3 minggu berlalu

Yup, 3 minggu berlalu sejak saya c-sect.  Akhirnya sempet juga untuk posting.  Banyak yang pengen diceritain, tapi sekarang waktunya uda agak susah niy… waktu sepanjang hari cepet berlalu dengan satu kegiatan yang sama: ngurus baby 

Proses c-sect berjalan dengan lancar dan baby Jonathan Reindra Muljoto lahir dengan selamat ~ hari Jumat, 22 April 2011 pk. 09.31 pagi, berat 3.16 kg dan panjang 48 cm… Praise God🙂
Kamis malam, 21 April saya check-in di RS Medistra ditemenin Arief.  Tadinya saya pengen masuk RS Jumat pagi aja, tapi setelah dipikir-pikir, daripada terburu-buru ya sebaiknya Kamis malem aja.  Setelah makan malam, mandi dan bersiap, saya dan Arief menuju RS.  Kelar urusan admin, saya memasuki kamar dan suster datang untuk melakukan beberapa pengecekan: tensi, pergerakan dan detak jantung baby.  Setelahnya saya sempetin ngemil sebelum mulai puasa pk. 12 malam lalu bersiap tidur.
Jumat pagi-pagi saya sudah bangun dan yang paling terasa menggoda pagi itu adalah: pengeeeeennn banget minum!!  Namanya juga kebiasaan ya, begitu bangun tidur langsung minum, jadi sekalinya lagi dilarang, rasanya sangat menggoda banget. Pagi itu keluarga saya dari Lampung sudah datang dan kami sempat ngobrol sebelum suster masuk pk. 8.30 untuk “menggiring” saya ke ruang operasi.  Ps. Lew dan istrinya Monica Belcourt juga menyempatkan diri untuk ketemu saya sebelum mereka ibadah Jumat Agung untuk berdoa bersama sebelum c-sect.
Jam 9 pagi, saya masuk ruangan operasi.  Sebelum operasi, dokter anestesi memberikan suntikan bius lokal  di punggung bagian bawah.  Saya diminta duduk di pinggir ranjang, dalam posisi membungkuk seperti udang sambil memeluk bantal.  Suntikannya tidak sakit dan setelahnya saya langsung berbaring.  Tim dokter (dr. kandungan, dr. anestesi dan dr. anak) sudah siap dan operasi dimulai.  Saya masih bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi tanpa merasa apa-apa.  Kayaknya setengah sadar saya denger dr. Handaya memberi instruksi pada dr. Grace (dr. anestesi) untuk mendorong kepala baby keluar dari perut bagian atas, sementara itu saya berdebar, pengen tau gmana si baby.  Waktu dr. Handaya berkata, naah… sudah keluar deeh… ~ hati saya makin berdebar: menunggu moment di mana baby menangis, tapi kok ga ada apa-apa ya.  Ternyata baby langsung dibawa ke ruangan sebelahnya, dibersihkan dan di situlah saya mendengar suara tangisan baby yang kenceng melengking.  Dalam kondisi dibius lokal itu, saya ga bisa menahan haru, air mata mengalir tanpa saya bisa tahan begitu mendengar suara tangisan baby.  Perasaan saya sulit didefinisikan, saya berdebar, bersyukur dan terharu dengan moment itu. 
Lalu baby dibawa ke sisi kiri tempat saya berbaring dan disodorkan ke sebelah wajah saya, saya cium pipinya sebelum akhirnya saya beneran celeng tidak sadarkan diri.  Sepertinya dosis obat bius ditambah karena dr. Handaya menyelesaikan “karyanya” di perut saya.
Begitu sadar, saya sudah berada di suatu ruangan bersama seorang suster (ternyata itu namanya recovery room).  Pertanyaan pertama saya: sekarang jam berapa suster?  Ooo… ternyata sekitar jam 11.  Setelah kondisi saya stabil, saya dibawa keluar ruangan dan masuk ke kamar.  Begitu keluar ruangan, saya ktemu Arief dan pertanyaan saya berikutnya: baby gmana?  Arief tersenyum lebar dan menjawab simpel: uda liat, lucuu… 

