[FAQ] Beasiswa dan sekolah bahasa di Changsha, Hunan

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis “Mengapa tidak Beijing?”.  Hingga hari ini, saya masih mendapatkan email yang isinya pertanyaan seputar sekolah bahasa dan ternyata, mereka menghubungi saya setelah membaca postingan blog itu.  Saya duga, postingan saya itu tergolong tulisan yang sering muncul jika orang google mengenai sekolah di China.  Mungkin, postingan itu termasuk yang sering muncul di google ketika orang browsing mengenai sekolah di China.

Dari beberapa email yang masuk, ada beberapa pertanyaan yang umum diajukan.  Sebenarnya, pengalaman saya waktu itu (tahun 2005-2006) sudah kurang valid bagi mereka yang perlu informasi up-to-date.  Perubahan dan kemajuan di China cepat sekali, ga cuma prasarana dan fasilitas umum tapi juga di bidang pendidikan.  Salah satu hal “baru” yang sangat baik adalah hadirnya Confucius Institute di Indonesia.  Saya baru tau soal ini setelah pulang ke Jakarta tahun 2007 ketika program mereka mulai tersosialisasikan di kampus tempat saya bekerja.

Confucius Institute (CI) adalah organisasi nirlaba yang berkantor pusat di Beijing, China, yang bertujuan untuk mempromosikan kebudayaan dan bahasa China ke seluruh dunia.  Yah kira-kira modelnya kayak British’s Council gitu deh.  Mengutip ucapan Dubes China untuk Indonesia saat pembukaan cabang CI pertama di Jakarta, CI merupakah program dari Kantor Dewan Internasional urusan bahasa Mandarin (Office of Chinese Language Council International atau biasa disebut Hanban) yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakan di seluruh dunia mengenai bahasa dan budaya China serta memfasilitasi pelajar bahasa dari berbagai negara diatur oleh organisasi yang namanya ). Di Indonesia, kerja sama pertama CI dilakukan dengan Bina Terampil Insan Persada (BTIP), salah satu tempat kursus bahasa Mandarin terkenal di Jakarta.  Sekarang sih sudah lebih dari 182 cabang CI di seluruh Indonesia.  Coba aja cek kampus masing-masing, siapa tau sudah ada kerja sama dengan CI.
Salah satu program CI adalah pemberian beasiswa S2 MTCSOL (Master  of Teaching Chinese to Speakers to Other Languages) selama 2 tahun kepada mahasiswa S-1 Indonesia.  Sebagai balasannya, mahasiswa yang lulus diwajibkan untuk mengajar selama 5 tahun.  Informasi mengenai beasiswa CI bisa dilihat di sini (note.  walaupun judulnya tahun 2010, tapi kurang lebih masih sama).
Berkaitan dengan beasiswa itu, saya beberapa kali mendapatkan beberapa email yang isinya pertanyaan macem-macem, mulai dari urusan sekolah, biaya hidup dan kondisi kota yang dituju (berhubung saya dulu sekolah di Changsha, pertanyaannya mengenai Hunan dan Changsha).  Berhubung informasi saya (dulu) kurang relevan, biasanya untuk setiap email yang masuk saya carikan referensi melalui teman yang sedang atau baru selesai sekolah di China, jadi informasinya bisa up-to-date.  Tulisan saya di bawah ini adalah rangkuman dari pertanyaan dan jawaban yang masuk berdasarkan informasi terakhir dari Withy Milka, asal Bogor. Dia adalah lulusan angkatan pertama CI di Hunan Normal University (Hunnu), Changsha.
1. Bagaimana program sekolah S-2 MTCSOL di Hunnu?
Tahun pertama adalah kuliah tatap muka, setengah tahun berikutnya dipergunakan untuk internship (mengajar, biasanya dilakukan di negara asal), dan setengah tahun berikutnya untuk menulis thesis (di China).  Setelah lulus, mahasiswa diharapkan untuk kembali ke negara asal untuk mengajar dan menjadi bagian dari CI mempromosikan bahasa dan kebudayaan China.  Tapi tidak tertutup kemungkinan bisa mengajar di negara lain karena ada lulusan yang melakukannya (lulusan dari Indonesia tetapi mengajar di Perth karena menikah dengan orang Australia).
2. Mengenai biaya hidup: apakah dengan pemberian uang saku RMB 1700 per bulannya bisa mencukup kebutuhan hidup sehari-hari?
