyum ceria.  Ia siap menyediakan banana pancake, omelette dan jus pisang sebagai menu sarapan pagi itu.  Ssst, menurut salah satu review di Trip Advisor, banana pancake Yuli enak sekali!  Ketika kami cerita mengenai review itu, Yuli tertawa.  Katanya memang beberapa bulan lalu ada turis yang menginap, lalu dibuatkan banana pancake yang besar karena Yuli kasian melihatnya kelaparan sehabis surfing.  See, she’s very sweet, isn’t she?

Kelar mandi dan beberes, kami nikmati banana pancake dan jus pisang ala Yuli.  Bentknya biasa saja, bundar dengan adonan tidak terlalu tebal.  Atasnya dioles sirup Marple.  Rasanya enak, apalagi jus pisangnya, saya suka banget.  Kombinasi rasa yang sedap, tempat yang hommy dan menyenangkan lengkap dengan host yang ramah memang luar biasa berkesan…

Demi mengejar tujuan ambisius berikutnya sebelum Cindy dan Memey ke bandara Selaparang, kami terpaksa bergegas pergi meninggalkan Yuli’s Homestay.  Sayang ya, untuk setiap tempat nyaman yang kami singgahi, kami tidak bisa berlama-lama…

Pantai Mauwun ditempuh sekitar 20 menit dari Yuli’s Homestay.  Katanya, ini salah satu pantai terbaik di sisi selatan Lombok.  Banyak orang memilih renang dan berendam di pantai ini.  Begitu kami tiba di sana, kami melihat hamparan pantai dengan pasir putih yang masih sepi, jauh dari jamahan publik.  Sekilas ada kemiripan dengan Tanjung Aan yang kami datangi tadi pagi.  Mungkin karena dalam garis pantai yang sama, modelnya mirip-mirip ya.  Saking sepinya, beberapa turis asing dengan cueknya sunbathing tanpa busana.  Kami menikmati panorama pantai dan cakrawala yang membentang di hadapan kami. Lalu mengambil beberapa foto (*yang pasti bukan foto turis itu hehehe*) dan terpaksa segera beranjak pergi.  If we have more time to stay… *sigh*

Pantai Mauwun, kami menuju Pantai Selong Belanak.  Perjalanan menuju Selong Belanak cukup terjal dan berliku, dan kami nyaris tidak berpapasan dengan siapa pun dalam perjalanan.  Benar-benar masih sepi sekali daerah ini.  Menurut Mike, ombak di pantai Selong Belanak cocok untuk surfing, jadi kebanyakan turis ke tempat itu untuk bermain selancar.

Cindy berseloroh: dengan perjalanan pantai kita selama di Lombok, kita khatam dengan seluruh pantai di Lombok! Hahaha… masa iya sii??

Selesai dari Pantai Selong Belanak, tercapailah tujuan perjalan pantai kami hari itu.  Kami segera menuju Mataram.  Dengan napsu makan kami, setidaknya ada 2 tempat makan yang kami tuju: ayam taliwang di RM Taliwang Irama  dan sop buntut di RM Istana Rasa. 


Ayam Taliwang memang enak.  Tidak seperti ayam yang biasa kami makan, ukuran ayam per ekor-nya terbilang kecil.  Dagingnya manis dan empuk, bumbunya juga enak.  Sayang Plecing kangkungnya tidak seenak yang kami makan di Gili Nanggu.  Tahu goreng yang kami pesan tidak mengecewakan, lembut digigit dan tidak bau.  Dari Ayam Taliwang, kami pindah ke RM Istana Rasa yang ternyata tidak jauh dari Taliwang Irama.  Kami memesan seporsi sop buntut untuk dibagi berempat.  Yang penting sudah cicip, bukan?

Perut gendut dan kenyang, kami menuju bandara Selaparang.  Sungguh waktu cepat berlalu, tau-tau sudah harus berpisah dan petualangan kami berakhir.  Saya dan Arief mengantar Cindy dan Memey, lalu kami menuju Sengigi.  Malam itu kami menginap di Puri Mas, butik hotel di kawasan Mangsit, Sengigi.