Di kamar ternyata uda nunggu beberapa temen selain keluarga yang memang standby sejak pagi.  Kondisi saya waktu itu masih agak ‘celeng’, bisa diajak ngobrol tapi rasanya masih gmanaa gitu.  Ga lama kemudian setelah kondisi saya lebih baik, baby dibawa masuk.  Itu pertama kalinya melihat baby dengan jelas: baby kecil mungil yang masih meraaaah banget… Suster RS langsung mencoba melakukan proses laktasi.  Air susu saya belum keluar deras waktu itu, hanya setetes demi setetes doang… tapi yang bikin hepi: baby dari pertama didekatkan langsung menghisap dengan semangat.  Wah ternyata baby doyan makaan  ~ suster RS yang sangat suportif terus menerus menguatkan, jangan kuatir buu… baby bisa bertahan 3 hari tanpa makan apa pun, karena dia masih punya cadangan lemak di tubuhnya.  Jangan kaget kalo beratnya sedikit turun, karena itu normal.
Dukungan suster RS dan teman-teman yang uda duluan sukses menyusui membuat saya berbesar hati.  3 malam di RS saya lewati dengan curhat dan ‘konsultasi’ ASI via bbm dengan Rossy Bendl,  teman semasa kuliah, ibu dari 4 anak yang semuanya sukses ASIX.  Di saat saya sekarang bergumul dengan menyusui, Rossy pun sedang menyusui anak ke-4 nya yang baru lahir 2 bulan sebelumnya.  Bahkan sampe hari ini, saya masih banyak nanya sama Rossy tentang banyak hal, khususnya menyusui.  She’s been veeeerrrryyy helpful and her constant encouragement makes me survive, I owe her a lot 
Hari itu, setelah c-sect selesai, saya belum boleh turun ranjang. Boro-boro turun ranjang, mo balik badan aja sakitnya minta ampun.  Yang saya baru tau, ternyata setelah proses melahirkan rahim saya mengalami kontraksi karena dalam proses mengecil.  Wah itu sakitnya minta ampun… saya merintih setiap bergerak, bahkan waktu bersin atau batuk, saya hampir nangis saking sakitnya.  Suster bilang saya harus memaksakan diri bergerak sedikit demi sedikit dalam kondisi berbaring supaya cepat pulih.  Jadi walo sakit banget, saya paksain diri saya bergerak, goler kanan goler kiri. Hari berikutnya, saya sudah bisa turun dari ranjang dan berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi.  Baru tau, gini toh rasa sakit rahim yang kontraksi mengecil… 
Senin, 25 April saya membawa pulang baby ke rumah.  Hati senang sekaligus deg-degan, gmana niy yaa di rumah…  Daan… malam pertama di rumah: very challenging.  Baby menangis terus dan malam itu dia baru lelap pk. 5.30 pagi.  Saya exhausted berat sekaligus sedih karena ASI belum lancar.  Rasanya ga tega banget ngeliat makhluk kecil ga berdaya itu nangis kelaperan, dan saya ga bisa ngapa-ngapain.  Walo gitu, saya ga mau cepet menyerah untuk bisa kasi ASIX.  Saya inget perkataan para suster di RS, selama baby masih semangat menghisap, jangan kuatir… ASI pasti ada dan baby tetap baik-baik aja.  Dan bener, pelan-pelan ASI mengalir dan sampe hari ini, saya masih bertahan walo pontang panting ngejer “stok” secara baby Nate minumnya banyaaaaaakkk banget!!  

3 minggu berlalu.  Malam-malam begadang masih berlanjut karena baby suka bangun tengah malam untuk minum susu.  Puji Tuhan, sampe hari ini stamina saya masih bertahan walo kurang tidur.  Kadang pagi-pagi badan terasa melayang plus kelaparan.  Menyusui membuat saya merasa haus melulu dan lapar gila-gilaan.  Jangan tanya soal berat badan ya hahaha… Malam sebelum c-sect, timbangan ngasi liat angka 65 dan sebelum pulang ke rumah, saya nimbang lagi: 62.  Huaaa, masa cuma kurang 3 kilo yaa??  ~ Untuk kembali ke berat badan semula, masih 10 kilo to go.  But it can wait, demi ASIX saya rela lupakan program diet 
Baby Nate yang waktu lahir beratnya 3.16 dan waktu keluar RS beratnya 2.9, setelah 3 minggu beratnya sudah 3.9 kg.  Melihatnya sehat membuat saya tersenyum, usaha saya untuk kejer-kejeran stok ASI rasanya terbayar.  
Jalan masih panjang, he’s stil sooooo young and tiny.  One day, when you read this, baby, you will know how much I love  you.

Beberapa foto ada di sini
Jatinegara, 13 Mei 2011 – happy 3 weeks old baby Nate! 

11 thoughts on “3 minggu berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s