Biaya hidup setiap orang sifatnya relatif.  Menurut Withy, selama pintar mengatur uang dan hidup sederhana, uang saku tersebut cukup, malah bisa ditabung.  Hebatnya, selama 2 tahun itu Withy tidak sekalipun mendapat kiriman uang tambahan dari orang tuanya.  Withy ‘hanya’ berbekal uang RMB 11.000 waktu datang (untuk jaga-jaga) dan masih tersisa RMB 7000 ketika pulang!  Uang tersebut dipakai Withy untuk jalan-jalan selama sekolah di sana.  Keuntungan China yang semuanya adalah daratan dan memiliki sarana transportasi yang SANGAT bagus, setiap daerah terhubung dengan kereta api.  Biaya kereta api pun sangat terjangkau, mulai dari kelas yang paling murah dan paling mahal, semua tersedia sesuai bujet masing-masing.
Untuk amannya, ga ada salahnya bawa uang saku tambahan. Buat biaya jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak, misalnya sakit dan harus dirawat.  Withy sendiri menetapkan RMB 5000 sebagai tabungan yang tidak boleh disentuh.
Intinya, setiap orang punya gaya hidup yang berbeda dan biaya hidup ini tidak bisa dipatok cukup di angka berapa.  Saya setuju dengan Withy, dengan uang RMB 2500-3000 sebulan, hidup sebagai pelajar sudah enak kok.
Btw…. selama sekolah di China, sebisanya puas-puasin traveling.  Negara ini begitu luas dan indah, banyak sekali hal yang bisa dilihat dan dipelajari.  Keindahan alamnya membuat mata sulit berkedip.  Nyesel banget deh kalo ga sempet jalan-jalan selama di China.  Mumpung gitu loh.
3. Bagaimana sistem kamar di asrama?  Berapa orang per kamar?
Jaman saya sekolah di sana dulu, belum ada asrama untuk pelajar internasional.  Semester terakhir menjelang saya pulang ke Jakarta, Hunnu baru membuka asrama dan terakhir saya main ke sana April 2010, jumlah kamar ditambah dan penampilan fisiknya lumayan bagus.  Menurut Withy, kamar bisa pilih (saya kurang jelas nih pilih maksudnya gimana, pilih lokasi atau roomate?) dan fasilitasnya juga cukup lengkap, malah nyaris seperti hotel.  Ada lemari pendingin, televisi, AC dan kamar mandi di dalam.  Mirip hotel kan😀
4. Changsha.  Kota seperti apa itu?  Apakah banyak orang Indonesia di Changsha?
Changsha adalah ibukota dari propinsi Hunan, sebuah propinsi di sentral China.  Kotanya ramai tapi untuk urusan sarana publik belum semaju Guangzhou atau Shenzhen.  Yah ibaratnya kalo di Indonesia, Changsha itu mungkin seperti Semarang: kota yang berada di tengah pulau Jawa, lumayan ramai tapi tidak seramai Surabaya.  Waktu saya dulu sekolah di Hunnu, cuma ada 2 orang Indonesia waktu itu, saya dan Maria.  Terakhir Withy cerita, minimal ada 40 orang pelajar Indonesia yang tersebar di 2 universitas besar: Hunan Normal University (Hunnu) dan Central-South University (Zhong Nan Da Xue).  Di Hunnu sendiri angkanya berkisar 18-20 orang yang terbagi di 3 program (program bahasa reguler, S1 dan S2).  Jangan kuatir tidak punya teman di Hunnu, karena banyak sekali mahasiswa internasional dari berbagai negara.  Jadi selain bisa melatih kecakapan berbahasa Mandarin, juga bisa mengasah ketrampilan berbahasa Inggris di sana.
Sekian dulu rangkuman pertanyaan dan informasi yang bisa saya bagikan.
Tambahan, informasi beasiswa sekolah di China juga bisa dibaca di sini ya.  Banyak banget pilihannya, silakan dicek mana yang paling sesuai.
Good luck!
note. Tulisan ini akan saya update jika ada informasi baru.
Jatinegara, 5 Juli 2012 – jadi kangen masa-masa sekolah dan traveling di China…

7 thoughts on “[FAQ] Beasiswa dan sekolah bahasa di Changsha, Hunan

  1. salam kenal mba, sy mau tanya, utk apply beasiswa CI yg 1year belajar mandarin harus pny sertifikat HSK brp ya? HSK 3 score diatas 180 cukup ga? kemungkinan diterimanya besar ga? thx mba..

  2. Mbk nanya d0nk. Itu lulusan yg ngajar di Perth krna menikah sm org australia gmana cara urusnya mbk? Bisa gk mbk, saya daftar dari universitas hasanudin, makassar. Tp kalo sdh slesai s2 di cina, saya mw ngajar di jawa sj? Cara ngurusnya gmana ya mbk? M0h0n infonya. Terima kasih

      • Ada itu mbk di bgian atas mbk bilang kalo “kan ada itu perjanjian yg dsuruh ngajar b.cina di negara asal stelah slesai s2. Nah trus mbk bilang ada jg lulusan ind0nesia yg ngajar b.cina di perth stelah slesai s2 karna dpt suami org australia” baca lg deh mbk. Hehe. Itu gmana ya mbk pr0sedurnya bs ngajar di tmpat lain, bkn di bekas univ nya dulu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s