Eat Pray Love


Rating: ★★
Category: Movies
Genre: Drama

Saya nonton episode Elizabeth Gilbert di acara Oprah jauh sebelum ada rencana filmnya. Waktu itu buku Eat Pray Love (EPL) baru saja dibahas di acara itu dan belum heboh dalam kategori bestseller seperti sekarang. Terus terang, mendengar kisahnya waktu itu saya tidak terlalu tertarik. Di telinga saya ceritanya tidak terdengar spektakular, malah saya agak sebel: nih orang pelariannya mahal juga ya bow, traveling selama itu ke 3 negara hehehe… *ini sebel ato sirik sebenernya ya?? hahaha* Beberapa pertanyaan memang langsung terbersit di kepala saya ketika mengetahui latar belakang penulisan buku itu. Misalnya, emang rumit banget ya hubungan sama suaminya sampai harus berpisah? Emang ga ada solusinya? Trus kenapa pelariannya musti makan pizza dan spageti? Emangnya ga ada cara lebih bijak untuk mengatasi kesedihan? dan beberapa pertanyaan ga bermutu lainnya *bawel dotcom*

Ketika filmnya main di bioskop, saya pun ga antusias untuk membeli tiket. Namun, saya tetep pengen tau filmnya *supaya ga usah baca bukunya lagi hihihihi* Jadi, saya beli dvdnya aja.

Setelah nonton filmnya, saya jadi mengerti bahwa kadang manusia lain (baca: saya) bisa begitu naif untuk mengerti kesedihan dan kekalutan hati orang lain. Ketika seseorang sedang suntuk, sedih dan galau, setiap orang punya caranya sendiri untuk bisa mengurangi beban hati. Eits… ga tau yah apakah karena saya nontonnya lagi hamil ato karena emang beneran bisa merasakan, tapi ada bagian-bagian dalam film itu yang sungguh menyentuh dan kena banget sama saya. Buat yang pernah bersedih dan suntuk berat (in this case: karena pisah dengan pasangan) makan enak bisa jadi pelarian (sementara) yang menyenangkan. Ga cuma hati yang terhibur, tapi perut pun kena imbasnya (*termasuk berat badan hehehe, eh tapi yah biasanya kalo lagi sedih, makan banyak juga belum tentu bikin gendut loh*). Juga bukan sekali ini saya denger traveling ke suatu tempat bisa menyegarkan hati. Sebelumnya saya pernah baca Traveling with my Brother, kisah jalan-jalan seorang laki-laki bersama adik laki-lakinya setelah tunangannya memutuskan say goodbye beberapa saat sebelum hari pernikahan. Maka dari itu saya setuju banget, kalo lagi sedih mending traveling ke tempat yang indah daripada mikir pendek buat mengakhiri hidup. Ngapain juga, uda rugi nyawa, ga bisa dapetin kesempatan besar di kemudian hari…

To be fair, setelah nonton juga saya baru ‘ngeh’ kenapa begitu banyak kritikan mengenai film ini. Tanpa muatan emosi dan spiritual yang dominan, film ini memang kurang greget. Ceritanya sudah tertebak dan alurnya juga datar. Di sinilah peran penting keberadaan Julia Roberts di sana. Honestly I need to say, Julia Roberts is the best. In my eyes, she is VERY charming. She’s not as pretty as porcelain Nicole Kidman or as sexy as Scarlett Johannson or Angelina Jolie. Yet she aged gracefully and still… charming🙂 Keputusan untuk ‘memasang’ Julia Roberts di film ini adalah keputusan yang tepat. Kalo kata saya mah, Julia Roberts yang membuat film ini menarik. Karakter Elizabeth Gilbert jadi bener-bener keliatan hidup dan menjadi tokoh yang bikin saya penasaran. Kalo ga ada mbak Julia, kayaknya EPL ga bakal semenarik itu. Matanya memancarkan sorot yang kuat dan air mukanya di setiap adegan sangat ekspresif, membuat saya jadi bisa ngebayangin kira-kira gmana perasaan hati Elizabeth Gilbert di setiap season-nya (season eat di Italia, season doa dan meditasi di India, dan season cinta di Bali, Indonesia).

eh btw… Kalo diinget-inget, karakter Julia Roberts yang kuat ini juga tampak dalam film Erin Brokovich. Tokoh Erin sukes diperanin sama si mbak ini: tangguh dan inspirasional.

