Anak Macan, Anak Kelinci, Anak…

Salah satu asisten di kerjaan saya baru melahirkan anaknya minggu lalu dan kemarin saya menerima kabar bahwa ayah si asisten (kakek si baby) meninggal dunia kemarin sore.  Mendengar berita ini, salah seorang anggota di rumah berkomentar: wah emang tuh anak macan…

Saya terkesiap mendengarnya.  Kalo boleh diperjelas, maksudnya ‘wah emang tuh anak macan…‘ apa ya?  Dihubungkan dengan ekspresi saat komentar, saya berani taruhan, maksud yang mau disampaikan adalah… anak macan bawa sial?
Banyak orang yang masih mempercayai astologi China dengan sangat fanatik.  Salah satunya (ini yang paling banyak saya dengar) orang-orang yang berpendapat secara ekstrim bahwa anak-anak (terutama perempuan) yang dilahirkan di tahun Macan umumnya tidak membawa berkah, karakternya ga baik, sifatnya keras, dan sederetan stigma negatif lainnya.  Lalu disebutkan pula contoh orang-orang yang lahir di tahun tersebut beserta bukti yang menguatkan pendapat itu.  
Sepanjang pagi ini saya teringat komentar “wah emang tuh anak macan” dan terus terang, saya terganggu banget dengan komentar itu.  Sorry to say, to me, it is very unwise to say that.  It doesn’t make sense to me, how come death and life depend on a baby born?

Saya membayangkan kalo saya yang terlahir di tahun Macan lalu bertemu dengan orang-orang yang fanatik sebel sama mereka yang terlahir di tahun Macan.  Hidup yang udah susah, rasanya jadi lebih susah ketika bertemu mereka.  Kalo boleh nanya, emangnya saya memilih lahir di tahun apa?  Emangnya saya Tuhan yang bisa memilih mau lahir di tahun paling hoki yang mana?  That’s really unfair. 
Waktu saya baru menikah, saya sempat ditanya apakah mau langsung punya anak atau menunda.  Saya tersenyum, karena bagi beberapa penanya, saya tahu ke mana arah pembicaraan tersebut.  Tentu aja, mereka mau memberi petuah: sebaiknya hindari tahun macan… Saya menghargai pendapat itu dan memang tidak langsung berencana punya anak.  Setiap  orang punya alasan yang berbeda dan alasan saya sederhana, mau beradaptasi dulu dengan dunia yang baru: dunia pernikahan.  Biar kata masih pengantin baru yang katanya masih manis-manisnya, saya mah ngeliatnya realistis aja.  Pindah ke rumah baru, tinggal bersama in-laws, shifting job, mengenali karakter pasangan 24/7, pindah lingkungan, umm… buat saya itu uda cukup panjang daftarnya. Dan saya ga mau menambah pelajaran baru itu dengan tambahan ‘anak’ di tahun pertama.  Kids can wait.  Not because I don’t want kids, but it’s a matter of priority.  Saya camkan baik-baik pesan beberapa orang yang bisa paaaass sama (padahal mereka ga janjian loh ngomonginnya): nikmati tahun pertama pernikahan, jangan buru-buru punya anak, take time to adjust.  
Dan saya tidak menyesal melakukannya: it’s very true dan saya mendapat manfaat yang besar karena melakukannya.
Terus terang, kalo dikilik-kilik lebih dalam, saya sempet kepikiran juga soal ‘anak macan’ itu.  Saya menunda punya anak langsung, kalo mau disambung-sambungin, bisa aja ada kaitannya dengan ‘anak macan’.  Saya pikir, jika saya melahirkan anak di tahun Macan, sungguh sama sekali bukan kesalahan anak itu untuk menanggung beban seumur hidupnya jika sampai berhubungan dengan orang-orang fanatik ngeselin itu.  Yeah I know I am not God, saya ga bisa ngatur-ngatur hidup orang, apalagi jadwal kelahiran seseorang.  Tapi setidaknya, saya berusaha yang terbaik untuk anak itu — dalam kaitannya dengan lingkungan tempat saya berada.  
Saya bersyukur saya tidak dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang memberikan stigma negatif kepada seseorang berdasarkan tahun apa, jam berapa, pagi/siang/sore dia lahir.  Jadi sampe sekarang, pikiran saya masih logis-netral aja, artinya saya bisa mengerti mengapa seseorang bisa percaya hal itu, tapi saya ga hidup di dalamnya dan jelas-jelas ga mau mewarisi belief kayak itu.  Saya percaya kualitas hidup seseorang ditentukan dari karakter, pendidikan, pengetahuan dan fakta kebenaran yang diterimanya.  In my case, I definitely believe: the truth will set you free.  Now, it depends on what kind of truth you have perceived.
Sekarang saya hamil 23 minggu.  Setiap hari saya berdoa supaya saya ga cuma diberikan kekuatan untuk bisa melahirkan  normal, jalan persalinan yang lancar, tetapi saya juga berdoa supaya baby tetap sehat, punya organ-organ yang lengkap dan sempurna, dan sampai nanti waktunya saya dan baby bertemu face-to-face, I really pray that God will keep both of us safe and sound.  Saya ajak omong baby saya supaya pada waktunya nanti kami bisa bekerja sama dengan baik.  Okay ya baby? Okay? Okay?   *usap usap perut*
Kanan-kiri saya bisa komentar ini-itu, tapi seperti kata pepatah bijak berkata you can’t prevent the birds of sorrow from flying over your head, but you can prevent them from  building nests in your hair (terjemahan bebasnya: saya ga bisa mencegah burung terbang di atas kepala saya, tapi saya bisa menghindari mereka membuat sarang di kepala saya).

Dan saya cuma bisa senyum-senyum denger komentar: oh nanti anaknya lahir di tahun Kelinci ya… anak Kelinci bagus, kalo bisa lahirnya pagi, biar pas kalo pagi kan kelinci lompat-lompat… aktif gitulooh…
 ouch… ~ terserah elo dah… 
note.
Maaf jika tulisan ini tidak berkenan, it’s just my personal opinion :) 
Jatinegara, 3 Januari 2011 – Just like what it’s written: Before I shaped you in the womb, I knew all about you… 

10 thoughts on “Anak Macan, Anak Kelinci, Anak…

  1. Tergelitik untuk reply elo punya posting nih Chink…
    Kalo gue mah malah pengen kalo bisa anak2 gue punya strong character… hehehe… kalo bisa macan… kalo gak bisa yah mudah2an tar tunggu yang Naga deh… the strongest Character i supposed?🙂 I just never take the negative thinking/ side of the belief… always takes the positive side donk…🙂

  2. Baca tulisan lu ya, orang concer kl anak macan jd begini & begitu. Yg mereka lupa, mo shio macan atau apapun, tetep aiah anak bapak ibunya

    Kl bapaknya ngedidik ngaco ya anaknya ngaco jg. Kl emaknya ngedidik blangsak, ya anaknya jg blangsak

  3. strong character? Gw setuju banget. Tapi menurut gw ga perlu dihubungkan sama shio nya🙂 yang shio kelinci ato kambing ato kuda punya chance karakter sama buruknya dengan yang shio macan, ato sama baik/hebatnya sama shio naga. Gw lebih ngeliat itu dari tempaan/didikan orang tua🙂

  4. SETUJU banget! Sama seperti komen gw sebelumnya, gw juga lebih ngeliat itu semua dari tempaan/didikan orang tua *toss sama bence*

    Dan sometimes… ketika didikan orang tua/keluarga ga mempan, anak masih ada chance punya karakter baik dari orang lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s