Ketika anak terlambat bicara (speech delayed)

Saya masih ingat, suatu hari di bulan Februari tahun lalu, ketika saya iseng bawa Nathan cek ke dsa langganan di Hermina Jatinegara. Waktu itu saya duga dia kena ISK karena pipisnya seperti tidak nyaman, tapi saya sekalian konsultasi karena ngomongnya belum lancar.

Dsa mengajak ngobrol, menyapa dan interaksi kontak mata. Nathan keliatan baek-baek aja, tapi karena sudah menjelang 3 tahun belum mengucapkan 1 (satu) kalimat sederhana, maka dsa mendiagnosa JR telat bicara. Tandanya sederhana, begitu menginjak usia 2 tahun, salah satu milestone anak yang penting adalah mampu mengucapkan kalimat sederhana. Sedangkan JR belum bisa, kata-kata yang diucapkan juga masih separuh-separuh, ga bisa lengkap. Memang ngomong mama papa uda oke, tapi untuk kata “”minum” aja keluarnya “num”.

Dsa bilang, ada chance telat bicara itu diturunkan dari ayah, yang anehnya hal ini cuma diturunkan oleh ayah ke anak laki-laki. Kalo denger cerita di keluarga suami, suami kabarnya baru bisa ngomong lancar setelah menginjak usia 4 tahun.

Saya direkomendasikan untuk pergi ke klinik tumbang Hermina, kebetulan deket rumah juga. Di sana JR ikut terapi sensori-integrasi dan terapi bicara. Sayangnya, jadwal terapi di Hermina padat sekali, saya ga bisa dapat jadwal tetap. Jadi selalu “on-call” aja.

Saya juga sempet consult ke dsa lain di RS Medistra untuk second opinion. Menurut dsa ini, tidak ada salahnya anak ikut terapi bicara dan tidak perlu merasa malu.

Akhirnya saya putuskan panggil terapis bicara ke rumah. Dapat info dari teman, terapis yang saya panggil ke rumah cuma bisa datang 2x seminggu @1 jam per sesi. Saya merasa kurang, lalu saya panggil terapis dari AMG Clinic di Cawang. Saya temukan info mengenai AMG ini dari internet. Terapis dari AMG memberikan 2x terapi seminggu @1.5 jam per sesi.

Biaya terapi bicara di rumah umumnya 2x dari terapis di klinik. Sejauh ini saya puas dengan hasilnya. Sebulan setelah terapi, JR mengalami banyak perkembangan. Setelah 2 bulan, ia sudah mengucapkan kalimat dan kata-katanya lengkap.

Setelah Lebaran, saya stop salah satu terapis, tapi masih terapi di rumah sampai sekarang dengan terapis yang lain. Saya melanjutkan terapi dengan pertimbangan  karena dampak terapi yang baik untuk perkembangan JR.

Yang bikin saya sempet sedih, kenapa sih musti sampe panggil terapis. Kenapa selama ini diajak ngomong di rumah sama kami ortunya dan anggota keluarga, kok kata-katanya ga keluar juga. Padahal ya, sepertinya yang dipelajari waktu terapi sama aja kayak ngobrol biasa. Yet it happened to my son. Saya mikir positif aja, sekarang uda ada perkembangan baik, untung buru-buru diterapi.

Waktu anak saya menginjak usia 2 dan belum lancar ngomong, saya sebenernya uda waswas. Apalagi kalo playdate bareng anak-anak seumurnya, keliatan banget anak saya yang paling “left behind” untuk urusan bicara. Waktu itu tiap saya cerita kegalauan hati saya, orang-orang sekitar sering bilang “gapapa, nanti juga bicara… tenang aja…” untuk menenangkan hati saya. Trus pake embel-embel, suami kan ngomongnya telat juga, maklum lah anak laki-laki.

Tapi yah… namanya insting ibu, ketika hati ngerasa ada yang ga beres itu memang perlu dicermati. Ga perlu sampe parno ga jelas, tapi observasi dan second opinion sungguh penting. Saya punya langganan 3 dsa. Jadi kalo satu cuti atau jam prakteknya ga pas, ada dsa lain yang bisa disambangi. Salah satu dsa saya itu selalu bilang gpp, nanti juga bicara. Hal ini membuat saya “telat respon”. Andaikan aja, saya mendapat afirmasi lebih cepat tentang kegalauan saya itu, maka terapi bisa lebih cepat juga dilakukan.

Itu cerita tahun lalu.

Hari ini, memasuki tahun 2015, JR menunjukkan perkembangan wicara yang sangat baik dan bikin saya terharu sekaligus terheran-heran.  Ga cuma kemampuan bahasa Indonesianya yang meningkat, tapi kosa kata dan kalimat dalam bahasa Inggris juga keluar.  Padahal, sejak didiagnosa speech delayed, saya dan Arip stop ngomong bahasa Inggris sama dia. Kami fokus bicara bahasa Indonesia demi JR ngomong lancar.

Pada akhirnya saya cuma bisa keluar kesimpulan bahwa kemampuan bahasa anak beda-beda.  Jenna yang baru usia 20 bulan, sudah bisa merangkai kalimat sederhana “Mama, Na mau nonton ni” — maksudnya: Mama, Jenna mau nonton Barney.  Bayangkan perbedaannya dengan JR yang di usia itu belum keluar kalimat sama sekali.  Sesekali Jenna juga bisa mengucapkan 1 kata bahasa Indonesia beserta bahasa Inggrisnya, misalnya ikan-fish.  Jangan tanya kok bisa, saya pun heran.  Anggep aja memang kemampuan bahasa anak yang berbeda.  Mungkin juga karena anak perempuan, lebih bawel hehehe…

Bagi yang perlu info mengenai AMG Clinic, silakan kontak (021) 4440 3939.  Terus terang, waktu pertama kali ke sana, lokasi dan tampilan bangunan sama sekali ga meyakinkan.  Dari Dewi Sartika Cawang masih masuk gang kecil.  Bangunannya pun rumah biasa yang sederhana.  Tapi pelayanannya baik dan profesional, terapisnya bagus dan berpengalaman, kebanyakan lulusan UI atau UNJ atau Akademi Terapi Wicara.  Untuk yang berdomisili di daerah Cawang dan sekitarnya, selama bisa terlayani oleh AMG, saya merekomendasikan klinik ini.

 

Jatinegara, 2 Januari 2015

3 thoughts on “Ketika anak terlambat bicara (speech delayed)

  1. Dear mom Sintalusia…
    Anak pertamaku jg didiagnosa PDD-Nos speechdelayed. Bs minta kontaknya jg mom utk sharing.
    Mohon kabarin saya k no. 08114855656 (wa)
    Terima kasih byk yah mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s