Waktu check-in, kami bertemu dengan Marcel de Rijk, pemilik Puri Mas asal Belanda.  Awalnya Marcel mengira saya turis asing dan terlihat terkejut begitu saya menyebutkan asal Jakarta.  Ternyata menurut Marcel, tidak banyak turis domestik yang memilih menginap di Puri Mas.  Kebanyakan turis domestik lebih memilih tinggal di hotel yang sudah punya nama, misalnya Sheraton dan Sentosa, jarang yang memilih tinggal di Puri Mas.  Ketika saya sebutkan Trip Advisor sebagai sumber informasi saya mengenai Puri Mas, Marcel tersenyum dan mengangguk-angguk.

Saya jadi ingat, waktu menghubungi Puri Mas via telpon untuk pemesanan kamar, saya diberitahu sebelumnya bahwa setiap kamar di Puri Mas tidak dilengkapi dengan televisi.  Saya bilang tidak masalah.  Ternyata baru tau belakangan bahwa biasanya orang Indonesia membatalkan reservasi begitu tau kamar di Puri Mas tidak disediakan televisi.

Puri Mas adalah hotel kecil yang nyaman.  Kapasitasnya hanya 30 kamar dalam bentuk pondok-pondok, dan lucunya memiliki policy tidak menerima tamu anak di bawah usia 12 tahun.  Puri Mas memiliki view langsung ke pantai Sengigi dan yang jadi kesukaan saya: infinity pool dengan pemandangan langsung ke lautan lepas! Yaaay!!

Sore itu, aktivitas Arief dan saya hanyalah tidur siang.  Setelah perjalanan ambisius-nonstop beberapa hari ini, tidur siang sepertinya ide yang bagus…

Malamnya, kami makan di Cafe Alberto, restoran Italia di sisi pantai Sengigi.  Lokasinya mengingatkan saya pada deretan resto seafood di Jimbaran, Bali.  Waktu kami menunggu jemputan dari kafe, kami bertemu pasutri turis dari Canada.  Sambil menunggu jemputan kami ngobrol, dan obrolan berlanjut terus hingga di meja makan.  Kami duduk bersama dan menikmati makan malam di tepi pantai.

Yang lucu adalah ketika mobil jemputan dari Alberto tiba.  Bayangan saya, sama seperti jasa penjemputan di Bali, mobilnya berbentuk van.  Ternyata mobil yang datang seperti foto di sini.  Kami semua tertawa melihat mobil jemputan Alberto, kocak juga idenya hahahaha….

*Puri Mas Boutique Hotel, Superior Room IDR 650,000/nett/malam

Selasa, 14 September 2010
Siang ini Arief dan saya kembali ke Jakarta.  Paginya kami menikmati infinity pool lalu sarapan dengan santai.  Siangnya masih sempat mampir beli rumput laut khas Lombok sebagai oleh-oleh lalu lanjut makan siang di RM Taliwang Irama (lagi) baru ke bandara Selaparang, Mataram.

Liburan berakhir, tetapi pesona Lombok masih membekas di hati kami.  Memang, 5 malam di Lombok ternyata tidak cukup.  Jika suatu hari nanti bisa ada kesempatan kembali lagi ke Lombok, kami bertekad akan menginap lebih lama, meluangkan minimal 1 malam di Lembah Sembalun dan harus mampir ke Desa tradisional Sasak.

Saya bersyukur untuk pengalaman dan rekan perjalanan yang menyenangkan, Lombok sungguh indah.  Buat saya, pengalaman bertemu orang baik di saat yang tepat, sungguh berkat luar biasa selama liburan ini. 
Cindy dan Memey, terima kasih banyak yaa!

Lampung, 24 September 2010 — Lombok, amazingly beautiful Indonesia

11 thoughts on “[3] Lombok Trip, 9-14 September 2010

  1. Nemu di Trip Advisor, Ven. Tadinya bingung mao di mana, pengennya jangan mahal-mahal. Waktu telpon langsung ke Puri Mas, dapet deal bagus, turun sedikit dari published-rate. Jadilah dicoba😀

  2. Iya, itu kolam tempat foto ala yoga hahaha, bedanya, gw berdiri di ujung satunya. Karena ujungnya infinity, kesannya menyatu dengan air laut😀 ~ baju kuningnya dapet di Bali😀

    Fotonya masih disortir, mau gw masukin juga nanti😀

  3. Welcome bu.. wah ibu sampe buat account Multiply juga ya hahaha… mulai sekarang bisa mulai nge-blog juga dong… Ditunggu tulisannya ya buuu… dimulai dengan posting paper STTRII aja bu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s