Kalo saya pikir…Bener-bener beruntung ya si Elizabeth Gilbert itu, setelah bersedih-sedih ria, (mungkin) bokek setelah traveling, eh cerita putus dan healing-nya malah laku dijual, jadi bestseller dan tokoh dirinya diperankan sama Julia Roberts yang keren itu. Moral of the story: be creative when you’re down, who knows the darkest hour could be inspirational story later in the future… and makes money😀

Anyway, film ini ga jelek-jelek amat buat dikoleksi. Saya suka dengan tokoh Ketut dan Wayan di film itu. Ketut sangat kocak dan membuat saya nyengir beberapa kali, apalagi pas bilang “… see you later, alligator…” Tokoh Wayan diperankan dengan baik oleh Christine Hakim, sayang wajahnya menurut saya sih “kurang Bali” hehehe… Yah dimaklumi secara dia aslinya bukan orang Bali.

Quote from EPL:
You’re going to have to learn to select your thoughts the same way you select your clothes every day. Now that’s a power that you can cultivate. You want to come here and you want to control your life so bad work on the mind, and I don’t think you should be trying to control a thing because if you can’t master your thoughts you are in trouble forever.

Jatinegara, 19 November 2010

9 thoughts on “Eat Pray Love

  1. Gue bakal nonton film ini cuma karena yg main Julia Roberts. Bukunya sih….. dah gue hina2 dari kapan2 karena pertanyaan2 yg elo bilang di paragraph pertama :))

    BTW, si Gilbert ini dapet advance untuk jalan2. Jadi setelah dia gak jelas pisah sama suaminya, si publisher bilang, nih USD 100,000 buat advance. Ntar kalo udah kelar jalan2, tulis buku dan kita publish. Bikin marah! (karena sirik, hahahah!)

  2. wow! Enak banget yaa! Itu yah untungnya jadi writer, lagi sedih/ga mood aja bisa dimodalin buat seneng-seneng (supaya terbit buku baru lagi hasil dari 'perenungan' kesedihannya).

    Dan yang gw seneng, dia milih Bali hehehe…. hidup Bali!

  3. Hehehe, setuju sih sama point-point kenapa filmnya jelek, dan idenya biasa sebenernya. Tapi setuju juga bahwa kesedihan (or in this case, krisis diri) memang musti ada pelampiasannya, supaya kita jangan berkubang dalam kesedihan terus🙂 Salah satu bagian kenapa filmnya menarik itu krn pemandangannya indah, dan bajunya bagus-bagus😀 hehehe.

  4. Gw beli bukanya dah lama, tus baru dibaca awal tahun, bacanya lama banget ampir 9 bln krn alurnya gitu deh :p, kelarnya diburu-buru karena pengen nonton stlh baca selesai. Bener banget, daya tariknya karena JR. Gw ga gitu suka karakter Wayan, di novel lbh terperinci sih, ngga keburu diceritain di filmnya.

    Cover asli novelnya gw suka, bagus hehehe… IMHO tiga kata itu digambarkan pas banget

  5. haduuh… ini review gw: http://bit.ly/eqSEsJ kuciwa gw… bukunya sih gw gak baca😀 klo dipikir2, dr posternya aja, kayaknya udah ketahuan ini film gak artistik ye… *macem gw artistik* itu susternya kenapa kepotong coba?! mau sok asimetris tapi gak enak bener dilihatnya… *lho kok ngomel?* hahahaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s